POKOK BAHASAN I :
Konsep Dasar Manajemen
1). Pengertian umum manajemen ;
2). Filsafat dan Azas-azas Manajemen;
3). Manajemen dan manajer ;
A. Pengertian umum dan Pentingnya Manajemen
1. Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari kata to manage : mengatur. Jadi manajemen itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan.
• Unsur –unsur yg diatur:
Semua unsur-unsur manajemen yang terdiri dari ( 6M : money, methods, materials, mechies, men, and market)
• Tujuan pengaturan :
Agar 6M tersebut lebih berdaya guna, terintegrasi, dan terkoordinasi dalam mencapai tujuan yang optimal.
• Pihak pengatur :
Adalah pemimpin dengan wewenang kepemimpinannya melalui instruktur, sehingga 6M dan semua proses manajemen tertuju dan terarah kepada tujuan yang diinginkan.
• Cara mengaturnya:
Melaui proses dari urutan fungsi-fungsi manajemen. (Planning, organizing, directing, and controlling).
• Wadah pengaturan :
Peraturannya dapat dilakukan di dalam suatu organisasi, sebab dalam organisasi inilah tempat kerja sama, proses manajemen, pembagian kerja, koordinasi, integrasi dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan tercapai.
Menurut beberapa pakar defini manajemen:
• Drs. Malayu S.P Hasibuan
Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia (SDM) dan sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
• Andrew F. Sikula
Manajemen adalah Manajemen pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahan sehingga akan dihasilkan suatu produk / jasa secara efisien.
• G.R Terry
Manajemen adalah Suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan SDM dan sumber-sumber lainnya.
• Harold Koontz and Cyril O’Donnel
Manajemen adalah Usaha mencapai tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. (Manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan, dan pengendalian).
2. Pentingnya Manajemen
Pada dasarnya manajemen itu penting sebab:
• Pekerjaan itu berat dan sulit untuk dikerjakan sendiri. Sehingga diperlukan pembagian kerja, tugas, dan tanggung jawab dalam menyelesaikannya.
• Perusahan akan dapat berhasil, jika manajemennya yang diterapkan dengan baik.
• Manajemen yang baik akan meningkatkan daya guna dan hasil guna semua potensi yang dimiliki.
• Manajemen yang baik akan mengurangi pemborosan-pemborosan.
• Manajemen menetapkan tujuan dan usaha untuk mewujudkan dengan memanfaatkan 6M dalam proses manajemen tersebut.
• Manajemen perlu untuk kemajuan dan pertumbuhan.
• Manajemen mengakibatkan pencapaian tujuan secara teratur.
• Manajemen merupakan suatu pedoman pikiran atau tindakan.
• Manajemen selalu dibutuhkan dalam setiap kerja sama sekelompok orang.
B. Filsafat dan Azas-azas Manajemen
Filsafat manajemen adalah kerja sama saling menguntungkan, bekerja efektif dan dengan metode kerja yang baik untuk mencapai hasil yang optimal. Menurut F.W Taylor “Kumpulan pengetahuan dan kepercayan yang memberikan dasar atau basis yang luas untuk menentukan pemecahan terhadap masalah-masalah manajer”.
Para perintis ilmu manajemen:
1. Frederick Winslow Taylor (1856-1915)
Seorang sarjana teknik yang berasal dari AS dan pemimpin perusaan Bethlehem Steel Company. Ia dikenal sebagai bapak manajemen berdasarkan ilmu ( Scientific Management). Penelitian ini memusatkan pada efisiensi kerja manusia dan mesin dengan jalan meneliti gerakan-gerakan dan waktu yang diperlukan untuk memproduksi barang-barang. Pada tahun 1911 F.W Taylor menerbitkan bukunya yang pertama: The Principle of Scientific Managemen. Dalam penelitian itu dimulai dari buruh, hingga tingkat manajer ( shop level).
2. Henry Fayol (1841-1925)
Berasal dari Prancis dan bekerja pada Commantry Chambault Company (Perusahaan Tambang Batu Bara). Henry berhasil mengembangkan beberapa azas yang praktis dan sederhana yang dapat digunakan dalam pekerjan manajer (POC3: planning, organizing, coordinating, commanding, dan controlling).
Azas-azas manajemen
Azas (prinsip) adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran yang dapat dijadikan pedoman pemikiran dan tindakan. Azas-azas umum manajemen menurut:
1. Henry Fayol
• Division of work (azas pembagian kerja)
Adanya keterbatasan-keterbatasan manusia dalam mengerjakan semua pekerjan yaitu: keterbatasan waktu, keterbatasan dalam pengetahuan, kemampuan, dan keterbatasan perhatian.
• Authority and Responsibility (azas wewenang dan tanggung jawab)
Wewenang dan tanggung jawab harus seimbang, wewenang menimbulkan hak dan tanggung jawab menimbulkan kewajiban. Hak dan kewajiban menyebabkan interaksi / komunikasi antara atasan dan bawahan.
• Discipline (azas disiplin)
Adanya perjanjian, peraturan yang telah ditetapkan.
• Unity of Command (azas kesatuan pemerintah)
Setiap bawahan hanya menerima perintah dari atasan dan bertanggung jawab hanya kepada seorang atasan pula.
• Unity of Direction (azas kesatuan jurusan / arah)
• Subordination of individual interest into general interest (azas kepentingan umum di atas kepentingan pribadi)
• Renumeration of Personnel (azas pembagian gaji yang wajar)
• Centralization (azas pemusatan wewenang)
• Scalar of Chain(azas hierarki atau azas rantai berkala)
• Order (azas keteraturan)
• Equity (azas keadilan)
• Iniatif (azas inisiatif)
• Esprit de Corps (azas kesatuan)
• Stability of Turn-over personnel (azas kestabilan masa jabatan)
2. F.W Taylor
• Pengembangan metode-metode kerja yang terbaik.
• Pemilihan serta pengembangan para pekerja.
• Usaha untuk menghubungkan dan mempersatukan metode kerja yang terbaik dengan para pekerja yang terpilih dan terlatih.
• Kerja sama yang harmonis antara manajer dan non manajer.
3. Harrington Emerson
• Memberikan batasan tujuan dengan tegas.
• Pikiran yang sehat.
• Nasihat (konsultasi) yang konsekuen.
• Tata tertib.
• Penjelasan yang jujur.
• Laporan yang dapat dipercaya, segera dan memadai.
• Pengiriman (Penyaluran).
• Standarisasi dan penjadwalan.
• Keadaan yang distandarkan.
• Standar operasi.
• Pengubahan instruksi praktis yang standar.
• Penghargaan keefektifan.
C. Manajemen dan Manajer
1. Tingkatan manajemen
• Manajemen puncak ; Klasifikasi paling tinggi, (Ex: Presiden direktur, Wakil direktur, Sekretaris perusahaan, Kepala perwakilan).
• Manajer menengah ; Klasifikasi menengah, (Ex: Kepala departemen, Manajer cabang, Kepala pengawasan).
• Manajer lini pertama ; Klasifikasi atau tingkatan paling rendah, First line / first level (Ex: Mandor, Penyelia teknik, Kepala seksi).
• Non Manajerial ; Merupakan karyawan operasional, (Ex: Tenaga penjualan, Pembukuan, Karyawan).
2. Manajer-manajer fungsional dan umum
Gambar 1.1 Manajer-manajer fungsional dan umum
3. Fungsi-fungsi manajemen
Gambar 1.2 Fungsi-fungsi manajemen
4. Kegiatan-kegiatan manajer
Gambar 1.3 Kegiatan-kegiatan manajer
POKO BAHASAN II
Perkembangan Dan Teori Manajemen :
1). Sejarah Perkembangan Teori Manajemen
2). Pendekatan Sistem Dan Pendekatan Kontingensi
3). Perkembangan teori manajemen dimasa mendatang
PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN
A. Sejarah Perkembangan Teori Manajemen
Perkembangan teori manajemen terjadi sangat pesat, oleh karena itu perlu diketahui proses perkembangan teori-teori dan prinsip-prinsip manajemen. Ada tiga aliran pemikiran manajemen yang ada yaitu: 1) Aliran klasik, 2) Aliran hubungan manusiawi, dan 3) Aliran manajemen modern.
1. Aliran klasik
a. Teori manajemen klasik
Disebut zaman manajemen ilmiah (evolusi pada abad 19) yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan sesuatu pendekatan manajemen yang sistematik.
• Robert owen (1771-1858), Ia seorang manajer beberapa pabrik pemerintah kapas di New Lanark Skotlandia, menekankan pentingnya unsur manusia dalam produksi.
• Charles babbge (1792-1871), Ia seorang profesor matematika di Inggris, yang mana menganjurkan pertama kali prinsip pembagian kerja melalui spesialisasi dan juga menciptakan alat perhitungan (calkulator) mekanisme pertama, serta mengembangkan program-program pertama bagi komputer.
b. Manajemen ilmiah (1870-1930)
Aliran ini ditandai kontribusi –kontribusi dari:
• Frederick W. Taylor (1856-1915), Ia telah memberikan prinsip-prinsip dasar (filsafat) penerapan pendekatan ilmiah pada manajemen, dan mengembangkan sejumlah teknik-tekniknya untuk mencapai efisiensi. 4 prinsip dasar tersebut adalah:
1. Pengembangan metoda-metoda ilmiah dalam manajemen
2. Seleksi ilmiah untuk karyawan
3. Pendidikan dan pengembangan ilmiah karyawan
4. Kerja sama yang baik antara manajemen dengan karyawan
• Frank dan Lilian Gilberth (1861-1919), seorang pelopor pengembangan studi gerak dan waktu, menciptakan berbagai teknik manajemen yang diilhami Taylor.
• Henry L. Gantt, konstribusinya adalah penggunaan metoda grafik (bagan Gantt) untuk perencanan, koordinasi, dan pengawasan produksi. Teknik scheduling modern dikembangkan atas dasar scheduling produksi dari Gantt.
• Harrington Emerson (1853-1931), konstribusinya adalah masalah pemborosan dan ketidak efisienan. Emerson mengemukakan 12 prinsip efisien:
1. Tujuan-tujuan dirumuskan dengan jelas
2. Kegiatan yang dilakukan masuk akal
3. Adanya staf yang cakap
4. Disiplin
5. Balas jasa yang adil
6. Laporan-laporan yang terpercaya, segera, akurat, dan SI, serta akuntansi
7. Pemberian perintah perencanan
8. Adanya standar-standar dan skedul-skedul metoda waktu setiap kegiatan
9. Kondisi yang distandarkan
10. Operasi yang distandarkan
11. Instruksi-instruksi praktis tertulis yang standar
12. Balas jasa efisien
Teori organisasi, aliran ini ditandai kontribusi –kontribusi dari:
• Henri Fayol (1841-1925), Ia seorang industriallis Prancis, mengemukakan teori dan teknik-teknik admnistrasi sebagai pedoman bagi pengelolaan organisasi-organisasi yang kompleks. Dalam teori administrasinya Fayol merinci 5 unsur:
1) Perencanaan,
2) Pengorganisasian,
3) Pemberian perintah,
4) Pengkoordinasian, dan
5) Pengawasan.
• James D. Mooney, Ia seorang eksekutif general motor yang mana mendefinisikan organisasi sebagai kelompok dua atau lebih yang bergabung untuk tujuan tertentu. Menureut Mooney ada 4 kaidah dasar dalam merancang organisasi yaitu :
1) Koordinasi ; wewenang, saling melayani, dokrin/perumusan tujuan, dan disiplin
2) Prinsip skalar ; mempunyai prinsip, prospek
3) Prinsip fungsional ; macam-macam tugas
4) Prinsip staf ; kejelasan perbedaan antara staf dan lini.
• Mary Parker Follett (1868-1933), pemikiran berdasarkan kerangka klasik, tetapi memperkenalkan beberapa unsur-unsur baru tentang aspek-aspek hubungan manusiawi. Follett adalah orang yang pertama kali menerapkan psikologi pada perusahaan, industri, dan pemerintah.
• Chaster I.Barnard (1886-1961), seorang presiden Bell Telephone di New Jersey, Ia memandang organisasi sebagai sistem kegiatan yang diarahkan pada tujuan.
2. Aliran Hubungan Manusiawi (Perilaku manusia atau Neoklasik)
Aliran ini ditandai kontribusi–kontribusi dari:
• Hugo Munsterberg (1863-1916), sebagai pencetus psikologi industri / bapak spikologi industri. Ia mengemukakan 3 cara mencapai tingkat produktifitas :
1) penemuan best pssible person
2) penciptaan best pssible person
3) Penemuan best pssible person untuk memotivasi karyawan.
• Elton Mayo (1880-1949), Percobaan-percobaan Hawthorne “Hubungan manusiawi” yang mana menggambarkan cara dimana manajer berintegrasi dengan bawahannya.
• Elton Mayo dan asisten risetnya Fritz J. Roethlisberge serta William J. Dickson (1927-1932) yang mana mengadakan studi tentang perilaku manusia dalam bermacam situasi kerja : produktivitas, upah dinaikkan.
3. Aliran Manajemen Modern
Aliran ini berkembang melalui 2 jalur yaitu :
a. Perilaku organisasi (aliran hubungan manusiawi)
Prisip-prinsip dasar perilaku organisasi:
1) Manajemen tidak dapat dipandang sebagai suatu proses teknik secara ketat (peranan, prosedur, prinsip)
2) Manajemen harus sistematik, dan pendekatan yang digunakan harus dengan pertimbangan secara hati-hati
3) Organisasi sebagai suatu keseluruhan dan pendekatan manajemen individual untuk pengawasan harus sesuai dengan situasi
4) Pendekatan motivasional yang menghasilkan komitmen pekerja terhadap tujuan organisasi sangat dibutuhkan
b. Aliran Kuantitatif (atas dasar manajemen ilmiah)
Langkah-langkah pendekatan aliran kuantitatif (management science) yaitu:
1) Perumusan masalah
2) Penyusunan suatu model matematis
3) Mendapatkan penyelesaian dari model
4) Pengujian model dan hasil model yang didapatkan
5) Penetapan pengawasan atas hasil-hasil
6) Pelaksanaan hasil dalam kegiatan implementasi
B. Pendekatan Sistem Dan Pendekatan Kontingensi
1. Pendekatan Sistem
Pendekatan ini bermaksud untuk memandang organisasi sebagai suatu kesatuan, yang mana terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Sebagai suatu pendekatan manajemen, “sistem” mencangkup baik sistem-sistem umum / khusus dan analisis tertutup maupun terbuka.
Gambar 2.1 Pendekatan sistem
2. Pendekatan Kontingensi
Pendekatan kontingensi dikembangkan oleh para manajer, konsultan, dan peneliti yang mencoba untuk menerapkan konsep-konsep dari berbagai aliran manajemen dalam situasi kehidupan nyata.
C. Perkembangan teori manajemen dimasa mendatang
Ada 5 kemungkinan arah perkembangan teori manajemen selanjutnya dimasa mendatang, yaitu:
1. Dominan, salah satu dari aliran utama dapat muncul sebagai yang paling berguna.
2. Divergence, setiap aliran berkembang melalui jalurnya sendiri.
3. Convergence, aliran-aliran dapat menjadi sepaham dengan batasan-batasan di antara mereka cenderung kabur.
4. sintesa, masing-masing aliran berintegrasi.
5. Proliferation
POKOK BAHASAN I11
MANAJER DAN LINGKUNGAN EKSTERNAL ORGANISASI
1) Faktor-Faktor Lingkungan Eksternal
2) Organisasi dan Lingkungan
3) Tanggungjawab Sosial Manajer
4)
MANAJER DAN LINGKUNGAN EKSTERNAL ORGANISASI
Manajer seharusnya tidak hanya memusatkan perhatiannya pada lingkungan internal organisasi saja, tetapi juga menyadari pentignya pengaruh lingkungan eksternal terhadap organisasi yang dikelolanya. Dimana lingkungan eksternal pada saat ini sangat bergejolak. Perubahan-perubahan yang terjadi didalamnya sangat dinamis, dan kadang-kadang pengaruhnya pada manajemen tidak dapat diperkirakan terlebih dahulu.
A. Faktor-Faktor Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal terdiri atas unsur-unsur diluar organisasi, yang sebagian besar tidak dapat dikendalikan dan berpengaruh dalam pembuatan keputusan oleh manajer. Organisasi mendapatkan masukan-masukan (bahan baku, dana tenaga kerja, energi) dari lingkungan eksternal, kemudian mentranformasikan menjadi produk dan jasa, dan kemudian memberikan sebagai keluaran-keluaran kepada lingkungan eksternal.
Lingkungan eksternal mempunyai unsur-unsur :
1. Yang berpengaruh langsung (lingkungan ekstern mikro) : para pesaing, penyedia, langganan, lembaga-lembaga keuangan, pasar tenaga kerja, dan perwakilan-perwakilan pemerintah.
2. Yang berpengaruh tidak langsung (lingkungan ekstern makro) : teknologi, ekonomi, politik, dan sosial.
Lingkungan eksternal adalah semua elemen diluar suatu organisasi yang relevan untuk operasinya (elemen tidak langsung dan elemen langsung).
Elemen tidak langsung / direct-action element adalah elemen dari lingkungan yang secara langsung mempengaruhi aktivitas sebuah organisasi.
Elemen langsung/ indirect-action element adalah elemen lingkungan eksternal yang mempengaruhi iklim tempat aktivitas organisasi berlangsung, tetapi tidak langsung mempengaruhi organisasi.
Dimensi internasional
Dimensi internasional
Gambar 3.1 Lingkungan eksternal organisasi
B. Organisasi dan Lingkungan
Lingkungan ekstern mempengaruhi manajer-manajer bervariasi menurut tipe dan tujuan organisasi. Hal ini berbeda di antara posisi-posisi dan fungsi-fungsi dalam suatu organisasi dan bahkan antara tingkatan-tingkatan hirarki di dalam organisasi.
Manajer dan organisasi memberikan tanggapan terhadap lingkungan ekstern melalui:
1. Usaha mempengaruhi lingkungan ekstern mikro Manajer harus memusatkan usaha-usahanya pada aspek-aspek kunci lingkungan yang kritik bagi tujuan tertentu organisasi. Manajer dapat mempengaruhi langganan dengan periklanan. Manajer membuat hubungan kerja sama dan perundingan dengan para penyedia untuk menjamin pengadaan bahan baku yang dibutuhkan pada harga yang dapat diterima.
2. Peramalan (forecasting) dan lingkungan ekstern makro
Kelangsungan operasi perusahaan sangat tergantung pada antisipasi dan adaptasinya terhadap perkembangan lingkungan ekstern makro. Penelitian dapat dilakukan untuk memperjelas perkembangan yang dapat diperkirakan, setelah melakukan identifikasi dan seleksi sumber-sumber informasi yang relevan, perusahaan dapat melakukan peramalan situasi dan kondisi perekonomian, kemajuan teknologi, perubahan sosial, perkembangan penduduk kecenderungan iklim politik dengan sejumlah pendekatan dan teknik peramalan yang tersedia.
3. Perencanaan, perancangan organisasi dan lingkungan
Cara paling penting bagi manajer untuk menyesuaikan dengan lingkungan eksternal adalah melalui pengembangan dan impletasi rencana-rencana bagi organisasi.
C. Tanggungjawab Sosial Manajer
Ini berarti bahwa manajemen mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi di dalam pembuatan keputusannya. Manajer dituntut untuk mengimplementasikan etika berusaha, terutama dalam hubungannya dengan langganan, karyawan, penemu teknologi, lembaga-lembaga pendidikan, perusahaan-perusahaan lain, para penyedia, kreditur, pemegang saham, pemerintah dan masyarakat pada umumnya.
Ada 5 faktor yang mempengaruhi keputusan-keputusan pada masalah etika yaitu sebagai berikut:
1. Hukum
2. Peraturan-peraturan pemerintah
3. Kode etik industri dan perusahaan
4. Tekanan-tekanan sosial
5. Tegangan antara standar perorangan dan kebutuhan organisasi
BAB IV
PERENCANAAN DAN MANAJEMEN STRATEGI
A. Perencanaan ; Sebuah Tinjauan
Perencanaan (Planning) adalah proses dasar dimana manajemen memutuskan tujuan dan cara memutuskannya.
Beberapa definisi perancanaan menurut pakar sebagai berikut:
• Harold Koontz and Cyril O’donnel
Perancanaan adalah fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan memilih tujuan-tujuan, kebijakan-kebijakan, prosedur-prosedur, program-program, dari alternatif-alternatif yang ada.
• G.R Terry
Perencanaan adalah memilih dan menghubungkan fakta membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenai masa datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang di inginkan.
• Louis A. Alien
Perencanaan adalah menentukan serangkaian tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
• Billy E. Goetz
Perencanaan adalah pemilihan yang fundamental dan masalah perencanaan timbul, jika terdapat alternatif-alternatif.
• The New Webster Dictionary
Perencanaan adalah pernyataan dari segala sesuatu yang dikehendaki yang digambarkan dalam suatu pola atau peta-peta, gambar atau pernyataan dari bagian-bagiannya sesuai dengan pola tertentu.
• Drs. Malayu S.P Hasibuan
Perencanaan adalah sejumlah keputusan mengenai keinginan dan berisi pedoman pelaksanaan untuk mencapai tujuan yang diinginkan itu.
Asas-Asas perencanaan (Principle of Planning):
1. Principle of contribution to abjective
2. Principle of efficiency of planning
3. Principle of primacy of planning (asas pengutamaan perencanaan)
4. Principle of pervasiveness of planning (asas pemerataan perencanaan)
5. Principle of planning premise (asas patokan perencanaan)
6. Principle of policy frame work (asas kebijaksanaan pola kerja)
7. Principle of timming (asas waktu)
8. Principle of planning communication (asas tata hubungan perencanaan)
9. Principle of alternative (asas alternatif)
10. Principle of limiting factor (asas pembatasan faktor)
11. The commitment principle (asas keterikatan)
12. The principle of flexibility (asas fleksibilitas)
13. The principle of navigation change (asas ketetapan arah)
14. Principle of strategic planning (asas perencanaan strategis)
Empat tahap dasar perencanaan:
Gambar 4.1 Empat tahap dasar perencanaan
B. Hubungan Perencanaan dengan Fungsi-Fungsi Manajemen Lainnya
Gambar 4.2 Hubungan perencanaan dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya
C. Kriteria Penilaian Efektifitas Rencana
Gambar 4.3 Kriteria penilaian efektifitas rencana
D. Perencanaan Strategik
Perencanaan strategik adalah proses pemilihan tujuan-tujuan organisasi; penentuan strategic, kebijaksanaan dan program-program strategik yang diperlukan untuk tujuan-tujuan tersebut dan penetapan metoda-metoda yang diperlukan untuk menjamin bahwa strategi dan kebijaksanaan telah diimplementasikan.
Gambar 4.4 Proses perencanaan strategik
E. Tipe-tipe Perencanaan dan Rencana
Perencanaan dan rencana dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara yang berbeda. Cara pengklasifikasian perencanaan akan menentukan isi rencana dan bagaimana perencanaan itu dilakukan.
Ada 5 dasar pengklasifikasian rencana-rencana yaitu:
1. Bidang fungsional ; mencangkup rencana produksi, pemasaran, keuangan, dan personalia.
2. Tingkatan organisasional ; mencangkup keseluruhan organisasi atau satuan-satuan kerja organisasi.
3. Karakteristik karakteristik (sifat) rencana ; mencangkup faktor-faktor kompleksitas, fleksibilitas, keformalan, kerahasiaan, biaya, rasionalitas, kuantitatif dan kualitatif.
4. Waktu ; mencangkup rencana jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
5. Unsur-unsur rencana ; dalam wujud anggaran, program, prosedur, kebijaksanaan.
Ada 2 tipe utama rencana yaitu :
1. Rencana-rencana strategik
yang dirancang memenuhi tujuan-tujuan organisasi yang lebih luas dan mengimplementasikan misi yang memberikan alasan khas keberadaan organisasi.
2. Rencana-rencana operasional
penguraian lebih terperinci bagaimana rencana-rencana strategik akan tercapai. Dapat kita lihat ada 2 rencana-rencana operasional yaitu sebagai berikut :
• rencana sekali pakai ; dikembangkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dan tidak digunakan kembali bila telah tercapai.
• rencana tetap ; merupakan pendekatan-pendekatan standar untuk penanganan situasi-situasi yang dapat diperkirakan dan terjadi berulang-ulang.
BAB V
PENETAPAN TUJUAN ORGANISASI DALAM PEMBUATAN
SUATU KEPUTUSAN
A. Misi dan Tujuan Organisasi
Sebelum organisasi menetapkan tujuan-tujuan, terlebih dahulu harus menetapkan tujuan-tujuan, terlebih dulu harus menetapkan misi atau maksud organisasi.
Misi adalah suatu pernyataan umum dan abadi tentang maksud organisasi. Sedangkan Tujuan Organisasi adalah suatu pernyataan tentang keadaan yang diinginkan dimana organisasi bermaksud untuk merealisasikan dan sebagai pernyataan tentang keadaan di waktu yang akan datang, dimana organisasi sebagai kolektifitas mencoba untuk menimbulkannya.
Berbagai fungsi tujuan organisasi menurut waktu dan keadaan:
1. pedoman bagi kegiatan
2. sumber legitimasi
3. standar pelaksanaan
4. sumber motivasi
5. dasar rasional pengorganisasian
Tipe-tipe tujuan yaitu:
1. tujuan kemasyarakatan
2. tujuan keluaran
3. tujuan sistem
4. tujuan produk
5. tujuan turunan
B. Proses Penetapan Tujuan
Proses penetapan tujuan merupakan usaha untuk menciptakan nilai-nilai tertentu melalui berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan organisasi.
Bidang – bidang yang membutuhkan tujuan
Gambar 5.1 Bidang – bidang yang membutuhkan tujuan
Kebutuhan penyeimbangan tujuan
Lingkungan
Gambar 5.2 Kebutuhan penyeimbangan tujuan
Proses perumusan tujuan
Gambar 5.3 Proses perumusan tujuan
C. MBO
Management by objectives (MBO) Pertama kali diperkenal oleh Peter drucker dalam bukunya The Practice of Management (1954). TUGAS : Pengertian MBO, Sistem MBO Formal, Kekuatan dan kelemahan MBO, membuat MBO efektif.
D. Sifat Pembuatan Keputusan Manajerial atau Tipe-Tipe Keputusan
Masalah yang berbeda membutuhkan tipe pembuatan keputusan yang berbeda pula. Sifat pembuatan keputusan manajerial atau tipe-tipe keputusan terbagi atas 3 yaitu:
1) Keputusan terprogram ; (dibuat dalam kaitan dengan kebijakan, prosedur, peraturan) atau penyelesaian masalah rutin yang ditetapkan dengan peraturan, prosedur, atau kebiasaan.
2) Keputusan tidak terprogram ; Penyelesaian spesifik yang diciptakan lewat proses tidak terstruktur untuk menangani masalah non rutin.
3) Keputusan dengan kepastian, risiko, dan ketidakpastian.
Kepastian (kondisi pengambilan keputusan saat seorang manajer mempunyai informasi yang akurat, dapat diukur, dan dapat diandalkan tentang hasil dari berbagai alternatif yang sedang dipertimbangkan).
Risiko (kondisi pembuatan keputusan yang didalamnya manajer mengetahui probabilitas sutau alternatif tertentu akan mengarah pada sasaran atau hasil yang diinginkan). Probabilitas : pengukuran statistik tentang peluang suatu peristiwa atau suatu hasil akan keluar.
Ketidakpastian (kondisi pembuatan keputusan ketika manajer menghadapi kondisi eksternal yang tidak dapat diramalkan atau kekurangan informasi untuk menetapkan probabilitas beberapa peristiwa tertentu.
E. Proses Pembuatan Keputusan
Gambar 5.4 Proses pembuatan keputusan
F. Model Rasional Dalam Perspektif
Model rasional membangkitkan citra pembuat keputusan sebagai mesin hitung super. Ada 3 buah konsep yang muncul untuk membantu manajer menempatkan keputusan dalam perspektif yaitu:
1. Rasionalitas terbatas dan memadai
Teori ini menekankan bahwa pembuat keputusan harus menghadapi kenyataan tidak memadainya informasi mengenai sifat masalah dan penyelesaian yang mungkin, kekurangan waktu dan uang untuk mengumpulkan informasi yang lebih lengkap, ketidakmampuan untuk mengingat sejumlah informasi, dan batas-batas kecerdasan mereka sendiri. Bukannya mencari keputusan yang sempurna/ideal, tetapi manajer sering kali puas dengan yang akan memenuhi tujuan mereka/konsumen secara memadai.
2. Heuristics
Suatu metode pembuatan keputusan yang dilakukan sesuai dengan lini empiris, dengan pedoman umum, untuk mencari penyelesaian masalah atau jawabannya.
3. Memutuskan siapa yang membuat keputusan
Secara tradisional, tanggung jawab akhir untuk membuat keputusan terletak di tangan manajer. Tetapi pendekatan tidak memadai, dimana terkadang keputusan ini bisa gagal bila manajer tidak bisa mampu menyakinkan orang lain untuk melaksanakannya secara sukarela. Kadang-kadang orang lain mempunyai alasan yang tepat untuk menolak kepusan tadi; mungkin mereka menyadari bahwa ada alternatif atau faktor relevan yang belum dipertimbangkan dalam analisis semula. Jadi, cukup penting karyawan dilibatkan dalam proses pembuatan keputusan.
BAB VI
PENGORGANISASIAN DAN STRUKTUR ORGANISASI
A. Definisi Pengorganisasian
Fungsi pengorganisasian (organizing = pembagian kerja), jadi pengorganisasian adalah fungsi manajemen dan merupakan suatu proses yang dinamis, sedangkan organisasi merupakan alat atau wadah yang statis. Pengertian pengorganisasian menurut beberapa pakar sebagai berikut:
1. Drs. Malayu S.P Hasibuan “Pengorganisasian adalah proses penentuan, pengelompokan dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang dipelukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas ini, menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut”.
2. George R.Terry “Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien dan dengan demikian memperoleh keputusan pribadi dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu”.
3. Drs. Malayu S.P Hasibuan “ Organisasi adalah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu”.
4. James D. Mooney “Organisasi adalah setiap bentuk perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama”.
5. Chester I. Barnard “Organisasi adalah suatu sistem kerja sama yang terkoordinasi secara sadar dan dilakukan oleh dua orang atau lebih”.
6. Koonzt & O’Donnel “Organisasi adalah pembinaan hubungan wewenang dan dimaksudkan untuk mencapai koordinasi yang sruktural, baik secara vertikal, maupun secara horizontal di antara posisi-posisi yang telah diserahi tugas-tugas khusus yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan perusahaan”.
B. Azas-Azas Organisasi
Untuk terwujudnya suatu organisasi yang baik, efektif, efisien serta sesuai dengan kebutuhan, secara selektif harus didasarkan pada asas-asas (prinsip-prinsip) organisasi yaitu :
1. Principle of organizational objectives (asas tujuan organisasi)
2. Principle of unity of objective (asas kesatuan tujuan)
3. Principle of unity of command (asas kesatuan perintah)
4. Principle of the span of management (asas rentang kendali)
5. Principle of delegation of authority (asas pendelegasian wewenang)
6. Principle of parity of authority and responsibility (asas keseimbangan wewenang dan tanggung jawab)
7. Principle of principle of responsibility (asas tanggung jawab)
8. Principle of departementation (principle of division of work: asas pembagian kerja)
9. Principle of principle of personel placement (asas penempatan personalia)
10. Principle of scalar chain (asas jenjang berangkai)
11. Principle of efficiency (asas efisiensi)
12. Principle of continuity (asas keseimbangan)
13. Principle of coordination (asas koordinasi)
C. Struktur Organisasi
Definisi struktur organisasi menurut beberapa pakar :
1. The liang gie “struktur organisasi adalah kerangka yang mewujudkan pola tetap dari hubungan-hubungan di antara bidang-bidang kerja, maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan dan peranan masing-masing dalam kebulatan kerja sama”.
2. Drs. Malayu S.P hasibuan “struktur organisasi adalah suatu gambar yang menggambarkan type organisasi, pendepartemenan organisasi kedudukan dan jenis wewenang pejabat, bidang dan hubungan pekerjaan, garis perintah dan tanggung jawab, rentang kendali dan sistem pimpinan organisasi”.
Faktor-faktor utama yang menentukan perancangan struktur organisasi sbb:
1. Strategi organisasi untuk mencapai tujuannya. Dimana struktur mengikuti strategi, strategi akan menjelaskan bagaimana aliran wewenang dan saluran komunikasi dapat disusun di antara para manajer dan bawahan.
2. Teknologi yang digunakan. Dimana perbedaan teknologi yang digunakan untuk memproduksi barang-barang atau jasa akan membedakan bentuk struktur organisasi.
3. Anggota (karyawan) dan orang-orang yang terlibat dalam organisasi. Kemampuan dan cara berpikir para anggota, serta kebutuhan mereka untuk bekerja sama harus diperhatikan dalam merancang struktur organisasi.
4. Ukuran organisasi. Dimana besarnya organisasi secara keseluruhan maupun satuan-satuan kerjanya akan sangat mempengaruhi struktur organisasi.
D. Rentang Kendali
Kenapa rentang kendali perlu dalam suatu organisasi? Rentang kendali perlu dalam suatu organisasi, karena adanya “limits factor : keterbatasan” manusia, yaitu: keterbatasan waktu, pengetahuan, kemampuan, dan perhatian.
Rentang kendali adalah jumlah bawahan langsung yang dapat dipimpin dan dikendalikan secara efektif oleh seorang manajer.
Faktor-faktor yang membatasi besar-kecilnya rentang kendali yaitu:
1. sifat dan terincinya rencana
2. latihan-latihan dalam perusahaan
3. posisi pemimpin dalam struktur organisasi
4. dinamis atau statisnya organisasi
5. kemampuan dan kecanggihan komunikasi
6. tipe pekerjaan yang dilakukan
7. kecakapan dan pengalaman manajer
8. tingkat kewibawaan dan energi manajer
9. dedikasi dan partisipasi bawahan
E. Dasar-dasar Pendepartemen
Apa asas pendepartemenan itu? Asas pendepartemenan adalah mengelompokkan kegiatan-kegiatan yang sama dan berkaitan erat ke dalam suatu unit kerja (bagian). Dasar-dasar pendepartemenan yaitu:
1. Enterprise function (fungsi-fungsi perusahaan)
2. Management function (fungsi-fungsi manajemen)
3. Process product (proses produksi)
4. Product (dasar produk/ hasil)
5. Customer (dasar pasar/ langganan)
6. Territory (dasar wilayah/ tempat)
7. Time (dasar waktu/shift)
8. Simple number (dasar jumlah)
9. combination
10. matriks
F. Macam-macam Organisasi
Macam-macam oranisasi yaitu:
1. berdasarkan proses pembentukannya (Terbagi atas dua yaitu: (1) Organisasi formal (2) Organisasi informal).
2. berdasarkan kaitan hubungannya dengan pemerintah (Terbagi atas dua yaitu: (1) Organisasi resmi, (2) Organisasi tidak resmi).
3. berdasarkan skala (ukuran) besar kecilnya (Terbagi atas tiga yaitu: (1) Organisasi besar, (2) Organisasi sedang, (3) Organisasi kecil).
4. berdasarkan tujuannya(Terbagi atas dua yaitu: (1) Organisasi social, (2) Organisasi perusahaan).
5. berdasarkan organization chart/bagan organisasinya (Terbagi atas empat yaitu: (1) berbentuk segitiga vertikal, (2) berbentuk segitiga horizontal, (3) berbentuk lingkaran dan setengah lingkaran, (4) berbentuk bulat oval).
6. berdasarkan tipe-tipe / bentuknya (Terbagi atas lima yaitu: (1) Organisasi lini, (2) Organisasi lini dan staf, (3) Organisasi fungsional, (4) Organisasi lini, staf, dan fungsional, (5) Organisasi komite).
G. Teori Organisasi
Untuk mempelajari perkembangan organisasi dilakukan melalui pendekatan-pendekatan organisasi sbb:
1. Pendekatan klasik
Pendekatan klasik (tradisional) ini didasarkan pada “teori mesin”. Pendekatan ini memperhatikan pembagian kerja, spesialisasi dan standar dalam mendesain organisasi, sehingga organisasi yang dibentuk dapat efektif dan efisien (efisien dan efektif artinya agar unsur manajemen (6M) berdaya guna dan berhasil guna) untuk mencapai tujuan.
2. Pendekatan tingkah laku
Pendekatan tingkah laku ini menekankan pentingnya memperhitungkan aspek manusia secara utuh dalam mendesain suatu struktur organisasi. Yang menjadi bahan penelitian utama adalah “tingkah laku manusia” dalam organisasi ; penelitinya adalah para ahli psikologi, sosiologi, dan antropologi yang ingin mengetahui faktor-faktor apa yang membentuk kerja sama manusia dalam mencapai tujuan organisasi.
3. Pendekatan struktur
Peter E. Drucker (1946) seorang ahli hukum dan wartawan di Jerman dan Austria, yang mana dalam teori organisasinya mencoba menjawab pertanyaan “struktur apakah yang dibutuhkan dan bagaimanakah seharusnya struktur itu dibangun?”. Mengemukakan 3 cara untuk menemukan struktur yang membantu pencapaian tujuan yaitu:
a. analisis kegiatan
b. analisis keputusan
c. analisis hubungan
Mengemukakan tiga rancangan pembangunan struktur :
a. struktur itu diorganisasi demi prestasi perusahaan.
b. struktur itu seharusnya terdiri dari tingkatan-tingkatan manajemen yang jumlahnya sesedikit mungkin.
c. harus ada peluang untuk pendidikan, pelatihan, dan pengujian manajer puncak masa depan yaitu dengan memberikan tanggung jawab kepada manajer yang masih muda untuk menjabat suatu kedudukan yang bila terjadi kegagalan tidak membahayakan perusahaan.
4. Pendekatan sistem
Menekankan bahwa organisasi bukanlah suatu “sistem tertutup”, tetapi suatu “sistem terbuka” yang harus berinteraksi dengan lingkungan. Dalam sistem terbuka terdapat dua interaksi yaitu interaksi internal dan interaksi eksternal.
H. Reogranisasi dan Restrukturisasi Organisasi
Reorganisasi adalah penyusunan kembali suatu organisasi, baik anggaran dasar, anggaran rumah tangganya maupun strukturnya, supaya organisasi itu lebih efektif dalam mencapai tujuan. Reorganisasi dilakukan karena tuntutan internal dan eksternal. Internal yaitu tuntutan dari dalam organisasi karena semakin maju atau mundur. Eksternal yaitu tuntutan dan dorongan dari luar organisasi.
Restrukturisasi adalah perubahan struktur suatu organisasi baik secara vertikal maupun horizontal, agar lebih efektif membantu tercapainya tujuan. Restrukturisasi ini dilakukan karena struktur organisasi tidak efektif lagi, akibat adanya kemajuan atau kemunduran perusahaan.
BAB VII
WEWENANG, TANGGUNG JAWAB, DELEGASI SERTA SENTRALISASI
DAN DESENTRALISASI
A. Wewenang
1. Arti Wewenang (Authority)
Beberapa definisi wewenang menurut beberapa pakar yaitu:
a. Drs. Malayu S.P Hasibuan “wewenang adalah kekuasaan yang sah dan legal yang dimiliki seseorang untuk memerintah orang lain, berbuat atau tidak berbuat sesuatu”.
b. Louis A. Allen “wewenang adalah sejumlah kekuasaan (powers) dan hak (rights) yang didelegasikan pada suatu jabatan”.
c. G.R Terry “wewenang adalah kekuasaan resmi dan kekuasaan pejabat untuk menyuruh pihak lain, supaya bertindak dan taat kepada pihak yang memiliki wewenang itu”.
d. R.C Davis “wewenang adalah hak yang cukup yang memungkinkan seseorang dapat menyelesaikan suatu tugas kewajiban tertentu”.
e. Henry Fayol “wewenang adalah hak untuk memerintah (dalam organisasi formal) dan kekuatan (power) membuat manajer dipatuhi dan ditaati”.
Jenis-jenis wewenang (Authority) yaitu:
1. Line authority (wewenang garis) adalah kekuasaan, hak dan tanggung jawab langsung berada pada seseorang atas tercapainya tujuan. Dalam struktur organisasi disimbolkan dengan garis ( ).
2. Staff authority (wewenang staf) adalah kekuasaan dan hak “hanya” untuk memberikan data, informasi dan saran-saran saja untuk membantu lini supaya bekerja efektif dalam mencapai tujuan. Dalam struktur organisasi disimbolkan dengan garis putus-putus ( ).
3. Functional authority (wewenang fungsional) adalah kekuasaan seorang manajer adalah karena proses-proses, praktek-praktek, kebijakan-kebijakan tertentu atau soal-soal lain yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan-kegiatan oleh pegawai-pegawai lain dalam bagian-bagian lain pula. Dalam struktur organisasi disimbolkan dengan garis terputus-putus dan titik-titik ( ).
4. Personality authority (wewenang wibawa) adalah kewibawaan seseorang adalah karena kecakapan, perilaku, ketangkasan dan kemampuan, sehingga disegani oleh kawan atau lawan.
2. Sumber-Sumber Wewenang (Authority)
a. formal authority theory (Teori wewenang formal) ; wewenang yang dimiliki seseorang bersumber dari barang-barang yang dimilikinya, sebagaimana yang diatur oleh undang-undang, hukum, dan hukum adat dari lembaga tersebut.
b. Acceptance authority theory (Teori penerimaan wewenang) ; wewenang seseorang dari penerimaan, kepatuhan dan pengakuan para bawahan terhadap perintah dan kebijakan-kebijakan atas kuasa yang dipegangnya.
c. Authority of the situation (wewenang diperoleh seseorang karena situasi) ; wewenang seseorang bersumber dari situasi, dimana keadaan darurat atau kejadian-kejadian luar biasa yang mana seseorang mengambil alih kekuasaan untuk menghadapi situasi-situasi tersebut.
d. Position authority (wewenang karena posisi / jabatan dalam organisasi) ; wewenang yang diperoleh seesorang bersumber dari posisi/kedudukan superior yang dijabatnya di dalam organisasi yang bersangkutan.
e. Technical authority (wewenang teknis) ; wewenang seseorang/operator bersumber dari komputer yang dipakai untuk memproses data.
f. Yuridis authority (wewenang hukum) ; wewenang itu diperoleh seseorang karena undang-undang / hukum.
B. Tanggung jawab
Tanggung jawab (responsibility) adalah keharusan untuk melakukan semua kewajiban/tugas-tugas yang dibebankan kepadanya sebagai akibat dari wewenang yang diterima atau dimilikinya. Tanggung jawab timbul karena adanya hubungan antara atasan (delegator) dan bawahan (deleget), dimana atasan memberi sebagian wewenang / pekerjaannya kepada bawahannya untuk dikerjakan. Perusahaan selalu terkait dengan perusahaan-perusahaan lainnya yang berada dalam lingkungan sistem sosial, maka top manajer / manajer puncak suatu perusahaan khususnya harus bertanggung jawab kepada:
1. pemilik perusahaan
2. karyawan perusahaan
3. pemerintah dan konsumen
C. Delegasi Wewenang
Delegasi wewenang adalah proses dimana para manajer mengalokasikan wewenang ke bawah kepada orang-orang yang melapor kepadanya. Mengapa manajer gagal mendelegasikan? Delegasi adalah faktor kritis bagi manajemen yang efektif, tetapi manejer banyak gagal dalam delegasi, alasan-alasan tersebut antara lain:
1. Manajer merasa lebih bila mereka tetap mempertahankan hak pembuatan keputusan.
2. Manajer tidak bersedia menghadapi-menghadapi risiko bahwa bawahannya akan melaksanakan wewenangnya dengan salah atau gagal.
3. Manajer kurang mempunyai kepercayaan akan kemampuan bawahannya.
4. Manajer takut bahwa bawahan akan melaksanakan tugasnya dengan efektif sehingga posisinya sendiri terancam
Mengapa bawahan tidak menerima delegasi?
1. Delegasi berarti bawahan menerima tambahan tanggung jawab dan akuntabilitas.
2. Selalu ada perasaan bahwa bawahan akan melaksanakan wewenang barunya dengan salah dan menerima kritik.
3. Banyak bawahan kurang mempunyai kepercayaan diri dan merasa tertekan bila dilimpahi wewenang pembuatan keputusan yang lebih besar.
D. Sentralisasi Versus Desentralisasi
Desentralisasi adalah konsep dasar yang lebih luas dan berhubungan dengan seberapa jauh manajemen puncak mendelegasikan wewenang ke bawah ke divisi-divisi, cabang-cabang atau satuan-satuan organisasi tingkat lebih bawah lainnya. Sentralisasi adalah pemusatan kekuasaan dan wewenang pada tingkatan atas suatu organisasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat desentralisasi:
1. Filsafat manajemen ; banyak manajer puncak yang sangat otokratik dan menginginkan pengawasan pusat yang kuat.
2. Ukuran dan tingkat pertumbuhan organisasi ; organisasi tidak mungkin efisien bila semua wewenang pembuatan keputusan ada pada satu atau beberapa manajer puncak saja.
3. Strategi dan lingkungan organisasi ; strategi organisasi akan mempengaruhi tipe pasar, lingkungan teknologi, dan persaingan yang harus dihadapinya.
4. Penyebaran geografis organisasi ; semakin menyebar satuan-satuan organisasi secara geografis, organisasi akan cenderung melakukan desentralisasi, karena pembuatan keputusan akan lebih sesuai dengan kondisi lokal masing-masing.
5. Tersedianya peralatan pengawasan yang efektif
6. Kualitas manajer ; desentralisasi membutuhkan manajer yang berkualitas, karena mereka harus membuat keputusan sendiri.
7. Keanekaragaman produk dan jasa ; semakin beranekaragam produk/jasa yang ditawarkan, organisasi cenderung melakukan desentralisasi.
8. Karakteristik-karakteristik organisasi lainnya ; biaya dan risiko yang berhubungan dengan pembuatan keputusan, pertumbuhan organisasi, kemampuan manajemen bawah.
BAB VIII
KOORDINASI MANAJEMEN
A. Arti dan Pentingnya Koordinasi Manajemen
Beberapa definisi koordinasi menurut beberapa pakar sebagai berikut:
1. Koordinasi secara umum adalah suatu kegiatan mengarahkan, mengintegrasikan dan mengkoordinasikan unsur-unsur manajemen (6M) dan pekerjaan-pekerjaan para bawahan dalam mencapai tujuan organisasi.
2. E.F.L Brech “ mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan pekerjaan yang cocok kepada masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu dilaksanakan dengan keselarasan yang semestinya di antara para anggota itu sendiri”.
3. G.R Terry “suatu usaha yang sinkron dan teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis pada sasaran yang telah ditentukan”.
Kenapa koordinasi sangat penting?
1. Untuk mencegah terjadinya kekacauan, percecokan, dan kekosongan pekerjaan.
2. Agar orang-orang dan pekerjaannya diselaraskan serta diarahkan untuk pencapaian tujuan.
3. Supaya semua tugas/kegiatan terintegrasi kepada sasaran yang diinginkan.
B. Syarat-syarat Koordinasi
1. Sense of cooperation (perasaan untuk bekerja sama), ini harus dilihat dari sudut bagian per bagian bidang pekerjaan, bukan orang per orang.
2. Rivalry, dalam perusahaan-perusahaan besar sering diadakan persaingan antara bagian-bagian, agar bagian-bagian ini berlomba-lomba untuk mencapai tujuan.
3. Team spirit, artinya satu sama lain pada setiap bagian harus harga menghargai.
4. Esprit de corps, artinya bagian-bagian yang diikutsertakan atau dihargai, umumnya akan menambah kegiatan yang bersemangat.
C. Mekanisme-mekanisme Pengkoordinasian Dasar
1. Hirarki manajerial ; Rantai perintah, aliran informasi dan kerja, wewenang formal, hubungan tanggung jawab dan akuntabilitas yang jelas dapat menumbuhkan integrasi bila dirumuskan secara jelas serta dilaksanakan dengan pengarahan yang tepat.
2. Aturan dan prosedur ; Aturan-aturan dan prosedur-prosedur adalah keputusan-keputusan manajerial yang dibuat untuk menangani kejadian-kejadian rutin, sehingga dapat juga menjadi peralatan yang efisien untuk koordinasi dan pengawasan rutin.
3. Rencana dan penetapan tujuan ; Pengembangan rencana dan tujuan dapat digunakan untuk pengkoordinasian melalui pengarahan seluruh satuan organisasi terhadap sasaran-sasaran yang sama.
D. Meningkatkan Koordinasi Potensial
1. Sistem informasi vertikal ; yaitu peralatan melalui mana data disalurkan melewati tingkatan-tingkatan organisasi.
2. Hubungan-hubungan lateral (horizontal) ; ada beberapa hubungan lateral yang dapat dirinci, sbb:
• Kontak langsung, antara individu-individu yang dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja.
• Peranan perhubungan, yang menangani komunikasi antara departemen sehingga mengurangi panjangnya saluran komunikasi.
• Panitia dan satuan tugas, panitia biasanya diorganisasi secara formal dengan pertemuan yang dijadwalkan teratur.
• Pengintegrasian peranan-peranan, yang dilakukan oleh manajer produk/proyek, perlu diciptakan bila suatu produk/jasa khusus memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi dan perhatian yang terus menerus dari seseorang.
• Peranan perhubungan manajerial, yang mempunyai kekuasaan menyetujui perumusan anggaran oleh satuan-satuan yang diintegrasikan dan implementasinya.
• Organisasi matriks
E. Pengurangan Kebutuhan Akan Koordinasi
1. Penciptaan sumber daya – sumber daya tambahan ; dimana memberikan kelonggaran bagi satuan-satuan kerja. Penambahan tenaga kerja, bahan baku atau waktu, tugas diperingan dan masalah-masalah yang timbul berkurang.
2. Penciptaan tugas-tugas yang dapat berdiri sendiri ; dimana teknik ini mengurangi kebutuhan koordinasi dengan mengubah karakter satuan-satuan organisasi.
F. Penentuan Mekanisme Koordinasi Yang Tepat
Pertimbangan penting dalam penentuan pendekatan yang paling baik untuk koordinasi adalah menyesuaikan kapasitas organisasi untuk koordinasi dengan kebutuhan koordinasi. Dapat dilihat dari berapa banyak informasi yang dibutuhkan organisasi untuk melaksanakan operasi-operasinya ? Berapa besar kemampuan pemrosesan informasi?.
BAB IX
PERSONALIA, MOTIVASI, DAN KOMUNIKASI
A. Penyusunan Personalia Organisasi
Sumber daya yang terpenting suatu organisasi adalah SDM / orang-orang yang memberikan tenaga, bakat, kreativitas, dan usaha mereka kepada organisasi. Penyusunan personalia adalah fungsi manajemen yang berkenaan dengan penarikan, penempatan, pemberian latihan, dan pengembangan anggota-anggota organisasi.
Ada tiga perencanaan personalia :
1. Penentuan jabatan-jabatan yang harus diisi, kemampuan yang dibutuhkan karyawan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, dan berapa jumlah karyawan yang dibutuhkan.
2. Pemahaman pasar tenaga kerja dimana karyawan potensial ada.
3. Pertimbangan kondisi permintaan dan penawaran karyawan.
Proses penyusunan personalia
Gambar 9.1 Proses penyusunan personalia
B. Motivasi
Motivasi berasal dari kata latin “Mavere : Dorongan / daya penggerak”. Beberapa defnisi motivasi menurut para pakar:
1. Drs. Malayu S.P Hasibuan “Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan”.
2. Harold Koontz “ Motivasi merupakan pemacu pada dorongan dan usaha untuk memuaskan kebutuhan atau suatu tujuan”.
3. Wayne F. Cascio “ Motivasi adalah suatu kekuatan yang dihasilkan dari keinginan seseorang untuk memuaskan kebutuhannya”.
Teori-teori motivasi:
1. Teori-teori petunjuk (prescriptive theories), dimana mengemukakan bagaimana memotivasi karyawan. Teori-teori ini berdasarkan pengalaman coba-coba.
2. Teori-teori isi (content theories) atau disebut juga dengan teori kepuasan / teori kebutuhan (need theories), dimana berkenaan dengan pertanyaan apa penyebab-penyebab perilaku. Teori-teori yang termasuk kategori teori-teori ini yaitu: 1) hirarki kebutuhan dfari psikologi, 2) Frederick herzberg dengan teori motivasi – pemeliharaan atau motivasi higienis, 3) teori prestasi dari penulis dan peneliti david Mc.Mlelland.
3. Teori-teori proses (process theories), dimana berkenaan dengan bagaimana perilaku dimulai dan dilaksanakan dari motivasi. Teori-teori yang termasuk kategori teori-teori ini yaitu: 1) Teori pengharapan, 2) Pembentukan perilaku, 3) Teori porter-lawler, 4) Teori keadilan.
C. Komunikasi
Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan atau informasi dari seseorang ke orang lain.
1. Proses komunikasi
Gambar 9.2 Proses Komunikasi
2. Saluran komunikasi dalam organisasi
Gambar 9.3 Saluran komunikasi dalam organisasi
3. Peningkatan efektifitas komunikasi
Berbagai penyebab timbulnya masalah-masalah komunikasi dan betapa sulitnya mencapai komunikasi efektif. Ada beberapa cara yang mana manajer dapat meningkatkan efektivitas komunikasi yaitu:
• Kesadaran akan kebutuhan komunikasi efektif
Manajer harus memainkan peranan penting dalam proses komunikasi, dimana dengan cara ini manajer dapat mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan efektivitas komunikasi. Pentingnya komunikasi menyebabkan banyaknya perusahaan menggunakan para “ahli komunikasi”, dimana para spesialis komunikasi ini membantu penyelia memecahkan masalah-masalah komunikasi internal.
• Penggunaan umpan-balik
Peralatan penting pengembangan komunikasi lainnya adalah penggunaan umpan balik berita-berita yang dikirim. Ex: setelah memberikan penugasan suatu pekerjaan manajer dapat bertanya, “apakah saudara mengerti?, atau Apakah saudara punya pertanyaan?”.
• Menjadi komunikator yang lebih efektif
Teknik-teknik komunikasi yang jelek mengganggu banyak manajer, seperti halnya mengganggu hubungan mereka dengan para bawahannya diluar pekerjaan. Oleh karena diperlukan latihan-latihan dalam penulisan dan penyampaian berita secara lisan perlu dilakukan untuk meningkatkan pemahaman akan simbol-simbol, penggunaan bahasa, pengutaraan yang tepat.
BAB X
KEPEMIMPINAN
A. Pengertian dan Tugas pemimpin
Kepemimpinan adalah kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang-orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran.
Drs. H. Malayu S.P Hasibuan kepemimpinan adalah suatu seni seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan, agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi.
Harold koontz & cyrill O’donnel kepemimpinan adalah suatu seni membujuk bawahannya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya dengan semangat keyakinan.
Siapa yang disebut pemimpin? “Manajer/kepala/ketua/direktur/presiden dsb”. Beberapa definisi pemimpin :
1. Drs. Malayu S.P Hasibuan “Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan”
2. Davis and Filley “Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin”
3. Robert Tanembaum “Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk menggorganisasi, mengarahkan dan mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan organisasi”
Manajer merupakan sumber aktivitas dan mereka harus merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan dan mengendalikan semua kegiatan, agar tujuan tercapai. Manajer harus memberikan arah kepada perusahaan yang dipimpinnya. Manajer harus memikirkan secara tuntas misi perusahaan itu, menetapkan sasaran-sasaran, strategi dan menggorganisir sumber-sumber daya untuk tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
B. Teori-teori Kepemimpinan
Ada dua teori kepemimpinan yaitu:
1. Teori sifat (The traitist theory of leadership)
Teori ini mengemukakan bahwa untuk menentukan sifat-sifat kepemimpinan yang baik, perlu diteliti secara induktif, mengamati mereka yang diakui sebagai pemimpin yang berhasil dan menyebutkan sifat-sifat yang dimilikinya masing-masing.
Para ahli manajemen yang menganut teori sifat ini antara lain :
a. E.E Ghizeli: 1) kecerdasan, 2) kemampuan mengendalikan, 3) inisiatif, 4) ketenangan diri, 5) Kepribadian.
b. Thomas W. Harrell : 1) kemauan keras, 2) tingkah laku yang ditentukan sifat lahiriah, 3) keinginan kekuasaan, 4) keinginan prestasi.
c. Keith Davis : 1) kecakapan, 2) kematangan dan luwes pergaulan, 3) motivasi dan rangsangan prestasi, 4) sikap hubungan manusiawi
2. Teori kepemimpinan situasional
Teori ini kepemimpinan dipengaruhi oleh keadaan pemimpinan, pengikut, organisasi dan lingkungan sosial (ekonomi, kebudayaan, agama, moral, dan politik). Keberhasilan seorang pemimpin juga dipengaruhi oleh situasi artinya adalah seorang pemimpin yang berhasil baik dalam keadaan normal, tetapi pemimpin lainnya hanya akan berhasil dalam keadaan kritis.
C. Pendekatan Tentang Manajer
1. Pendekatan tingkatan dan tugas-tugas manajer
Tingkatan-tingkatan manajer dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu; Top manager, Middle manger, Lower manager.
Tugas-tugas manajer meliputi:
1) Managerial cycle / pengambilan keputusan, perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, penelitian, dan pelaporan.
2) Memotivasi
3) Manajer harus berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan para bawahannya, supaya loyalitas dan partisipasinya meningkat.
4) Manajer harus membenahi fungsi-fungsi fundamental manajemen secara baik.
2. Pendekatan luas pekerjaan manajer
Luas pekerjaan manajer meliputi masalah internal dan eksternal. Masalah internal perusahaan harus dibenahi dengan baik, supaya semua potensi perusahaan lebih berdaya guna dan berhasil dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Masalah eksternal perusahaan harus diamati dan diimplementasikan mengenai kondisi-kondisi yang mendukung dan menghambat tercapainya tujuan perusahaan, seperti tingkat pesaing, peraturan pemerintah, situasi perekonomian nasional dan internasional.
3. Pendekatan sifat kerja manajer
Kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan pikiran yang dilakukan seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Sifat kerja manajer dibedakan atas “kerja fisik dan kerja pikir”.
P
O
A
C
B
TM : Top Manager
M
S
T
S
MM : Middle Manager
LM : Lower Manager
A
Keterangan:
P : Planning / perencanaan
O : Organizing / pengorganisasian
A : Actuating / pengarahan
C : Controlling / pengendalian
MS : Managerial skill / kemampuan memimpin, konseptual
TS : Techncial skill / kemampuan mengerjakan dan mengajarkannya
AB : Garis pemisah antar MS dan TS
Hasil :
1) TM luas tugasnya PO > AC, sifat kerjanya dimana kerja pikir lebih besar dari kerja fisik ( MS > TS).
2) MM luas tugasnya PO = AC, sifat kerja-kerja fisik = kerja pikir (MS = TS).
3) LM luas tugasnya AC > PO, sifatnya kerja fisik lebih banyak dari pada kerja pikir (TS > MS).
4. Pendekatan sifat-sifat seseorang manajer
Sifat-sifat manajer yang akan berhasil dalam tugasnya yaitu:
a. Cara deduktif
Menurut cara ini, sifat-sifat dan ciri-ciri manajer ditentukan berdasarkan hasil analisis jabatan, karena dengan analisis jabatan akan diketahui tugas-tugas dan tanggung jawab serta kualifikasi-kualifikasi dari manajer yang akan menjabat jabatan tersebut.
b. Cara induktif
Menurut cara ini, sifat-sifat dan ciri-ciri manajer ditentukan berdasarkan dengan mencari sifat dan ciri-ciri khusus sejumlah manajer yang sukses. Sifat dan ciri-ciri khusus sejumlah manajer yang sukses inilah yang kemudian dijadikan sifat dan ciri-ciri bagi seorang manajer.
Cara atau gaya-gaya keemimpinan yang dilakukan seorang pemimpin dalam mempengaruhi para bawahannya tidak sama. Hal ini disebabkan latar belakang dari pemimpin, organisasi, pengikut, dan lingkungan.
Gaya-gaya kepemimpinan menurut Drs. S.P Hasibuan adalah:
1. Kepemimpinan otoriter yaitu jika seorang pemimpin menganggap dirinya yang paling berkuasa, paling pintar dan mampu. Pengarahan bawahan dilakukan dengan cara instruksi / perintah.
2. Kepemimpinan partisipatif yaitu pemimpin menciptakan kerja sama yang serasi, menumbuhkan loyalitas dan partisipasi bawahannya.
3. Kepemimpinan delegatif yaitu pemimpin mendelegasikan wewenang kepada bawahannya dengan agak lengkap, sehingga bawahan itu dapat mengambil keputusan dan kebijakan-kebijakan dengan agak bebas atau leluasa dalam melaksanakan tugas.
BAB XI
PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN ORGANISASI
A. Kekuatan-kekuatan penyebab perubahan
Banyak faktor yang mempengaruhi organisasi, baik internal maupun dari eksternal.
Kekuatan-kekuatan perubahan eksternal Kekuatan-kekuatan perubahan internal
Kebudayaan Pendidikan Sosial
Kegiatan-kegiatan
karyawan
Organisasi Tujuan Organisasi Strategi
Kebijaksanaan
Teknologi
Politik Teknologi Ekonomi
Gambar 11.1 Kekuatan-kekuatan penyebab perubahan
B. Proses Pengelolaan Perubahan
Proses pengelolaan perubahan harus mencangkup dua gagasan dasar bila perubahan mengarah pada efektifitas organisasi :
1) Tekanan dan desakan : proses ini mulai ketika manajer puncak merasakan adanya kebutuhan atau tekanan akan perubahan. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai masalah seperti penurunan penjualan, penurunan produktifitas, tingginya perputaran tenaga kerja.
2) Intervensi dan reorientansi : konsultan / pengantar perubahan dari luar sering digunakan untuk merumuskan masalah dan memulai proses dengan membuat para anggota organisasi untuk memusatkan perhatiaanya pada masalah tersebut.
3) Diagnosa dan pengenalan masalah : Informasi dikumpulkan dan dianalisa oleh pengantar perubahan dan manajemen.
4) Penemuan dan komitmen pada penyelesaian : Pengantar perubahan hendaknya merangsang pemikiran dan mencoba untuk menghindari penggunaan “metoda-metoda lama yang sama”.
5) Percobaan dan pencarian hasil-hasil : Penyelesaian-penyelesaian biasanya diuji dalam program-program percobaan berskala kecil dan hasil-hasilnya dianalisa.
6) Penguatan dan penerimaan : Bila serangkaian kegiatan telah teruji dan sesuai dengan keinganan, harus diterima secara sukarela.
C. Pendekatan Perubahan Organisasi
Bila manajemen merencanakan suatu perubahan, maka harus memutuskan unsur-unsur apa dalam organisasi yang akan diubah.
Menurut Harold J.Leavitt menyatakan bahwa organisasi dapat diubah melalui :
1) Pengubahan struktur : menyangkut modifikasi dan pengaturan kembali berbagai sistem internal seperti hubungan-hubungan tanggung jawab wewenang, sistem komunikasi, aliran kerja, ukuran dan komposisi kelompok kerja.
2) Teknologi : pengubahan atau modifikasi faktor-faktor seperti peralatan, proses teknik. Teknik-teknik riset, sistem produksi yang menyangkut layout, metoda-metoda dan prosedur.
3) Orang-orangnya : mengcangkup perubahan a) kebijaksanaan dan prosedur penarikan dan seleksi, b) kegiatan-kegiatan latihan dan pengembangan, c) sistem balas jasa, d) ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan dan komunikasi manajerial, e) sikap kepercayaan, peranan atau karakteristik-karakteristik karyawan.
D. Konsep Pengembangan Organisasi
Dilain pihak pengembangan organisasi tidak dirancang untuk memecahkan masalah-masalah terpisah dan sementara. Pendekatan ini berjangka waktu lebih panjang dan lebih mencangkup pendekatan perubahan untuk menggerakkan keseluruhan organisasi ke tingkat perbaikan prestasi dan kepuasan para anggota organisasi dengan lebih tinggi. Pengembangan organisasi adalah suatu usaha jangka panjang untuk memperbaiki proses-proses untuk memperbaiki proses-proses pemecahan masalah dan pembaharuan organisasi, terutama melalui manajemen budaya organisasi yang lebih efektif dan kolaboratif, dengan tekanan khusus pada budaya tim-tim kerja formal dengan bantuan pengantar perubahan, penggunaan teori dan teknologi ilmiah keperilakuan terapan, mencakup riset kegiatan.
BAB XII
MANAJEMEN KONFLIK
A. Definisi Konflik
Konflik biasanya timbul dalam organisasi sebagai hasil adanya masalah-masalah komunikasi, hubungan pribadi, atau struktur organisasi. Konflik organisasi adalah ketidak sesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota / kelompok-kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber daya - sumber daya yang terbatas atau kagiatan-kegiatan kerja atau karena kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai atau persepsi.
B. Jenis-jenis Konflik
1. Konflik dalam diri individu, yang terjadi bila seorang individu menghadapi ketidakpastian tentang pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya, bila berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan, atau bila individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya.
2. Konflik antar individu, hal ini sering diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan kepribadian.
3. Konflik antara individu dan kelompok, yang berhubungan dengan cara individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja mereka.
4. Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama, karena terjadi pertentangan kepentingan antar kelompok.
5. Konflik antar organisasi, yang timbul sebagai akibat bentuk persaingan ekonomi dalam sistem perekonomian suatu negara.
C. Metoda-metoda Pengelolaan Konflik
1. Metoda stimulasi konflik, meliputi ; a) pemasukan atau penempatan orang luar ke dalam kelompok, b) penyusunan kembali organisasi, c) penawaran bonus / pembayaran insentif dan penghargaan untuk mendorong persaingan, d) pemilihan manajer-manajer yang tepat, f) perlakuan yang berbeda dengan kebiasaan.
2. Metoda pengurangan konflik, metoda ini mengelola tingkat konflik melalui “pendinginan suasana”, tetapi menangani masalah-masalah yang semula menimbulkan konflik. Meliputi : a) mengganti tujuan yang menimbulkan persaingan dengan tujuan yang lebih bisa diterima kelompok, b) mempersatukan kedua kelompok yang bertentangan untuk menghadapi “ancaman/musuh” yang sama.
3. Metoda Penyelesaian konflik, penyelesaian dimana mencangkup perubahan dalam struktur organisasi, dan mekanisme koordinasi. Ada tiga metoda penyelesaian konflik yang sering digunakan yaitu : a) dominasi atau penekanan, b) kompromi, dan c) pemecahan masalah integrasi.
D. Konflik Struktural
Dalam organisasi klasik ada empat daerah struktural dimana konflik sering timbul:
1. Konflik hirarki, yaitu konflik antara berbagai tingkatan organisasi (ex: Manajemen puncak konflik dengan dewan direktur).
2. Konflik fungsional, yaitu antara berbagai departemen fungsional organisasi (ex: konflik antara departemen produksi dengan departemen pemasaran).
3. Konflik lini-staf, yaitu konflik antara staf (ex: adanya perbedaan-perbedaan yang melekat pada personalia lini dan staf).
4. Konflik formal-informal, yaitu konflik antara organisasi formal dan informal.
BAB XIII
PENGAWASAN
A. Dasar-dasar Proses Pengawasan
Pengawasan adalah proses untuk “menjamin” bahwa tujuan-tujuan organisasi dan manajemen tercapai.
Tipe-tipe pengawasan
Feedforward control Concurrent control Feedback control
Proses pengawasan
B. Teknik dan Metoda Pengawasan
Tugas Kelompok: 1) Perbedaan tipe metoda pengawasan, 2) Penggunaan anggaran dalam pengawasan, 3) Metoda-metoda pengawasan anggaran khusus, 4) Penggunaan pemeriksaan akuntan (Auditing) untuk pengawasan, 5) Analisa Break – Event, 6) Analisa rasio keuangan, 7) Penggunaan bagan Gantt, Pert dan CPM
BAB XIV
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
A. Definisi SIM
Sistem: sistem dapat abstrak dan fisis, sistem yang abstrak adalah susunan yang teratur dari gagasan-gagasan / konsepsi-konsepsi yang salingn bergantungan. Sistem yang bersifat fisis adalah serangkaian unsur yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan.
Informasi: data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi sipenerima dan mempunyai nilai yang nyata atau yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau keputusan-keputusan yang akan datang.
Manajemen: ilmu atau seni mengatur proses pemamfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.
Sistem Informasi Manajemen adalah pendekatan-pendekatan yang direncanakan dan disusun untuk memberikan bantuan yang piawai yang memudahkan proses manajerial kepada pejabat pimpinan.
B. SIM, Komputer, dan Manajemen
Seperti yang telah diketahui bahwa informasi adalah data yang telah diolah, artinya untuk mengambil keputusan. Jadi untuk memperoleh informasi, tindakan-tindakan yang harus dilakukan yaitu:
1) Teknik mengumpulkan data, melalui 4 metode:
a. melalui pengamatan sendiri secara langsung
b. melalui wawancara
c. melalui perkiraan koresponden/pembawa berita
d. melalui daftar pertanyaan
2) Operasi dan pengolahan data
Pada dasarnya data adalah bahan mentah yang harus ditangani dan ditempatkan dalam hubungannya yang berarti sebelum data tersebut menjadi bagi penerima. Untuk menyusun data dan mendatangkan hasil yang berarti, beberapa kombinasi operasi data dasar harus dilaksanakan.
Ada sepuluh operasi dasar yang menghasilkan keluaran penting dapat dilihat dalam setiap sistem informasi:
a. capturing/pencatatan data
b. pemeriksaan/verifying
c. penggolongan/classifying
d. penyusunan/penyortiran
e. peringkasan/summarizing
f. penghitungan/calculating
g. penyimpanan/storing
h. pengambilan kembali/retrieving
i. reproduksi
j. penyebaran pengkomunikasian
C. Manajemen dan SIM
Manajemen dipandang sebagai suatu kegiatan yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan untuk mencapai tujuan. Dalam hubungannya antara manajemen dan SIM adalah untuk mengambil keputusan, dimana suatu kegiatan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat dibutuhkan untuk memperbaiki hasil sistem keseluruhan dalam batas tertentu.
Rabu, 13 April 2011
Selasa, 12 April 2011
sosped
KONTRAK PERKULIAHAN
I. Deskripsi Mata Kuliah:
Mata kuliah ini membahas, hakekat dan ruang lingkup sosiologi pedesaan, keterkaitan sosiologi pedesaan dengan sosiologi dan ilmu-ilmu lainnya, konsep-konsep desa, bentuk-bentuk desa, sejarah dan struktur pemerintahan desa, lembaga sosial pedesaan, keagrariaan dan petani serta ekologi pedesaan, desa dalam perspektif Durkheimian, Weberian, dan Marxian; desa dalam perspektif pembangunan di Indonesia, gender di pedesaan, strategi pembangunan pedesaan, dinamika dan perubahan sosial pedesaan, perbandingan pedesaan Indonesia dengan pedesaan di negara-negara lain.
II. Tujuan Instruksional Umum:
Setelah perkuliahan ini berlangsung mahasiswa memahami:
a. hakekat dan ruang lingkup sosiologi pedesaan
b. keterkaitan antara sosped dng sosiologi dan ilmu-ilmu lainnya
c. konsep-konsep desa, keagrariaan dan petani pedesaan
d. bentuk-bentuk desa, ekologi pedesaan
e. sejarah dan struktur pemerintahan desa
f. lembaga sosial pedesaan, perekonomian pedesaan
g. desa dalam perspektif Durkheimian
h. desa dalam perspektif Weberian
i. desa dalam perspektif Marxian
j. desa dalam perspektif pembangunan
k. gender dan strategi pembangunan pedesaan
l. dinamika dan perubahan sosial pedesaan
m. perbandingan pedesaan Indonesia dengan pedesaan di negara-negara lain
III. Strategi Perkuliahan:
Untuk mencapai perkuliahan maka dilakukan berbagai pendekatan/ strategi, antara lain: ceramah kelas, diskusi kelompok, praktek lapangan (PL).
Ceramah dilakukan pertemuan 1 s.d 8
Ujian Tengah Semester (UTS) di pertemuan ke-9
PL dilakukan pada pertemuan ke-10
Diskusi kelompok dilakukan pada pertemuan ke 11-14
Ujian Akhir Semester (UAS) pada pertemuan ke-15
IV. Sistematika Materi dan Jadwal Perkuliahan:
Ke Materi Kuliah Bahan Bacaan
1 - Hakekat dan ruang lingkup sosiologi pedesaan
- keterkaitan antara sosiologi pedesaan dengan disiplin ilmu sosiologi dan ilmu sosial lainnya
• Kartohadikoesoemo, Soetardjo (1965), Desa, Sumur Bandung, Bandung
• Sanderson, Stephen, K (1993), Sosiologi Makro, Terjemahan, CV Rajawali, Jakarta
• Slamet, Ina. E (1965), Pembangunan Masyarakat Desa, Bhratara, Jakarta
• Tjondronegoro, SMP (1999), Keping-keping Sosiologi dari Pedesaan, Dirjen Dikti, DPK, Jakarta
2 - konsep-konsep desa
- bentuk-bentuk/tipe desa
- sejarah dan struktur pemerintahan desa
- lembaga sosial pedesaan • Tjondronegoro, SMP (1999), Keping-keping Sosiologi dari Pedesaan, Dirjen Dikti, DPK, Jakarta
• Tjondronegoro, SMP (1999), Sosiologi Agraria, Penyunting MT Felix Sitorus dan Gunawan Wiradi, Akatiga, Bandung
• Burger, DH dan Prajudi (1962), Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Djilid 1 dan 2, Pradnjaparamita, Jakarta
• Dharmawan, A.H, editor (2006) Pembaharuan Tata Pemerintahan Desa Berbasis Lokalitas dan Kemitraan, LPPM-IPB, Bogor
3 - keagrariaan dan petani pedesaan
- ekologi pedesaan
- perekonomian pedesaan • Tjondronegoro, SMP (1999), Keping-keping Sosiologi dari Pedesaan, Dirjen Dikti, DPK, Jakarta
• Burger, DH dan Prajudi (1962), Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Djilid 1 dan 2, Pradnjaparamita, Jakarta
• Sayogyo (1982) Perekonomian Desa, Obor, Jakarta
• Kasryno, Faisal (1984), Prospek Pembangunan Ekonomi Pedesaan, Obor, Jakarta
• Boeke JH (1983), Prakapitalisme di Asia, Terjemahan, Sinar Harapan, Jakarta
• Sayogyo (1987), Ekologi Pedesaan, Penyunting, Obor, Jakarta
• Boeke, J.H (1983), Prakapitalisme di Asia, Terjemahan, Sinar Harapan, Jakarta
• Suhendar, Endang dan Yohana Budi Winarni (1998), Petani dan konflik Agraria, Akatiga, Bandung
• Soetomo, Greg (1997), Kekalahan Manusia Petani, Kanisius, Yogyakarta
•
4 - desa dalam perspektif Durkheimian
• Johnson, Doyle Paul (1994), Teori Sosiologi, Klasik dan Modern, Terjemahan, PT Gramedia, Jakarta
• Clements, Keikn, P (1999) Teori Pembangunan; Dari Kiri ke Kanan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
• Nasikun (1998), “Teori dan Konsep Studi Pedesaan”, Kursus Singkat,PAU-SS-UGM, Yogyakarta
5 - desa dalam perspektif Weberian
• Johnson, Doyle Paul (1994), Teori Sosiologi, Klasik dan Modern, Terjemahan, PT Gramedia, Jakarta
• Evers, Hans-Dieter (1988), Teori Masyarakat: Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern, Terjemahan, Obor, Jakarta
• Clements, Kevin, P (1999) Teori Pembangunan; Dari Kiri Nasikun (1998), “Teori dan Konsep Studi Pedesaan”, Kursus Singkat,PAU-SS-UGM, Yogyakarta ke Kanan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
•
6 - desa dalam perspektif Marxian
• Johnson, Doyle Paul (1994), Teori Sosiologi, Klasik dan Modern, Terjemahan, PT Gramedia, Jakarta
• Evers, Hans-Dieter (1988), Teori Masyarakat: Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern, Terjemahan, Obor, Jakarta
• Clements, Kevin, P (1999) Teori Pembangunan; Dari Kiri ke Kanan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
• Nasikun (1998), “Teori dan Konsep Studi Pedesaan”, Kursus Singkat,PAU-SS-UGM, Yogyakarta
7 - desa dalam perspektif pem-bangunan
• Hoogvelt, Ankie MM (1985), Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang, Terjemahan, CV Rajawali, Jakarta
• Ali, Medekhan (2006), Orang Desa: Anak Tiri Perubahan, Averroes Press, Malang
• Korten, DC dan Sjahrir (1988), Pembangunan Berdimensi Kerakyatan, Terjemahan, Obor, Jakarta
• Soetomo, Greg (1997), Kekalahan Manusia Petani, Kanisius, Yogyakarta
8 - gender di pedesaan
- strategi pembangunan pedesaan
• Korten, DC dan Sjahrir (1988), Pembangunan Berdimensi Kerakyatan, Terjemahan, Obor, Jakarta
• Long, Norman (1987), Sosiologi Pembangunan Pedesaan, Terjemahan, Bina Aksara, Jakarta
• Clements, Kevin, P (1999) Teori Pembangunan; Dari Kiri ke Kanan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
• Dharmawan, A.H, editor (2006) Pembaharuan Tata Pemerintahan Desa Berbasis Lokalitas dan Kemitraan, LPPM-IPB, Bogor
• Budiman, Arief (199 ), Pembagian Kerja secara Seksual, Gramedia, Jakarta
9 - UTS (Ujian Tengah Semester)
10 - Dinamika dan perubahan sosial pedesaan
• Kartodirjo, Sartono (1993), Pembangunan Bangsa, Aditya Media, Yogyakarta
• Sztompka, Piotr (2004), Sosiologi Perubahan Sosial, Terjemahan, Prenada, Jakarta
• Wertheim, WF (1999), Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Terjemahan, Tiara Wacana, Yogyakarta
11 - PL (Praktek Lapangan)
12 - diskusi kelompok
* proses-proses sosial
* lembaga-lembaga sosial
* group sosial
* organisasi sosial
* sistem status dan pelapisan sosial
* pola hubungan antarsuku
* pola komunikasi
* kekuasaan dan wewenang
* gender
13 - diskusi kelompok
* proses-proses sosial
* lembaga-lembaga sosial
* group sosial
* organisasi sosial
* system status dan pelapisan sosial
* pola hubungan antarsuku
* pola komunikasi
* kekuasaan dan wewenang
* gender
14 - perbandingan pedesaan Indonesia dengan pedesaan di negara-negara lain
• Fukutake, Tadashi (1989), Masyarakat Pedesaan di Jepang, PT Gramedia, Jakarta
• Wertheim, WF (1999), Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Terjemahan, Tiara Wacana, Yogyakarta
15 - Ujian Akhir Semester (UAS)
Hakekat dan Ruang Lingkup Sosiologi Pedesaan
• Lulusan SLTA mudah melihat yang konkrit dan pragmatis
wilayah sosiologi abstrak dan butuh waktu untuk me-
resapkannya dalam benak. Apalagi untuk sampai
kepada teoritisasi
semua tergantung pada minat seseorang
contoh:
Vilfredo Pareto (1848-1923) * ahli matematika
Talcott Parsons (1902-1979) * ahli ekonomi
Jembatan antar ilmu, dengan tokoh:
Karl Marx (1795-1866) * Ekonomi dan Sosiologi
GS Becker (1957-1988) * Ekonomi dan Sosiologi
Pengaruh ilmu Fisika dan kedokteran kehakiman
R Descartes (1596-1650)
F Bacon (1561-1626)
Ferry (Italia) * ilmu fisika
Howard Becker * kedokteran kehakiman/
Forensic
• Awal ilmu sosiologi sangat dipengaruhi ilmu eksak atau mirip orga-
nisme tubuh manusia (biologi)
Tokoh:
H Spencer (1820-1903)
CH Darwin (1809-1882)
dikenal sebagai fisika sosial Quitelet * ahli statistik
• Sosiologi
substansial
Tokoh :
Ibn Khaldun (1332-1406) MUQADDIMAH (9 jilid)
Jilid 1 (hampir 1000 halaman) 845
Isi :
- perubahan umat manusia secara umum (I)
- peradaban badui, bangsa dan kabilah, kondisi ke-
hidupan mereka (II)
- dinasti, kerajaan, khalifah, pangkat, pemerintahan,
dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu (III)
- negeri dan kota, serta semua bentuk peradaban yg
terjadi disana (IV)
- aspek kehidupan (mencari keuntungan dan pertu-
kangan dan yang berkaitan dengan itu (V)
- macam ilmu pengetahuan, metode pengajaran dan
Kondisi yang berkaitan dengan itu
formatial
Ahli filsafat Perancis Auguste Comte (1798-1857)
Sekitar 4 abad bicara masyarakat Ibn Khaldun
Course of Positive Philosophy
Hukum 3 tahap : - teologis
- metafisik
- positif
• Pendekatan dalam sosiologi beraneka ragam, seperti:
Sosiologi kurang menarik jika mereka berkehendak sebagai “tukang”
yakni suka merekayasa dan bereksperimen serta mencapai
hasil nyata
idealnya mereka adalah: kritis, analitis dan imaginative serta
dalam waktu panjang
dengan ilmu alam (misalnya) prinsip bahwa keanekaragaman
budaya antarorang dan bangsa
dengan akal, akhlak dan nilai menambah variasi pula
Beberapa pendekatan:
i. Aliran : - aliran geografi
- aliran antropologi-sosial
- aliran psikologi
- dll
ii. Cakupan : makro dan mikro
- makro berskala besar dalam kehidupan
masyarakat (sistem politik, ekono
mi, pola kehidupan keluarga, dan
bentuk dan system keagamaan)
Menekankan jaringan kerja dunia
dari berbagai masyarakat yang
saling berinteraksi.
- mikro menekankan gaya komunikasi
verbal/nonverbal dalam hubungan
face-to-face, proses pengambilan
keputusan para hakim, integrasi ke
lompok, keanggotaan dalam klp.
Spesialisasi-spesialisasi (perkembangan kebutuhan masyarakat)
• sosiologi pedesaan
• sosiologi perkotaan
• sosiologi deviansi
• sosiologi gender
• sosiologi wanita
• sosiologi makanan
• sosiologi pembangunan
• sosiologi uang
• sosiologi lainnya
• Hubungannya dengan ilmu-ilmu lainnya
* Ilmu Ekonomi (ekonomika dan bisnis) barang-barang dan pelayanan, distribusi dan pola-pola keuangan
* Ilmu politik bentuk-bentuk dan fungsi-fungsi pemerin-tahan
* Ilmu Antropologi memberikan perhatian pada nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat baik primitive maupun kontemporer
* Ilmu Sejarah membantu mendeskripsikan situasi sosial, permasalahan dan kejadian masa lalu hingga sekarang
• Hubungan (khusus) Sosiologi Pertanian dengan Sosiologi Pedesaan
Agricultural Sociology Rural Sociology
Kesamaan
1. bisa disamakan dan berlaku pada penduduk pedesaan yang hidup dari pertanian
2. pada masyarakat pra-industri (dulu). Bila penduduk desa sedikit, perlu dipisahkan.
Ukurannya: pertanian hanya 1/10 dari jumlah penduduk desa atau kurang
Objek
+ keseluruhan penduduk yang bertani + seluruh penduduk desa yg terus me
tanpa memperhatikan jenis tempat nerus/sementara tinggal di sana
tinggal
+ membahasa fenomena sosial dlm bi- + tak perduli (petani/bukan, orang yg
dang ekonomi-pertanian yg menyang sedang berlibur), hidup dan berga-
kut pada petani dan permasalahan hi- ul antarsesama di desa diatur oleh:
dup petani nilai, norma, dan otoritas tindakan
+ tema besarnya: yang berorientasi kepada:
- UU pertanian - kelp & organisasi yang hi-
- organisasi pertanian dup
- usaha tani, koperasi dan ma- - masalah mana yg muncul
salah sosial pertanian serta - bantuan sosial mana yg da-
posisi sosial dlm masyarakat pat diselesaikan
Sosiologi Agraria (Agrarian Sociology)
“Keseluruhan penduduk yang sangat berkepentingan dengan keagrariaan dan merupakan bagian dari hidupnya tanpa memandang jenis tempat tinggalnya”
Tema:
- UU pertanahan
- UU lingkungan hidup (pencemaran)
Konsep Sosiologi Pedesaan/Pengertian Desa
Umum : tempat dimana bermukim penduduk dengan ‘peradaban’ yang lebih terbelakang daripada kota.
Biasanya dicirikan dengan bahasa ibu yang kental, tingkat pendidikan yang relative rendah, mata pencaharian umumnya bidang pertanian
KUBI : 1/ sekelompok rumah di luar kota yang mempunyai kesatuan:
kampung, dusun
2/ udik atau dusun (daerah pedalaman lawan kota)
3/ tempat, tanah, daerah
Sosiologi : kesatuan masyarakat/komunitas penduduk yang bertempat tinggal dalam suatu lingkungan dan mereka saling mengenal serta corak kehidupan mereka relative homogen dan bergantung pada alam
Sosiologi Pedesaan (Lowry Nelson) deskripsi dan analisis dari institusi desa
dan kelompok
Konsep-konsep/Definisi Desa
• Desa (Soetardjo)
• “ Suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa yang mengadakan pemerintahan sendiri”
• Desa adalah sistem pemerintahan terkecil yang diberi kewenangan mengatur sebagian urusan pemerintahan (berdasarkan UU No 32/2004)
• Kemunculan Desa
- alamiah (dari dalam)
- buatan (dari luar)
• Alasan (kemunculan) Pedesaan
* statistic (jumlah)
* sosial-psikologis (rasa kebersamaan: sedarah, seketurunan dll)
* ekonomi-pertanian (bermata pencaharian sama)
* sosial-kultural (berkebudayaan sama)
* teritorial-administratif (kewilayahan)
* sosiologis (kedekatan hubungan antarwarga)
* politis (pertimbangan politis: baik masa kerajaan hingga kemerdekaan)
• Bentuk/tipologi (dari usaha) Desa :
- desa nelayan/perikanan
- desa transmigrasi
- desa kerajinan
- desa tambangan (penyeberangan)
- desa pertanian (sawah menetap: pengairan, tadah hujan; pela-
dang berpidah)
- desa perkebunan
- desa pasar (dagang)
- desa keramat (ziarah, sumber air, tambang dll)
- desa tambakan (mula ditemukan ikan laut, dipelihara di daratan
dengan air asin dan diberi nama “bandeng”. Kolam-
nya disebut “tambak”)
- desa industri dll
• Tipografi Desa
- desa pegunungan
- desa dataran rendah
- desa dataran tinggi
- desa pantai
• Tipologi/penggolongan/klasifikasi dan potensi Desa
- penetapan kesepakatan dari penelitian tahun 1971/72, yaitu:
(i) pra-desa
(2) desa swadaya
(3) desa swakarya
(4) desa swasembada
(5) desa pancasila
Soedarsono (Mantan Mentan, alm Keping-keping…Tjondronegoro, SMP, hal 36)
“dasar faktor alam tidak turut secara langsung menentukan klasifikasi/tipologi desa” --- ‘sebaiknya didasarkan atas kemampuan atau potensi faktor alam untuk menghasilkan, yang diakibatkan oleh sifatnya dan terlepas dari pengaruh manusia’
Potensi Alam
Lingkungan hidup manusia
Penduduk
Usaha-usaha manusia
Prasarana-prasarana yang telah dibuat
Jumlah nilai > 7 pra-desa
7 – 11 desa swadesa
12 – 16 desa swakarya
17 – 21 desa swasembada
< 21 desa pancasila Variabel dalam Menentukan Desa Tertinggal sesuai BPS 1999 No Variabel Klasifikasi Skore I POTENSI DESA 1 Tipe LMD (atau yang setara) Tipe 3 3 Tipe 1 atau 2 2 Tipe 1 1 2 Jalan utama Aspal 3 Diperkeras 2 Tanah 1 3 Sebagian penduduk bergan-tung pada potensi Jasa, perdagangan dll 3 Industri/kerajinan 2 pertanian 1 4 Rata-rata tanah pertanian yang diusahakan per rumahtangga tani untuk pertanian > 1 Ha 3
0,5 – 1 Ha 2
< 0,5 Ha 1 5 Jarak dari desa/kelurahan ke ibukota kecamatan 0 – 5 km 3 5 – 9 km 2 > 10 km 1
6 Fasilitas pendidikan s.d SLTA ke atas 3
s.d SLTP ke atas 2
s.d SD 1
7 Fasilitas kesehatan Poliklinik ke atas 3
Puskesmas 2
Puskesmas Pembantu 1
8 Tenaga kesehatan Dokter 3
Paramedis 2
Dukun Bayi 1
9 Sarana komunikasi Telepon terpasang/umum 3
Kantor Pos 2
Tidak ada sarana 1
10 P a s a r Bangunan pasar permanent/setengah permanent 3
Kios/pertokoan 2
Tanpa bangunan 1
II PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN
11 Kepadatan penduduk 0 – 200 jiwa/km2 3
201 – 299 jiwa/km2 2
> 300 jiwa/km 1
12 Sumber air minum PAM, pompa listrik 3
Sumur pompa/mata air 2
Air hujan 1
13 Wabah penyakit selama setahun Tidak ada wabah 3
Selain muntaber/demam berdarah paling sedikit sekali 2
Demam berdarah/muntaber paling sedikit sekali 1
14 Bahan bakar Listrik/gas 3
Minyak tanah 2
Kayu bakar 1
15 Pembuangan sampah Tempat sampah dan diangkut 3
Ke dalam lubang 2
Ke sungai dll 1
16 J a m b a n Sendiri 3
Bersama-sama 2
Bukan jamban 1
17 Penerangan listrik Listrik PLN 3
Listrik non-PLN 2
Lainnya/tidak ada 1
18 Rasio banyaknya tempat ibadah per 1000 penduduk > 5/1000
3
(2 – 4)/1000 2
< 1/1000 1 III KEADAAN PENDUDUK 19 Rata-rata banyaknya ternak per rumahtangga > 5 ekor 3
2 – 4 ekor 2
< 1 ekor 1 20 Persentase rumahtangga yang memiliki TV > 29 3
5 – 29 2
< 5 1 21 Persentase rumahtangga yang memiliki telepon > 9 % 3
1 – 9 % 2
< 5 % 1 IV TAMBAHAN VARIABEL UNTUK DAERAH PEDESAAN 22 Rumahtangga pertanian > 15 % 3
16 – 29 % 2
> 30 % 1
Sumber: Ivanovich Agusta (2007)
• Struktur/sketsa Desa
- desa Jawa
Penduduk di tengah di kelilingi sawah
- desa luar Jawa
Sawah di tengah di kelilingi rumah penduduk
- desa di negara lain
* Rectangular = bujur sangkar/empat segi panjang
* Square = persegi
* 4 – square = 4 (doble) persegi
* Elongated = memanjang
* Circular = sirkuler/melingkar
* Radial Plan = jari-jari lingkaran
* Poligon = segi banyak
* Horse-shoe = sepatu kuda
* Irreguler = tidak beraturan
* Double nucleus = dua inti
* Fan-pattern = pola kipas angin
* Street = jalan
* Oval = oval
• Kapan desa ditemukan?
Oleh pemerintah asing (Raffles, 18 September 1811) dibantu Hermans
Warners Muntinghe dalam laporannya (14 Juli 1817), ditemukan ada
desa-desa di daerah pesisir utara pulau Jawa Utara
• Sifat desa Indonesia homogen (individualistik)
heterogen (etnis/adat-istiadat/kondisi dan potensi daerah
/latar belakang sejarah/bahasa/system pemerintahan
/luas unit teritorial (geografik)/tingkat kepadatan/
tingkat perkembangan masyarakat dll
• Desa Indonesia, bangunan asing atau asli Indonesia? perdebatan
Mr van Den Berg desa (Jawa) dibikin atas pengaruh Hindu
Prof Kern desa (Jawa) asli dari India
Prof van Vollenhoven desa (Jawa) ciptaan orang Indonesia asli
Didukung oleh: Prof J.De Louter
Dr Brandes
FA Liefrinck
Mr Lekkerkerker
• Asal kata (epistimologi) Desa
“desa”, “dusun”, “dessi”, “desi” (ingat kata swa-desi)
“negara”, “negeri”, “negari”, “nagari”, “negori” (nagaroni)
Arti substansial: tanah air, tanah asal, tanah tumpah darah, tanah kela-
hiran
• Konsep Desa (sesuai Daerah Asal)
Perbedaan Bentuk Pemerintahan Desa
Perbedaan NAD Sumbar Jabar Bali Papua
Nama resmi pemerintahan formal terkecil Gampong/desa Nagari Desa Desa Dinas/
keperbekelan Kampung
Nama unit pemerintahan “adat” terkecil Mukim Nagari - Desa Adat/Desa Pakraman Kampung (adat)
Wilayah adat versus wilayah “desa” Satu mukim dapat terdiri dari satu atau lebih gampong/desa Adat selingkar Nagari. Satu Nagari meliputi satu atau lebih eks-desa Desa di Jabar tidak selalu parallel dengan batas wilayah adat Satu desa pakraman bisa terdiri dari satu atau lebih desa dinas Satu kampung bisa lebih besar atau lebih kecil daripada kampung adat
Nama Kepala Desa Kepala Desa atau Keuchik Wali Nagari Kepala Desa atau Kuwu Kepala Desa Dinas atau Perbekel Kepala Kampung
Nama Ketua Adat Imeum Mukim Ninik-Mamak - Pendeto Ondoafi atau Ondofolo
Dasar penentuan wilayah adat Religi (Wilayah Pengaruh Masjid Jami) Genealogis (kumpulan suku/marga) Geografis (bentang alam) dan historis Religi (Wilayah Pengaruh Pura) Genealogis (suku) dan historis geografis
Lembaga di bawah desa Lorong Jorong Dusun Banjar Dusun/Kerek
Lembaga supradesa Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Distrik
Lembaga “legislative desa” BPD
(Bamusdes) BPN (Badan Permusyawaratan Nagari) BPD
(Bamusdes) BPD
(Bamusdes) BPK
(Bamuskam)
Sumber Utama Dana Desa Pagu Anggaran dari Pemda Dana Alokasi Umum Nagari (DAUN) Pagu Anggaran dari Pemda Pagu Anggaran dari Pemda Dana Otsus Pembangunan Kampung
Lembaga nonstructural yang berpengaruh Lembaga kemukiman (Masjid Jami) Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ulama. Tokoh yang dituakan Lembaga Desa Pakraman Kampung Adat. Lembaga gereja
Kepemilikan lahan pribadi (normative) Diakui adat Tidak diakui adat Diakui adat Diakui adat Tidak diakui adat
Kepemilikan lahan kolektif Sebagian Semua Sebagian Sebagian Semua
Sumber: Dodik Ridho Nurrochmat, 2006
- Jawa, bali, Madura d e s a, pakraman (Bali)
- Sumatera Selatan, Babel kampung/dusun
- R i a u penghulu
- Sumatera Barat nagari
- Sumatera Utara kuta, uta atau huta (setingkat desa)
- NAD (Aceh) gampong, meunasah, gejik
- Papua ondoafi (andewapi)
Pada Jaman Kolonial
Menyebut Belanda => negeri
Misal: pergi ke negeri
Solo/Surakarta sebutan kota Solo negari
Misal : mantuk dateng negari
Sejarah dan Struktur Pemerintahan Desa
Desa berdasarkan perspektif Periodesasi/sejarah:
• Periodesasi menurut fase pra-sejarah dan sejarah
Dasar pembagian menurut perubahan kebudayaan dan peradaban (teknologis).
Pembagian jaman terdiri atas:
a. Jaman pra-sejarah
b. Jaman sejarah yang dapat dibagi menjadi
(i) Jaman kuno
(ii) Jaman baru/modern
• Periodesasi menurut fase perkembangan politik dan sosial budaya
a. Masa desa dalam negara tradisional
b. Masa desa dalam negara colonial
c. Masa desa dalam negara nasional Indonesia
• Periodesasi menurut fase perkembangan ekonomi
Pra-industri Industri
Fase partoral, pertanian, industri
• Periodesasi lainnya yang bisa disusun sesuai dengan tema dan dimensi yang dianggap pokok
Djoko Suryo, 1989
Sejarah Pemerintahan Desa (dalam Perbandingan)
No Substansi UU 5/1979 UU 22/1999 UU 32/2004
1 Nama dan Alamat Disebut sebagai UU Pokok Pemerintahan Desa.
Azas desentralisasi, dekonsentasi dan tugas perbantuan yang dalam praktiknya lebih cenderung pada tugas perbantuan Disebut sebagai UU Pemerintahan Daerah.
Azas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas perbantuan yang mengarah pada prinsip devolusi. Disebut sebagai UU Pemerintahan Daerah.
Asas desentralisasi, dekonsentgrasi dan tugas perbantuan yang kental dengan nuansa delegasi.
2 Batasan “Desa” Desa adalah system pemerintahan terkecil yang nama dan bentuk kelembagaannya diseragamkan untuk seluruh Indonesia. Dengan penyeragaman diharapkan dapat mempermudah koordinasi pemerintahan. Kenyataannya, penyeragaman mematikan kekhasan sifat komunitas di Indonesia dan menafikan asal-usul masyarakat adapt Desa menjadi kesatuan wilayah dan system pemerintahan terkecil yang diberikan kewenangan mengatur dan mengurus diri sendiri. Menghargai realitas keragaman dan hak asal usul desa. Berpotensi memicu ketegangan hubungan Kades dan BPD. Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dapat tersendat. Desa adalah system pemerintahan terkecil yang diberi kewenangan mengatur sebagian urusan pemerintahan. Meningkatnya peran dan intervensi negara dalam urusan desa dan muncul praktik resentralisasi. Realitas keragaman masih dihargai. Hubungan Kades dan Bamusdes diharapkan lebih baik sehingga perencanaan dan pelaksanaan pembangunan berjalan lancer.
3 Fungsi Lembaga Perwakilan Desa Lembaga Musyawarah Desa (LMD) sebagai Mitra Kepala Desa (Kades). Kades tidak bertanggungjawab kepada LMD Badan Perwakilan Desa (BPD) dipilih langsung oleh rakyat. Kades bertanggungjawab kepada BPD Badan Permusyawaratan Desa (Bamusdes) dibentuk dari hasil musyawarah desa. Kades tidak bertanggungjawab kepada Bamusdes
4 Demokrasi dan Tata pemerintahan Desa Desa menjadi daerah yang sangat tergantung pada negara/kabupaten dalam menjalankan tatapemerintahannya. Menafikan pluralisme budaya dan heterogenitas system pemerintahan local. Kepala desa berhak mengatur desa tanpa melibatkan masyarakat. LMD dapat memberikan saran dann pertimbangan kepada Kades dalam kebijakan public. Muncul ruang demokrasi dalam proses pertanggungjawaban kepada BPD. BPD merupakan representasi rakyat karena dipilih langsung oleh rakyat. Dalam mengambil kebijakan public Kades berkonsultasi kepada BPD. Menunjukkan bawah pemerintahan desa adalah perwakilan negara/kabupaten, selain sebagai pemerintahan yang otonom. Bamusdes adalah representasi keterwakilan golongan di masyarakat. Dalam mengambil kebijakan public Kades berkonsultasi dengan Bamusdes namun tidak bertanggungjawab kepada Bamusdes.
5 Administrasi Batasan administrative ditentukan dari atas tanpa mempertimbangkan pola awal. Pola admintrasi desa banyak diwarnai ide dan semangat lokalitas. Kondisi politik local santgat mempengaruhi kelancaran administrasi dan pelayanan. Upaya standarisasi (resentralisasi) administrasi desa. Mengurangi pengaruh politik local dalam administrasi dan pelayanan.
6 Kelembagaan Lembaga legislative (LMD) dan lembaga eksekutif (kades) berada di satu tangan sehingga menutup ruang control. Kades sekaligus sebagai ketua LMD Desa memiliki lembaga pengawasan dan control yaitu BPD yang dipilih dari penduduk desa. Pembentukan lembaga lain lebih aspiratif karena merujuk pada Perdes (pasal 106). Ekses konflik perorangan menjadi konflik lembaga. Program desa dapat terhambat. Prakarsa pengaturan kelembagaan desa berada di tangan kabupaten. Melemahkan peran masyarakat sipil, rawan manipulasi dan kepentingan elit desa. Melemahnya peran lembaga legislative desa. Program desa lebih terjamin keberlangsungannya.
7 Keuangan Desa Desa sangat tergantung pada kabupaten. Desa hanya menjadi sumber keuangan, namun keputusan penggunaan tetap berada di tangan kabupaten. Desa berhak mengatur keuangan melalui APBDes. Rujukan pendirian badan usaha berdasarkan perundang-undangan sehingga mempersempit ruang insiatif desa. Mengindikasikan peran desa hanya terbatas pada sumber pungutan untuk kepentingan kabupaten
8 Prinsip Pembiayaan/Anggaran Desa Fungsi mengikuti anggaran (functional follows Finance). Pembangunan desa tergantung dari pemberian Subsidi Daerah Otonom dan Inpres dari Pusat. Anggaran mengikuti fungsi (functional follows Finance). Besarnya pembiayaan pembangunan desa sesuai dengan fungsi/perencanaan yang telah ditetapkan desa dengan persetujuan BPD Anggaran mengikuti fungsi (functional follows Finance). Besarnya pembiayaan pembangunan desa sesuai dengan fungsi/perencanaan yang telah ditetapkan desa dengan berkonsultasi Bamusdes.
9 Kedudukan dan Kewenangan Kepala Desa Hak, Kewenangan dan Kewajiban Kades diatur dari atas sehingga Kades kehilangan otoritasnya. Hak untuk mengatur dan mengurus pemerintahan desa menjadi kewenangan pemerintah di atasnya. Peran kabupaten hanya berfungsi menerima laporan. Kades memainkan peran yang besar untuk mengatur kehidupan warganya sekaligus mempertangungjawabkan melalui BPD (pasal 99-103) Desa ditempatkan sebagai domain politik dan kekuasaan kabupaten. Kewenangan desa masih abstrak, memberikan cek kosong kepada kabupaten untuk mengatur desa sesukanya.
10 Hubungan dengan Supradesa Seragam-sentralisasi. Pemerintahan kabupaten memiliki kekuasaan yang besar untuk mendelegasikan apa saja ke desa tanpa berunding dengan orang desa. Pengaturan hubungan desa-supradesa memberikan kekuasaan tertinggi kepada kabupaten. Kabupaten sebagai lembaga yang menerima laporan kepala desa. Kabupaten memainkan peran yang menguat terhadap pemerintahan desa
11 Kerjasama Desa Desa tidak dapat memutuskan dengan siapa akan membangun kerjasama Kerjasama dibangun dengan fleksibel tanpa harus melalui kabupaten. Prakarsa dalam kerjasama dengan pihak ketiga mendapat control (dikendalikan) oleh supralokal (pasal 214)
12 Penghargaan terhadap Otonomi Desa Otonomi desa hampir tidak ada. Peran kades sangat dominan dan berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintahan supradesa Pertumbuhan demokrasi dan penghargaan terhadap otonomi desa mulai diakui (pengakuan hak asal-usul desa, BPD, terpisahnya legislative-eksekutif, desa berhak menolak intervensi supradesa) Desa menjadi subordinate dari kabupaten. Tidak ada kejelasan pembagian dan pemisahan kekuasaan di desa, kekuasaan eksekutif untuk memerintah dan kekuasaan legislative untuk mengontrol.
13 Civil Society Kesadaran politik masyarakat desa ditekan. Desa menjadi arena deideologisasi melalui kooptasi partai Golkar. Secara umum substansi UU ini memberikan penghargaan terhadap berkembangnya civil society di desa UU ini tidak membahas secara spesifik civil society di desa, selain lembaga-lembaga yang berhubungan dengan negara.
14 Pembangunan dan Investasi Pembangunan ekonomi dirumuskan para teknokrat dan birokrat pusat. Keputusan pembangunan dan investasi ada ditangan Kades sebagai legislative sekaligus eksekutif. Pembangunan dan investasi ke desa ditentukan oleh kabupaten Kebijakan pembangunan bersifat state oriented dibandingkan dengan society oriented (pasal 215)
Struktur Pemerintahan dari Masa ke Masa
Awal
Abad 1500 – 1800 1800 – 1900 1945 – 1960 UU No.5/ UU No.22/ UU No.32/
14-14/15 1979 1999 2004
Lembaga Sosial Pedesaan
Keagrariaan dan Petani Pedesaan
Sistem Pemilikan Tanah (Jawa)
• Milik umum/komunal dengan pemakaian beralih-alih
• Milik komunal dengan pemakaian bergilir
• Milik komunal dengan pemakaian tetap
• Milik pribadi
(Koentjaraningrat, 1977:62)
Permasalahan atas Tanah
• Masalah penggarapan
• Masalah berkenaan dengan pelanggaran landreform
• Ekses-ekses dalam penyediaan tanah itu untuk pembangunan
• Sengketa perdata berkenaan dengan masalah tanah
(Sumardjono, 1995: 4)
Ekologi Pedesaan
Golongan masyarakat dalam kacamata ekologi sosial
• Masayarakat yang memberikan jasa (pertanian, perikanan, pertambangan)
• Masyarakat yang berfungsi sebagai distribusi ( perdagangan, pemasaran)
• Masyarakat yang menjalankan industri
• Masyarakat yang menjadi pusat pendidikan, politik dan pertahanan
(Kartodirdjo, 1977: 8)
Teori filsafat lingkungan (Skolimowski, 2004)
• Lingkungan berorientasi kehidupan
• Lingkungan berkomitmen pada nilai-nilai manusia alam dan kehidupan itu sendiri
• Lingkungan hidup secara spiritual
• Lingkungan bersifat komprehensif dan global
• Lingkungan berkenaan dengan kebijaksanaan
• Lingkungan sadar secara lingkungan dan ekologis
• Lingkungan bersekutu dengan ekonomi kualitas kehidupan
• Lingkungan sadar secara politis
• Lingkungan sangat memperhatikan kesejahteraan masyarakat
• Lingkungan lantang menyuarakan tanggung jawab individual
• Lingkungan toleransi dengan fenomena trasfisik
• Lingkungan sadar akan kesehatan
Perekonomian Pedesaan
Desa dalam Perspektif Durkheimian
Solidaritas
• Mekanik
• Organik KEKUATAN SOSIAL
Transformasi Masyarakat
Memasuki Masyarakat Industrial
Dualisme-difusionis
(tertib masyarakat dikuasai “kebudayaan”,
norma-norma dan nilai-nilai yang dianut warga desa)
• Semua parameter masyarakat ditentukan oleh kesadaran kolektif (collective conciousness)
• “kelas” adalah suatu sistem pemberian ganjaran untuk memelihara dan mengintegrasikan pembagian kerja masyarakat
• “kekuasaan” dikonsepkan sebagai suatu wahana untuk mencapai tujuan-tujuan masyarakat.
Dualisme-difusionis: Teori ini melihat proses integrasi nasional terutama sebagai proses
terbentuknya suatu sistem nilai nasional modern dan suatu budaya politik nasional yang sekuler.
Proses kumulatif terjadi dalam 3 tahap perkembangan:
1/ Tahap pra-industrial
2/ Periode industrialisasi dan elaborasi ketergantungan timbal-balik antara kota-desa
3/ Tahap perkembangan final dimana perbedaan di dalam peranan-peranan, norma-norma dan struktur-struktur kelembagaan masyarakat kota-desa secara bertahap makin menghilang
Prosesnya terjadinya:
• Ditandai oleh isolasi fungsional “pusat” yakni yang memiliki sektor-sektor ekonomi modern dan/atau perangkat kenegaraan yang paling dinamik dari daerah pinggiran.
Teori ini melihat pusat dan pinggiran sebagai dua kelompok budaya dan ekonomi (sering kali bersifat rasional, kesukuan atau keagamaan) yang sangat berbeda. Hubungan-hubungan sosial yang berkembang pada umumnya hanya terjadi di dalam masing-masing kelompok, dan jarang terjadi diantara keduanya.
• Melalui dan sebagai akibat proses industrialisasi, yang berpengaruh terhadap lembaga-lembaga kebudayaan, ekonomi dan politik di kawasan pusat maupun pinggiran. Terjadi “perembesan” struktur dan budaya modern sehingga memperluas modernisasi ke seluruh masyarakat. Sehingga struktur-struktur dan kebudayaan tradisional yang menguasai pinggiran mulai mengalami transformasi mengantar ke tahap ke 3 proses integrasi nasional
• Ketika perbedaan-perbedaan struktur dan kebudayaan antara pusat dan daerah makin menyempit dan masyarakat berhasil mengembangkan kehidupan ekonomi, politik, budaya yang rasional menuju titik “ekuilibrium”. Akhirnya, kebudayaan memunculkan fatalism, partikularism dan budaya kemiskinan.
Desa dalam Perspektif Weberian
Terdapat dua ikatan
1. Ikatan Desa
Asumsi:
- kehidupan ekonomi sederhana sendiri. Ingat “subsisten” cukup/cukupan
- lalu-lintas uang sedikit dan mobilitas sosial rendah
- kebutuhan cara produksi (mode of production) ditentukan oleh tradisi/norma
- bersifat turun-temurun
- ekonomi (dasar) = kenyataan (ketergantungan hidup manusia pada alam dan
lingkungan sosialnya (sesamanya) yang bersifat
tukar-menukar (materialnya) tertanam
- ekonomi (formal) = logika (kaitan antara alat dan tujuan. Ditunjukkan dengan
kata ‘hemat’ atau ‘berhemat’. Berisi “pilihan” atas
ketidak-cukupan secara ‘logika’/perilaku rasional
dia atas dalil kelangkaan (scarcity)
Ekonomi tertanam (melekat) Ekonomi terdiferensiasi
@ tolong menolong (lebih individual) dulu gotong royong (siskamling)
Perilaku timbal-balik (reciprocity) : antara titik hubungan yang sejajar dlm
kelompok
@ perilaku berbagi (redistribution) : gerakan pemilikan ke arah suatu pusat dan
kemudian keluar dari sana
@ perilaku tukar menukar (exchange) : gerakan balas membalas antara “tangan-
tangan” dalam suatu sistem pasar
- bukan sewa menyewa yang ada bagi hasil
- alat organisasinya adalah ikatan-ikatan komunal yaitu rasa persaudaraan antara
penduduk desa dan rasa tunduk pada lurah desa.
Dikembangkan oleh masyarakat secara turun temurun
Mendatar dan Vertikal (ikatan desa)
- ekonomi desa terbatas organisasi desa
hubungan-hubungan kekuasaan dan ketaatan dari raja,
dan bupati dll
2. Ikatan Feodal
Ikatan vertical semata. Tidak dalam persaudaraan
Ikatan adat dari masyarakat : ikatan langsung tanpa perjan-
jian atau ikatan kontrak
Ikatan Adat
Ekonomi Sosial
Raja
• pembagian pekerjaan (diferensiasi) + spesialisasi
• keluarga + desa dibebani pajak
Spesialisasi digaji apanagstelsel (sistem gaduh, lungguh, tjatu, perwatasan)
Pemegangnya (patuh atau juragan)
(raja dibantu untuk menarik penghasilan dari suatu daerah tertentu)
Upahnya tanah atau uang
Contoh:
Desa Perdikan
Desa Pakuncen/penjaga kuburan
Desa Pesantren/sekolah
Desa Kepatihan/desa para alim
Ekonomi terbuka
Organisasi kehidupan ekonomi “persewaan desa” (sistem perskot/pan-
jar/uang muka) biasanya “Tionghoa” menyewa untuk men-
dapatkan perdagangan beras
Bergantung pada * meski tamak desa lebih baik = untuk dagang
waktu (lamanya) * pribumi memeras untuk pribadi
Sentralisitik korupsi
Memerosotkan peran
Tolong menolong orang miskin ber tenaga tidak menerima
Konsep bertamu tuan rumah majikan bersifat
Tamu buruh ekonomi
diganti dengan makan + uang
Desa dalam Perspektif Marxian
Kekuatan Sosial
Transformasi Masyarakat
Memasuki Industrial Kapital
Pembangunan Tidak Seimbang
(watak dan dinamika masyarakat secara historis sangat dikuasai
oleh “struktur kelas” yang dimilikinya)
• “kelas” sebagai sumber di dalam hubungan-hubungan produksi
• “kekuasaan dan ideologi” yang berkuasa dikonsepkan sebagai derivasi dari organisasi kelas yang berkuasa untuk mereproduksi struktur kelas
Menurut teori ini, ciri yang mendasar dari cara produksi kapitalis terletak di dalam struktur kelas yang dimilikinya (kapitalis-proletar).
Di dalam teori ini produksi “nilai lebih” (surplus value) dan akumulasi kapital dilihat sebagai kekuatan pendorong utama dalam cara produksi kapitalis, sementara perkembangan kapitalis dipandang sebagai suatu proses yang bersifat ekspansif.
Ekspansi terjadi karena persaingan parakapitalis menuntut ekspansi akumulasi nilai dan produksi digerakkan oleh hasil kolektif dari perjuangan individual para kapitalis agar tidak tergusur menjadi kelas proletar.
Ekspansi dalam teori ini, sebagai kekuatan yang menciptakan disparitas antarkelas dan pada saat yang bersamaan menggerakkan perkembangan masyarakat.
Hukum perkembangan yang tidak seimbang bukan hanya menghasilkan kesenjangan distribusi kekayaan antarkelas, akan tetapi menyemaikan ketimpangan spasial antarwilayah.
Di dalam struktur pusat-pinggiran (kota-desa) ekonomi daerah pinggiran merupakan ekonomi tergantung. Ekonomi ekspor yang melayani permintaan bahan-bahan mentah parakapitalis metropolitan
“Perembesan” ke daerah sebagai industri yang kurang kompetitif. Terjadi penyedotan finansial ke pusat, sementara di daerah pinggiran terdapat tenaga buruh murah.
Desa dalam Perspektif Pembangunan
Gender di Pedesaan
Hak-hak Asasi Manusia yang dideklarasikan PBB tanggal 10 desember 1948
bahwa, hak-hak laki-laki dan perempuan doakui sebagai manusia yang merdeka
sehingga keduanya diperlakan adil dan beradab.
Gender Teori Nurture
(Perbedaan perempuan dan laki-laki adalah akibat dari hasil kon-
struksi sosial-budaya sehingga menghasilkan fungsi dan peran
yang berbeda. Maka perempuan selalu tertinggal, terabaikan dan
terlupakan).
Implikasi: - berkembangnya konsep kesamaan antara laki-laki dan
perempuan.
Teori Nature
(antara perempuan dan laki-laki adalah berbeda secara kodrati/
anugrah Tuhan. Perbedaan tersebut berimplikasi pada perbedaan
peran dan tugas yang berbeda. Terdapat peran yang dapat dipertu-
karkan dan yang tidak dapat dipertukarkan).
Implikasi: - perlu kerjasama baik structural maupun fungsional
Teori Keseimbangan
(setiap kebijakan dan strategi pembangunan perlu memperhitung-
kan kebutuhan peran laki-laki dan perempuan secara seimbang)
Kemeneg Pemberdayaan Perempuan, 2005
Teori Struktural
(ketertinggalan dan subordinasi perempuan merupakan aspek bu-
daya dan struktur sosial)
Teori Adaptasi Awal dan Konflik
Cenderung menyoroti perbedaan antara perempuan dan laki-laki
dari segi kepentingan dan kekuasaan.
(mengaitkan relasi perempuan dan laki-laki dihubungkan dengan
perkembangan peradaban manusia di mana kaun perempuan ter-
libat dalam aspek reprooduksi dan laki-laki pada aspek produktif)
Teori Struktural fungsional
(melihat relasi gender berdasarkan kondisi situasi budaya dan ke-
duanya dapat berbagi peran melalui pelembagaan norma-norma
yang sudah dikenal luas)
• Permasalahan gender dilihat dari 4 aspek:
- aspek sosial budaya
- aspek agama
- aspek ekonomi
- aspek hukum dan peraturan perundangan
Strategi Pembangunan Pedesaan
(policy intervention)
1. Community Development
Tahun 1950-an di India
- membangun masyarakat desa melalui kekuatan yang berasal dari desa itu sendiri (self rebalance development)
- UU No.85/1958 (Pembangunan Lima Tahun 1956-1960, ada 19 bidang. Salah satunya Pembangunan Pedesaan)
Ciri-ciri : * Pembangunan Integral
* Azas Kekuatan Sendiri
* Azas Permufakatan Bersama
* Strategi olie vlek or “oli sport” (go centre)
2. Growth Oriented/Rural Development
Tahun 1960-an. Pembangunan Pedesaan yang Berorientasi Pertumbuhan
Ciri-ciri : * Peningkatan Produksi
* Pembangunan Desa identik dengan Pembangunan eko-
nomi
* Intervensi Pemerintah ditekankan pada Pembangunan In-
frastruktur Pembangunan Desa
* Pembangunan Kemiskinan dilakukan melalui “tricle
down effect”
3. Basic Needs Strategy
Tahun 1970-an. Strategi Pemenuhan Kebutuhan Dasar
- Pengaruh ILO-PBB
- Charity Strategy diutamakan adalah pemenuhan pokok petani
- Capacity Building gagal dilihat dari Cina
- Upaya memperkuat delivery mechamism (siapa yang menerima service, dibuktikan adanya ketimpangan)
- PRA (Participatory Rural Appraisal) “Penilaian Pedesaan yang Partisipatoris”
- RRA (Rapid Rural Appraisal) “Penilaian Pedesaan yang Cepat)
4. Integrated Rural Development/IRD
Tahun 1980-an
Isinya : mengalami perkembangan; karena kegagalan dari konsep IRD pada masa
Lalu
Menurut Micheal Cennea ada 3 kelemahan:
(1) in-efisiensi (IRD telah gagal dalam memberantas kemiskinan)
(2) tidak sustainable (tidak berlanjut terus). Proyek saling berkompetisi sesama mereka sehingga menjadi berhenti sama sekali
(3) tidak replicable (proyek yang tidak sesuai dengan kondisi daerah). Karena ditopang oleh sumber-sumber yang tidak dapat diadakan pada kondisi normal
Sebab-sebab kegagalan IRD
a. tidak ada kemampuan menejerial untuk menjamin replicability
b. pelaksana IRD seringkali merupakan adverb policy (proyek-proyek IRD itu adalah proyek-proyek khusus dengan mem-by pass- melampaui struktur birokrasi formal
Berdasarkan atas kelemahan-kelemahan tadi IRD mengembang asumsi baru
a. tujuannya memberantas kemiskinan
b. kemiskinan dipandang sebagai multidimensional
c. konsekuensinya pendekatan multisektor
d. pembangunan pedesaan harus self realiance dev.
e. IRD diharapkan sustainable dan replicable
Dimensi-dimensi baru dalam IRD
1. konsep kemiskinan itu sendiri
- karena sistem IRD akan sangat tergantung kepada definisi seseorang menganai konsep kemiskinan
- kemiskinan diinterpretasikan sebagai the state of luck of resources (keadaan orang yang mempunyai sumber)
Pemecahannya IRD: menciptakan delivery mechanisme of resources
2. kemiskinan dipandang sebagai produk dari proses sosial dan hubungan sosial yang ada yang terbentuk oleh struktur sosial yang mengakibatkan distribusi sumber-sumber yang menguntungkan kaum kaya.
Di dalam keadaan demikian pemberantasan kemiskinan melalui IRD hanya dapat dilaksanakan dengan merubah hubungan-hubungan sosial dan struktur sosial
Bonded labor:
Petani petani kaya sampai hutang itu lunas
anak
Terbentuk ketergantungan harus diputus dengan delinking the poor
Caranya:
(a) menggantikan hubungan depensia (kaya + miskin) dengan dependensi terhadap proyek/LSM.
(b) “learning process”, men-delink rakyat dari orang-orang kaya dan menumbuhkan solidaritas diantara orang-orang miskin sehingga fungsi IRD akan juga menyangkut/membantu orang-orang miskin mengorganisasikan diri mereka sehingga dapat mempengaruhi proses sosial dan hubugan sosial.
Proses men-delink dapat dilakukan melalui beberapa cara:
i. emansipasi
ii. demarginalisasi
iii. empowerment
5. Pembangunan Berdimensi Kerakyatan
6. Pembangunan Berdimensi Kerakyatan
Dinamika dan Perubahan Sosial Pedesaan
Diferensiasi
Struktural Fungsional
Struktural 1 2
Fungsional 3 4
• Tipe desa yang berorientasi ke dalam: berekonomi moral, bersolidaritas komunal, patron-klien bersifat tertutup, bersifat kekeluargaan
• Tipe desa yang berorientasi ke luar : political economy, bersolidaritas rasional, renggang, bersifat kontrak, individualisasi (diperkuat oleh komersialisasi dan monetisasi hingga memunculkan mobilisasi)
1. Teori Sosial Darwinis (Herbert Spencer)
“Perkembangan evolusi masyarakat menunjuk pada pola pertumbuhan dari bentuk sederhana ke yang kompleks/coumpond, dari suatu yang homogenitas ke heterogenitas”
2. Teori Struktural-fungsional
Pada unit (1) ada integrasi struktural dan pada unit (2) ada integrasi fungsional
3. Digabung dengan Teori Durkheim
(1) solidaritas mekanik dan
(2) solidaritas organik
Sederhana Komplek
Terbuka Solidaritas
Mekanik Solidaritas
Disharmonis
Umum Solidaritas
Organik
Sederhana Solidaritas
Organis
Industrial
Tipe 1 : diwakili oleh organisasi desa tradisional, seperti: bersih desa, gotong royong, gugur-gunung. Sifatnya komunal
Tipe 2 : meskipun deferensi sudah dilakukan menurut fungsi tetapi masih terintegrasi secara structural. Contoh: KUD, PKK dll
Tipe 3 : contoh, arisan-trah, aliran kebatinan
Tipe 4 : contoh, organisasi politik, buruh, profesi dsb
A t a u
Sel 1 : menunjukkan keadaan desa berorientasi ke dalam dan berekonomi moral; solidariras komunal, peranan individu kabur, tak terinci secara mendetail
Sel 2 dan 3: bentuk transisional, deferensiasi tak tajam, masih kabur satu sama lain. Lingkungan desa membuat garis-garis pemisah, fungsi menjadi kabur karena ada kerangkapan.
Sel 4: diferensiasi menurut fungsi dan terinci secara tajam, pembedaan dan pemisahan tajam, sifat hubungan yang rasional-asosiasional.
Kartodirdjo, S (1993: 129-143)
Faktor penentu perkembangan desa kaitan dengan orientasi desa ke luar?
1. Sentralitas. Menunjuk kepada lokasi desa dalam jaringan komunikasi dimana fasilitas pelayanan dari kota (diraih) masuk ke desa.
Subfaktor desa yang tinggi orientasi ke luarnya:
(a) Transportasi memudahkan mobilitas, pemasaran, komunikasi-informasi;
(b) Mendekatkan Pelayanan, seperti: pendidikan, kesehatan, administrasi
(c) Untuk manfaat kemudahan rekreasi, komoditas dsb
(d) Pengadaan Peluang kerja
2. Kapasitas. Menunjuk kepada kemampuan menggunakan sumberdaya untuk meningkatkan produksi, mobilitas dan kualitas hidup.
Subfaktornya :(a) Kolektivitas baru meningkatkan kapasitas yaitu berupa lembaga-lembaga desa;
(b) Jaringan komunikasi yang meluas;
(c) Keterbukaan meningkatkan individualisasi berserta kreativitasnya.
3. Solidaritas. Menunjuk kepada koherensi baru yang terbentuk setelah komunitas desa mengalami diferensiasi.
• Lemahnya komunalisme & terbentuknya lembaga-lembaga asosiasi baru (integrasi dan diferensiasi membentuk solidaritas yang tidak saja di dalam desa tetapi mencakup daerah yang lebih luas).
• Dalam bidang politik, solidaritas desa sebagai unit koherensi untuk:
(a) menjaga otonomi
(b) tidak dapat dipecah oleh unit-unit solidaritas (partai) yang mengintegrasikan penduduk melalui garis golongan (partai) ke dalam tubuh unit nasionalnya. Peristiwa G30S menunjuk bahwa solidaritas desa dalam kondisi disintegratif.
Paradigma Tipe Perubahan Sosial
Sumber Kebutuhan terhadap Perubahan Sumber/asal ide baru
dari dalam dari luar
dari dalam Kebutuhan dirasakan oleh anggota sistem sosial 1.
PERUBAHAN IMANEN 2.
PERUBAHAN KONTAK SELEKTIF
dari luar Kebutuhan diamati oleh agen pembaru atau orang luar sistem 3.
PERUBAHAN IMANEN YANG DIINDUKSI 4.
PERUBAHAN KONTAK TERARAH
Perubahan sosial : proses dimana terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu
sistem sosial (suatu kumpulan unit yang berbeda secara
fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecah-
kan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama)
Proses 3 tahap berurutan:
(1) Invensi yaitu proses dimana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan
(2) Difusi yaitu proses dimana ide-ide baru dikomunikasikan ke dalam sistem sosial
(3) Konsekuensi yaitu perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai aibat pengadopsian atau penolakan inovasi
Keterangan:
a. Perubahan imanen terjadi jika anggota sistem sosial menciptakan dan mengembangkan ide baru dengan sedikit atau tanpa pengaruh sama sekali dari pihak luar dan kemudian mmenyebar ke dalam sel sistem sosial.
Contoh:
Penemu pengumpil jagung
Perontok padi dll
b. Perubahan kontak terjadi jika sumber dari luar sistem sosial memperkenalkan ide baryu. Perubahan kontak adalah gejala “antar sistem”.
Ada dua macam perubahan kontak yaitu: perubahan selektif dan perubahan kontak terarah.
(3) Perubahan kontak selektif terjadi jika anggota sistem sosial terbuka pada pengaruh dari luar dan menerima/menolak ide baru itu berdasarkan kebutuhan yang mereka rasakan sendiri.
Contoh:
Karya siswa ke institusi lain dan mendapatkan hal-hal baru kemudian diterapkan.
(4) Perubahan kontak terarah atau perubahan terencana adalah perubahan yang disengaja dengan adanya orang luar atau sebagian anggota sistem yang bertindak sebagai agen pembaru yang secara intensif berusaha memperkenalkan ide-ide baru untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan oleh lembaga dari luar.
Contoh:
Kampanye air
(3) Perubahan imanen yang diinduksi, bisa/mungkin terjadi tetapi mustahil ada
Contoh:
Misionaris masalah desa, tetapi tidak menawarkan perubahan sosial, penduduk sendiri yang merubahnya.
Rogers dan Shoemaker, 1987: 16-20
Perbandingan Pedesaan Indonesia dengan Pedesaan di Negara-negara Lain
BAHAN BACAAN
Agusta, Ivanovich (2007), “Desa Tertinggal di Indonesia, Jurnal, Solidarity, volume 1 Nomor 02, KPM, FEMA-IPB, Bogor
Ali, Medekhan (2006), Orang Desa: Anak Tiri Perubahan, Averroes Press, Malang
Boeke, J.H (1983), Prakapitalisme di Asia, Terjemahan, Sinar Harapan, Jakarta
Budiman, Arief (199 ), Pembagian Kerja secara Seksual, Gramedia, Jakarta
Burger, DH dan Prajudi (1962), Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Djilid 1 dan 2, Pradnjaparamita, Jakarta
Clements, Kevin, P (1999) Teori Pembangunan; Dari Kiri ke Kanan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Dharmawan, A.H (2006) Pembaharuan Tata Pemerintahan Desa Berbasis Lokalitas dan Kemitraan, LPPM-IPB, Bogor
Dodik Ridho Nurrochmat (2006), “Desentralisasi Pemerintahan Desa: Menakar Idealitas dan Realitas Politik Lokal”, dalam, Pembaruan Tata Pemerintahan Desa Berbasis Lokalitas dan Kemitraan, Arya Hadi Dharmawan, Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan LPPM-IPB
Evers, Hans-Dieter (1988), Teori Masyarakat: Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern, Terjemahan, Obor, Jakarta
Fukutake, Tadashi (1989), Masyarakat Pedesaan di Jepang, PT Gramedia, Jakarta
Hayami, Yujiro dan Masao Kikuchi (1987), Dilema Perekonomian Desa, Obor, Jakarta
Hoogvelt, Ankie MM (1985), Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang, Terjemahan, CV Rajawali, Jakarta
Johnson, Doyle Paul (1994), Teori Sosiologi, Klasik dan Modern, Terjemahan, PT Gramedia, Jakarta
Kartodirjo, Sartono (1993), Pembangunan Bangsa, Aditya Media, Yogyakarta
Kartohadikoesoemo, Soetardjo (1965), Desa, Sumur Bandung, Bandung
Kasryno, Faisal (1984), Prospek Pembangunan Ekonomi Pedesaan, Obor, Jakarta
Korten, DC dan Sjahrir (1988), Pembangunan Berdimensi Kerakyatan, Terjemahan, Obor, Jakarta
Long, Norman (1987), Sosiologi Pembangunan Pedesaan, Terjemahan, Bina Aksara, Jakarta
Mubyarto (1987), Politik Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Sinar Harapan, Jakarta
Nasikun (1998), “Teori dan Konsep Studi Pedesaan”, Kursus Singkat, PAU-SS-UGM, tanggal 12-31 Agustus,Yogyakarta
Rogers, Everett M dan F Floyd Shoemaker (1987), Masyarakatkan ide-ide Baru, Terjemahan, Usaha Nasional, Surabaya
Sanderson, Stepehen, K (1993), Sosiologi Makro, Terjemahan, CV Rajawali, Jakarta
Sayogyo dan Pujiwati Sayogyo (1989), Sosiologi Pedesaan, jilid I dan Jilid II, Obor, Jakarta
---------------- (1982), Perekonomian Desa, Obor, Jakarta
---------------- (1988), Ekologi Pedesaan, CV Rajawali, Jakarta
Slamet, Ina. E (1965), Pembangunan Masyarakat Desa, Bhratara, Jakarta
Soetomo, Greg (1997), Kekalahan Manusia Petani, Kanisius, Yogyakarta
Suhendar, Endang dan Yohana Budi Winarni (1998), Petani dan konflik Agraria, Akatiga, Bandung
Suryo, Djoko (1989), Desa dalam Perspektif Sejarah, PAU-SS-UGM
Sztompka, Piotr (2004), Sosiologi Perubahan Sosial, Terjemahan, Prenada, Jakarta
Tjondronegoro, SMP (1999), Sosiologi Agraria, Penyunting MT Felix Sitorus dan Gunawan Wiradi, Akatiga, Bandung
------------------ (1999), Keping-keping Sosiologi dari Pedesaan, Dirjen Dikti, DPK, Jakarta
Wertheim, WF (1999), Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Terjemahan, Tiara Wacana, Yogyakarta
I. Deskripsi Mata Kuliah:
Mata kuliah ini membahas, hakekat dan ruang lingkup sosiologi pedesaan, keterkaitan sosiologi pedesaan dengan sosiologi dan ilmu-ilmu lainnya, konsep-konsep desa, bentuk-bentuk desa, sejarah dan struktur pemerintahan desa, lembaga sosial pedesaan, keagrariaan dan petani serta ekologi pedesaan, desa dalam perspektif Durkheimian, Weberian, dan Marxian; desa dalam perspektif pembangunan di Indonesia, gender di pedesaan, strategi pembangunan pedesaan, dinamika dan perubahan sosial pedesaan, perbandingan pedesaan Indonesia dengan pedesaan di negara-negara lain.
II. Tujuan Instruksional Umum:
Setelah perkuliahan ini berlangsung mahasiswa memahami:
a. hakekat dan ruang lingkup sosiologi pedesaan
b. keterkaitan antara sosped dng sosiologi dan ilmu-ilmu lainnya
c. konsep-konsep desa, keagrariaan dan petani pedesaan
d. bentuk-bentuk desa, ekologi pedesaan
e. sejarah dan struktur pemerintahan desa
f. lembaga sosial pedesaan, perekonomian pedesaan
g. desa dalam perspektif Durkheimian
h. desa dalam perspektif Weberian
i. desa dalam perspektif Marxian
j. desa dalam perspektif pembangunan
k. gender dan strategi pembangunan pedesaan
l. dinamika dan perubahan sosial pedesaan
m. perbandingan pedesaan Indonesia dengan pedesaan di negara-negara lain
III. Strategi Perkuliahan:
Untuk mencapai perkuliahan maka dilakukan berbagai pendekatan/ strategi, antara lain: ceramah kelas, diskusi kelompok, praktek lapangan (PL).
Ceramah dilakukan pertemuan 1 s.d 8
Ujian Tengah Semester (UTS) di pertemuan ke-9
PL dilakukan pada pertemuan ke-10
Diskusi kelompok dilakukan pada pertemuan ke 11-14
Ujian Akhir Semester (UAS) pada pertemuan ke-15
IV. Sistematika Materi dan Jadwal Perkuliahan:
Ke Materi Kuliah Bahan Bacaan
1 - Hakekat dan ruang lingkup sosiologi pedesaan
- keterkaitan antara sosiologi pedesaan dengan disiplin ilmu sosiologi dan ilmu sosial lainnya
• Kartohadikoesoemo, Soetardjo (1965), Desa, Sumur Bandung, Bandung
• Sanderson, Stephen, K (1993), Sosiologi Makro, Terjemahan, CV Rajawali, Jakarta
• Slamet, Ina. E (1965), Pembangunan Masyarakat Desa, Bhratara, Jakarta
• Tjondronegoro, SMP (1999), Keping-keping Sosiologi dari Pedesaan, Dirjen Dikti, DPK, Jakarta
2 - konsep-konsep desa
- bentuk-bentuk/tipe desa
- sejarah dan struktur pemerintahan desa
- lembaga sosial pedesaan • Tjondronegoro, SMP (1999), Keping-keping Sosiologi dari Pedesaan, Dirjen Dikti, DPK, Jakarta
• Tjondronegoro, SMP (1999), Sosiologi Agraria, Penyunting MT Felix Sitorus dan Gunawan Wiradi, Akatiga, Bandung
• Burger, DH dan Prajudi (1962), Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Djilid 1 dan 2, Pradnjaparamita, Jakarta
• Dharmawan, A.H, editor (2006) Pembaharuan Tata Pemerintahan Desa Berbasis Lokalitas dan Kemitraan, LPPM-IPB, Bogor
3 - keagrariaan dan petani pedesaan
- ekologi pedesaan
- perekonomian pedesaan • Tjondronegoro, SMP (1999), Keping-keping Sosiologi dari Pedesaan, Dirjen Dikti, DPK, Jakarta
• Burger, DH dan Prajudi (1962), Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Djilid 1 dan 2, Pradnjaparamita, Jakarta
• Sayogyo (1982) Perekonomian Desa, Obor, Jakarta
• Kasryno, Faisal (1984), Prospek Pembangunan Ekonomi Pedesaan, Obor, Jakarta
• Boeke JH (1983), Prakapitalisme di Asia, Terjemahan, Sinar Harapan, Jakarta
• Sayogyo (1987), Ekologi Pedesaan, Penyunting, Obor, Jakarta
• Boeke, J.H (1983), Prakapitalisme di Asia, Terjemahan, Sinar Harapan, Jakarta
• Suhendar, Endang dan Yohana Budi Winarni (1998), Petani dan konflik Agraria, Akatiga, Bandung
• Soetomo, Greg (1997), Kekalahan Manusia Petani, Kanisius, Yogyakarta
•
4 - desa dalam perspektif Durkheimian
• Johnson, Doyle Paul (1994), Teori Sosiologi, Klasik dan Modern, Terjemahan, PT Gramedia, Jakarta
• Clements, Keikn, P (1999) Teori Pembangunan; Dari Kiri ke Kanan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
• Nasikun (1998), “Teori dan Konsep Studi Pedesaan”, Kursus Singkat,PAU-SS-UGM, Yogyakarta
5 - desa dalam perspektif Weberian
• Johnson, Doyle Paul (1994), Teori Sosiologi, Klasik dan Modern, Terjemahan, PT Gramedia, Jakarta
• Evers, Hans-Dieter (1988), Teori Masyarakat: Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern, Terjemahan, Obor, Jakarta
• Clements, Kevin, P (1999) Teori Pembangunan; Dari Kiri Nasikun (1998), “Teori dan Konsep Studi Pedesaan”, Kursus Singkat,PAU-SS-UGM, Yogyakarta ke Kanan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
•
6 - desa dalam perspektif Marxian
• Johnson, Doyle Paul (1994), Teori Sosiologi, Klasik dan Modern, Terjemahan, PT Gramedia, Jakarta
• Evers, Hans-Dieter (1988), Teori Masyarakat: Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern, Terjemahan, Obor, Jakarta
• Clements, Kevin, P (1999) Teori Pembangunan; Dari Kiri ke Kanan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
• Nasikun (1998), “Teori dan Konsep Studi Pedesaan”, Kursus Singkat,PAU-SS-UGM, Yogyakarta
7 - desa dalam perspektif pem-bangunan
• Hoogvelt, Ankie MM (1985), Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang, Terjemahan, CV Rajawali, Jakarta
• Ali, Medekhan (2006), Orang Desa: Anak Tiri Perubahan, Averroes Press, Malang
• Korten, DC dan Sjahrir (1988), Pembangunan Berdimensi Kerakyatan, Terjemahan, Obor, Jakarta
• Soetomo, Greg (1997), Kekalahan Manusia Petani, Kanisius, Yogyakarta
8 - gender di pedesaan
- strategi pembangunan pedesaan
• Korten, DC dan Sjahrir (1988), Pembangunan Berdimensi Kerakyatan, Terjemahan, Obor, Jakarta
• Long, Norman (1987), Sosiologi Pembangunan Pedesaan, Terjemahan, Bina Aksara, Jakarta
• Clements, Kevin, P (1999) Teori Pembangunan; Dari Kiri ke Kanan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
• Dharmawan, A.H, editor (2006) Pembaharuan Tata Pemerintahan Desa Berbasis Lokalitas dan Kemitraan, LPPM-IPB, Bogor
• Budiman, Arief (199 ), Pembagian Kerja secara Seksual, Gramedia, Jakarta
9 - UTS (Ujian Tengah Semester)
10 - Dinamika dan perubahan sosial pedesaan
• Kartodirjo, Sartono (1993), Pembangunan Bangsa, Aditya Media, Yogyakarta
• Sztompka, Piotr (2004), Sosiologi Perubahan Sosial, Terjemahan, Prenada, Jakarta
• Wertheim, WF (1999), Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Terjemahan, Tiara Wacana, Yogyakarta
11 - PL (Praktek Lapangan)
12 - diskusi kelompok
* proses-proses sosial
* lembaga-lembaga sosial
* group sosial
* organisasi sosial
* sistem status dan pelapisan sosial
* pola hubungan antarsuku
* pola komunikasi
* kekuasaan dan wewenang
* gender
13 - diskusi kelompok
* proses-proses sosial
* lembaga-lembaga sosial
* group sosial
* organisasi sosial
* system status dan pelapisan sosial
* pola hubungan antarsuku
* pola komunikasi
* kekuasaan dan wewenang
* gender
14 - perbandingan pedesaan Indonesia dengan pedesaan di negara-negara lain
• Fukutake, Tadashi (1989), Masyarakat Pedesaan di Jepang, PT Gramedia, Jakarta
• Wertheim, WF (1999), Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Terjemahan, Tiara Wacana, Yogyakarta
15 - Ujian Akhir Semester (UAS)
Hakekat dan Ruang Lingkup Sosiologi Pedesaan
• Lulusan SLTA mudah melihat yang konkrit dan pragmatis
wilayah sosiologi abstrak dan butuh waktu untuk me-
resapkannya dalam benak. Apalagi untuk sampai
kepada teoritisasi
semua tergantung pada minat seseorang
contoh:
Vilfredo Pareto (1848-1923) * ahli matematika
Talcott Parsons (1902-1979) * ahli ekonomi
Jembatan antar ilmu, dengan tokoh:
Karl Marx (1795-1866) * Ekonomi dan Sosiologi
GS Becker (1957-1988) * Ekonomi dan Sosiologi
Pengaruh ilmu Fisika dan kedokteran kehakiman
R Descartes (1596-1650)
F Bacon (1561-1626)
Ferry (Italia) * ilmu fisika
Howard Becker * kedokteran kehakiman/
Forensic
• Awal ilmu sosiologi sangat dipengaruhi ilmu eksak atau mirip orga-
nisme tubuh manusia (biologi)
Tokoh:
H Spencer (1820-1903)
CH Darwin (1809-1882)
dikenal sebagai fisika sosial Quitelet * ahli statistik
• Sosiologi
substansial
Tokoh :
Ibn Khaldun (1332-1406) MUQADDIMAH (9 jilid)
Jilid 1 (hampir 1000 halaman) 845
Isi :
- perubahan umat manusia secara umum (I)
- peradaban badui, bangsa dan kabilah, kondisi ke-
hidupan mereka (II)
- dinasti, kerajaan, khalifah, pangkat, pemerintahan,
dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu (III)
- negeri dan kota, serta semua bentuk peradaban yg
terjadi disana (IV)
- aspek kehidupan (mencari keuntungan dan pertu-
kangan dan yang berkaitan dengan itu (V)
- macam ilmu pengetahuan, metode pengajaran dan
Kondisi yang berkaitan dengan itu
formatial
Ahli filsafat Perancis Auguste Comte (1798-1857)
Sekitar 4 abad bicara masyarakat Ibn Khaldun
Course of Positive Philosophy
Hukum 3 tahap : - teologis
- metafisik
- positif
• Pendekatan dalam sosiologi beraneka ragam, seperti:
Sosiologi kurang menarik jika mereka berkehendak sebagai “tukang”
yakni suka merekayasa dan bereksperimen serta mencapai
hasil nyata
idealnya mereka adalah: kritis, analitis dan imaginative serta
dalam waktu panjang
dengan ilmu alam (misalnya) prinsip bahwa keanekaragaman
budaya antarorang dan bangsa
dengan akal, akhlak dan nilai menambah variasi pula
Beberapa pendekatan:
i. Aliran : - aliran geografi
- aliran antropologi-sosial
- aliran psikologi
- dll
ii. Cakupan : makro dan mikro
- makro berskala besar dalam kehidupan
masyarakat (sistem politik, ekono
mi, pola kehidupan keluarga, dan
bentuk dan system keagamaan)
Menekankan jaringan kerja dunia
dari berbagai masyarakat yang
saling berinteraksi.
- mikro menekankan gaya komunikasi
verbal/nonverbal dalam hubungan
face-to-face, proses pengambilan
keputusan para hakim, integrasi ke
lompok, keanggotaan dalam klp.
Spesialisasi-spesialisasi (perkembangan kebutuhan masyarakat)
• sosiologi pedesaan
• sosiologi perkotaan
• sosiologi deviansi
• sosiologi gender
• sosiologi wanita
• sosiologi makanan
• sosiologi pembangunan
• sosiologi uang
• sosiologi lainnya
• Hubungannya dengan ilmu-ilmu lainnya
* Ilmu Ekonomi (ekonomika dan bisnis) barang-barang dan pelayanan, distribusi dan pola-pola keuangan
* Ilmu politik bentuk-bentuk dan fungsi-fungsi pemerin-tahan
* Ilmu Antropologi memberikan perhatian pada nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat baik primitive maupun kontemporer
* Ilmu Sejarah membantu mendeskripsikan situasi sosial, permasalahan dan kejadian masa lalu hingga sekarang
• Hubungan (khusus) Sosiologi Pertanian dengan Sosiologi Pedesaan
Agricultural Sociology Rural Sociology
Kesamaan
1. bisa disamakan dan berlaku pada penduduk pedesaan yang hidup dari pertanian
2. pada masyarakat pra-industri (dulu). Bila penduduk desa sedikit, perlu dipisahkan.
Ukurannya: pertanian hanya 1/10 dari jumlah penduduk desa atau kurang
Objek
+ keseluruhan penduduk yang bertani + seluruh penduduk desa yg terus me
tanpa memperhatikan jenis tempat nerus/sementara tinggal di sana
tinggal
+ membahasa fenomena sosial dlm bi- + tak perduli (petani/bukan, orang yg
dang ekonomi-pertanian yg menyang sedang berlibur), hidup dan berga-
kut pada petani dan permasalahan hi- ul antarsesama di desa diatur oleh:
dup petani nilai, norma, dan otoritas tindakan
+ tema besarnya: yang berorientasi kepada:
- UU pertanian - kelp & organisasi yang hi-
- organisasi pertanian dup
- usaha tani, koperasi dan ma- - masalah mana yg muncul
salah sosial pertanian serta - bantuan sosial mana yg da-
posisi sosial dlm masyarakat pat diselesaikan
Sosiologi Agraria (Agrarian Sociology)
“Keseluruhan penduduk yang sangat berkepentingan dengan keagrariaan dan merupakan bagian dari hidupnya tanpa memandang jenis tempat tinggalnya”
Tema:
- UU pertanahan
- UU lingkungan hidup (pencemaran)
Konsep Sosiologi Pedesaan/Pengertian Desa
Umum : tempat dimana bermukim penduduk dengan ‘peradaban’ yang lebih terbelakang daripada kota.
Biasanya dicirikan dengan bahasa ibu yang kental, tingkat pendidikan yang relative rendah, mata pencaharian umumnya bidang pertanian
KUBI : 1/ sekelompok rumah di luar kota yang mempunyai kesatuan:
kampung, dusun
2/ udik atau dusun (daerah pedalaman lawan kota)
3/ tempat, tanah, daerah
Sosiologi : kesatuan masyarakat/komunitas penduduk yang bertempat tinggal dalam suatu lingkungan dan mereka saling mengenal serta corak kehidupan mereka relative homogen dan bergantung pada alam
Sosiologi Pedesaan (Lowry Nelson) deskripsi dan analisis dari institusi desa
dan kelompok
Konsep-konsep/Definisi Desa
• Desa (Soetardjo)
• “ Suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa yang mengadakan pemerintahan sendiri”
• Desa adalah sistem pemerintahan terkecil yang diberi kewenangan mengatur sebagian urusan pemerintahan (berdasarkan UU No 32/2004)
• Kemunculan Desa
- alamiah (dari dalam)
- buatan (dari luar)
• Alasan (kemunculan) Pedesaan
* statistic (jumlah)
* sosial-psikologis (rasa kebersamaan: sedarah, seketurunan dll)
* ekonomi-pertanian (bermata pencaharian sama)
* sosial-kultural (berkebudayaan sama)
* teritorial-administratif (kewilayahan)
* sosiologis (kedekatan hubungan antarwarga)
* politis (pertimbangan politis: baik masa kerajaan hingga kemerdekaan)
• Bentuk/tipologi (dari usaha) Desa :
- desa nelayan/perikanan
- desa transmigrasi
- desa kerajinan
- desa tambangan (penyeberangan)
- desa pertanian (sawah menetap: pengairan, tadah hujan; pela-
dang berpidah)
- desa perkebunan
- desa pasar (dagang)
- desa keramat (ziarah, sumber air, tambang dll)
- desa tambakan (mula ditemukan ikan laut, dipelihara di daratan
dengan air asin dan diberi nama “bandeng”. Kolam-
nya disebut “tambak”)
- desa industri dll
• Tipografi Desa
- desa pegunungan
- desa dataran rendah
- desa dataran tinggi
- desa pantai
• Tipologi/penggolongan/klasifikasi dan potensi Desa
- penetapan kesepakatan dari penelitian tahun 1971/72, yaitu:
(i) pra-desa
(2) desa swadaya
(3) desa swakarya
(4) desa swasembada
(5) desa pancasila
Soedarsono (Mantan Mentan, alm Keping-keping…Tjondronegoro, SMP, hal 36)
“dasar faktor alam tidak turut secara langsung menentukan klasifikasi/tipologi desa” --- ‘sebaiknya didasarkan atas kemampuan atau potensi faktor alam untuk menghasilkan, yang diakibatkan oleh sifatnya dan terlepas dari pengaruh manusia’
Potensi Alam
Lingkungan hidup manusia
Penduduk
Usaha-usaha manusia
Prasarana-prasarana yang telah dibuat
Jumlah nilai > 7 pra-desa
7 – 11 desa swadesa
12 – 16 desa swakarya
17 – 21 desa swasembada
< 21 desa pancasila Variabel dalam Menentukan Desa Tertinggal sesuai BPS 1999 No Variabel Klasifikasi Skore I POTENSI DESA 1 Tipe LMD (atau yang setara) Tipe 3 3 Tipe 1 atau 2 2 Tipe 1 1 2 Jalan utama Aspal 3 Diperkeras 2 Tanah 1 3 Sebagian penduduk bergan-tung pada potensi Jasa, perdagangan dll 3 Industri/kerajinan 2 pertanian 1 4 Rata-rata tanah pertanian yang diusahakan per rumahtangga tani untuk pertanian > 1 Ha 3
0,5 – 1 Ha 2
< 0,5 Ha 1 5 Jarak dari desa/kelurahan ke ibukota kecamatan 0 – 5 km 3 5 – 9 km 2 > 10 km 1
6 Fasilitas pendidikan s.d SLTA ke atas 3
s.d SLTP ke atas 2
s.d SD 1
7 Fasilitas kesehatan Poliklinik ke atas 3
Puskesmas 2
Puskesmas Pembantu 1
8 Tenaga kesehatan Dokter 3
Paramedis 2
Dukun Bayi 1
9 Sarana komunikasi Telepon terpasang/umum 3
Kantor Pos 2
Tidak ada sarana 1
10 P a s a r Bangunan pasar permanent/setengah permanent 3
Kios/pertokoan 2
Tanpa bangunan 1
II PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN
11 Kepadatan penduduk 0 – 200 jiwa/km2 3
201 – 299 jiwa/km2 2
> 300 jiwa/km 1
12 Sumber air minum PAM, pompa listrik 3
Sumur pompa/mata air 2
Air hujan 1
13 Wabah penyakit selama setahun Tidak ada wabah 3
Selain muntaber/demam berdarah paling sedikit sekali 2
Demam berdarah/muntaber paling sedikit sekali 1
14 Bahan bakar Listrik/gas 3
Minyak tanah 2
Kayu bakar 1
15 Pembuangan sampah Tempat sampah dan diangkut 3
Ke dalam lubang 2
Ke sungai dll 1
16 J a m b a n Sendiri 3
Bersama-sama 2
Bukan jamban 1
17 Penerangan listrik Listrik PLN 3
Listrik non-PLN 2
Lainnya/tidak ada 1
18 Rasio banyaknya tempat ibadah per 1000 penduduk > 5/1000
3
(2 – 4)/1000 2
< 1/1000 1 III KEADAAN PENDUDUK 19 Rata-rata banyaknya ternak per rumahtangga > 5 ekor 3
2 – 4 ekor 2
< 1 ekor 1 20 Persentase rumahtangga yang memiliki TV > 29 3
5 – 29 2
< 5 1 21 Persentase rumahtangga yang memiliki telepon > 9 % 3
1 – 9 % 2
< 5 % 1 IV TAMBAHAN VARIABEL UNTUK DAERAH PEDESAAN 22 Rumahtangga pertanian > 15 % 3
16 – 29 % 2
> 30 % 1
Sumber: Ivanovich Agusta (2007)
• Struktur/sketsa Desa
- desa Jawa
Penduduk di tengah di kelilingi sawah
- desa luar Jawa
Sawah di tengah di kelilingi rumah penduduk
- desa di negara lain
* Rectangular = bujur sangkar/empat segi panjang
* Square = persegi
* 4 – square = 4 (doble) persegi
* Elongated = memanjang
* Circular = sirkuler/melingkar
* Radial Plan = jari-jari lingkaran
* Poligon = segi banyak
* Horse-shoe = sepatu kuda
* Irreguler = tidak beraturan
* Double nucleus = dua inti
* Fan-pattern = pola kipas angin
* Street = jalan
* Oval = oval
• Kapan desa ditemukan?
Oleh pemerintah asing (Raffles, 18 September 1811) dibantu Hermans
Warners Muntinghe dalam laporannya (14 Juli 1817), ditemukan ada
desa-desa di daerah pesisir utara pulau Jawa Utara
• Sifat desa Indonesia homogen (individualistik)
heterogen (etnis/adat-istiadat/kondisi dan potensi daerah
/latar belakang sejarah/bahasa/system pemerintahan
/luas unit teritorial (geografik)/tingkat kepadatan/
tingkat perkembangan masyarakat dll
• Desa Indonesia, bangunan asing atau asli Indonesia? perdebatan
Mr van Den Berg desa (Jawa) dibikin atas pengaruh Hindu
Prof Kern desa (Jawa) asli dari India
Prof van Vollenhoven desa (Jawa) ciptaan orang Indonesia asli
Didukung oleh: Prof J.De Louter
Dr Brandes
FA Liefrinck
Mr Lekkerkerker
• Asal kata (epistimologi) Desa
“desa”, “dusun”, “dessi”, “desi” (ingat kata swa-desi)
“negara”, “negeri”, “negari”, “nagari”, “negori” (nagaroni)
Arti substansial: tanah air, tanah asal, tanah tumpah darah, tanah kela-
hiran
• Konsep Desa (sesuai Daerah Asal)
Perbedaan Bentuk Pemerintahan Desa
Perbedaan NAD Sumbar Jabar Bali Papua
Nama resmi pemerintahan formal terkecil Gampong/desa Nagari Desa Desa Dinas/
keperbekelan Kampung
Nama unit pemerintahan “adat” terkecil Mukim Nagari - Desa Adat/Desa Pakraman Kampung (adat)
Wilayah adat versus wilayah “desa” Satu mukim dapat terdiri dari satu atau lebih gampong/desa Adat selingkar Nagari. Satu Nagari meliputi satu atau lebih eks-desa Desa di Jabar tidak selalu parallel dengan batas wilayah adat Satu desa pakraman bisa terdiri dari satu atau lebih desa dinas Satu kampung bisa lebih besar atau lebih kecil daripada kampung adat
Nama Kepala Desa Kepala Desa atau Keuchik Wali Nagari Kepala Desa atau Kuwu Kepala Desa Dinas atau Perbekel Kepala Kampung
Nama Ketua Adat Imeum Mukim Ninik-Mamak - Pendeto Ondoafi atau Ondofolo
Dasar penentuan wilayah adat Religi (Wilayah Pengaruh Masjid Jami) Genealogis (kumpulan suku/marga) Geografis (bentang alam) dan historis Religi (Wilayah Pengaruh Pura) Genealogis (suku) dan historis geografis
Lembaga di bawah desa Lorong Jorong Dusun Banjar Dusun/Kerek
Lembaga supradesa Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Distrik
Lembaga “legislative desa” BPD
(Bamusdes) BPN (Badan Permusyawaratan Nagari) BPD
(Bamusdes) BPD
(Bamusdes) BPK
(Bamuskam)
Sumber Utama Dana Desa Pagu Anggaran dari Pemda Dana Alokasi Umum Nagari (DAUN) Pagu Anggaran dari Pemda Pagu Anggaran dari Pemda Dana Otsus Pembangunan Kampung
Lembaga nonstructural yang berpengaruh Lembaga kemukiman (Masjid Jami) Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ulama. Tokoh yang dituakan Lembaga Desa Pakraman Kampung Adat. Lembaga gereja
Kepemilikan lahan pribadi (normative) Diakui adat Tidak diakui adat Diakui adat Diakui adat Tidak diakui adat
Kepemilikan lahan kolektif Sebagian Semua Sebagian Sebagian Semua
Sumber: Dodik Ridho Nurrochmat, 2006
- Jawa, bali, Madura d e s a, pakraman (Bali)
- Sumatera Selatan, Babel kampung/dusun
- R i a u penghulu
- Sumatera Barat nagari
- Sumatera Utara kuta, uta atau huta (setingkat desa)
- NAD (Aceh) gampong, meunasah, gejik
- Papua ondoafi (andewapi)
Pada Jaman Kolonial
Menyebut Belanda => negeri
Misal: pergi ke negeri
Solo/Surakarta sebutan kota Solo negari
Misal : mantuk dateng negari
Sejarah dan Struktur Pemerintahan Desa
Desa berdasarkan perspektif Periodesasi/sejarah:
• Periodesasi menurut fase pra-sejarah dan sejarah
Dasar pembagian menurut perubahan kebudayaan dan peradaban (teknologis).
Pembagian jaman terdiri atas:
a. Jaman pra-sejarah
b. Jaman sejarah yang dapat dibagi menjadi
(i) Jaman kuno
(ii) Jaman baru/modern
• Periodesasi menurut fase perkembangan politik dan sosial budaya
a. Masa desa dalam negara tradisional
b. Masa desa dalam negara colonial
c. Masa desa dalam negara nasional Indonesia
• Periodesasi menurut fase perkembangan ekonomi
Pra-industri Industri
Fase partoral, pertanian, industri
• Periodesasi lainnya yang bisa disusun sesuai dengan tema dan dimensi yang dianggap pokok
Djoko Suryo, 1989
Sejarah Pemerintahan Desa (dalam Perbandingan)
No Substansi UU 5/1979 UU 22/1999 UU 32/2004
1 Nama dan Alamat Disebut sebagai UU Pokok Pemerintahan Desa.
Azas desentralisasi, dekonsentasi dan tugas perbantuan yang dalam praktiknya lebih cenderung pada tugas perbantuan Disebut sebagai UU Pemerintahan Daerah.
Azas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas perbantuan yang mengarah pada prinsip devolusi. Disebut sebagai UU Pemerintahan Daerah.
Asas desentralisasi, dekonsentgrasi dan tugas perbantuan yang kental dengan nuansa delegasi.
2 Batasan “Desa” Desa adalah system pemerintahan terkecil yang nama dan bentuk kelembagaannya diseragamkan untuk seluruh Indonesia. Dengan penyeragaman diharapkan dapat mempermudah koordinasi pemerintahan. Kenyataannya, penyeragaman mematikan kekhasan sifat komunitas di Indonesia dan menafikan asal-usul masyarakat adapt Desa menjadi kesatuan wilayah dan system pemerintahan terkecil yang diberikan kewenangan mengatur dan mengurus diri sendiri. Menghargai realitas keragaman dan hak asal usul desa. Berpotensi memicu ketegangan hubungan Kades dan BPD. Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dapat tersendat. Desa adalah system pemerintahan terkecil yang diberi kewenangan mengatur sebagian urusan pemerintahan. Meningkatnya peran dan intervensi negara dalam urusan desa dan muncul praktik resentralisasi. Realitas keragaman masih dihargai. Hubungan Kades dan Bamusdes diharapkan lebih baik sehingga perencanaan dan pelaksanaan pembangunan berjalan lancer.
3 Fungsi Lembaga Perwakilan Desa Lembaga Musyawarah Desa (LMD) sebagai Mitra Kepala Desa (Kades). Kades tidak bertanggungjawab kepada LMD Badan Perwakilan Desa (BPD) dipilih langsung oleh rakyat. Kades bertanggungjawab kepada BPD Badan Permusyawaratan Desa (Bamusdes) dibentuk dari hasil musyawarah desa. Kades tidak bertanggungjawab kepada Bamusdes
4 Demokrasi dan Tata pemerintahan Desa Desa menjadi daerah yang sangat tergantung pada negara/kabupaten dalam menjalankan tatapemerintahannya. Menafikan pluralisme budaya dan heterogenitas system pemerintahan local. Kepala desa berhak mengatur desa tanpa melibatkan masyarakat. LMD dapat memberikan saran dann pertimbangan kepada Kades dalam kebijakan public. Muncul ruang demokrasi dalam proses pertanggungjawaban kepada BPD. BPD merupakan representasi rakyat karena dipilih langsung oleh rakyat. Dalam mengambil kebijakan public Kades berkonsultasi kepada BPD. Menunjukkan bawah pemerintahan desa adalah perwakilan negara/kabupaten, selain sebagai pemerintahan yang otonom. Bamusdes adalah representasi keterwakilan golongan di masyarakat. Dalam mengambil kebijakan public Kades berkonsultasi dengan Bamusdes namun tidak bertanggungjawab kepada Bamusdes.
5 Administrasi Batasan administrative ditentukan dari atas tanpa mempertimbangkan pola awal. Pola admintrasi desa banyak diwarnai ide dan semangat lokalitas. Kondisi politik local santgat mempengaruhi kelancaran administrasi dan pelayanan. Upaya standarisasi (resentralisasi) administrasi desa. Mengurangi pengaruh politik local dalam administrasi dan pelayanan.
6 Kelembagaan Lembaga legislative (LMD) dan lembaga eksekutif (kades) berada di satu tangan sehingga menutup ruang control. Kades sekaligus sebagai ketua LMD Desa memiliki lembaga pengawasan dan control yaitu BPD yang dipilih dari penduduk desa. Pembentukan lembaga lain lebih aspiratif karena merujuk pada Perdes (pasal 106). Ekses konflik perorangan menjadi konflik lembaga. Program desa dapat terhambat. Prakarsa pengaturan kelembagaan desa berada di tangan kabupaten. Melemahkan peran masyarakat sipil, rawan manipulasi dan kepentingan elit desa. Melemahnya peran lembaga legislative desa. Program desa lebih terjamin keberlangsungannya.
7 Keuangan Desa Desa sangat tergantung pada kabupaten. Desa hanya menjadi sumber keuangan, namun keputusan penggunaan tetap berada di tangan kabupaten. Desa berhak mengatur keuangan melalui APBDes. Rujukan pendirian badan usaha berdasarkan perundang-undangan sehingga mempersempit ruang insiatif desa. Mengindikasikan peran desa hanya terbatas pada sumber pungutan untuk kepentingan kabupaten
8 Prinsip Pembiayaan/Anggaran Desa Fungsi mengikuti anggaran (functional follows Finance). Pembangunan desa tergantung dari pemberian Subsidi Daerah Otonom dan Inpres dari Pusat. Anggaran mengikuti fungsi (functional follows Finance). Besarnya pembiayaan pembangunan desa sesuai dengan fungsi/perencanaan yang telah ditetapkan desa dengan persetujuan BPD Anggaran mengikuti fungsi (functional follows Finance). Besarnya pembiayaan pembangunan desa sesuai dengan fungsi/perencanaan yang telah ditetapkan desa dengan berkonsultasi Bamusdes.
9 Kedudukan dan Kewenangan Kepala Desa Hak, Kewenangan dan Kewajiban Kades diatur dari atas sehingga Kades kehilangan otoritasnya. Hak untuk mengatur dan mengurus pemerintahan desa menjadi kewenangan pemerintah di atasnya. Peran kabupaten hanya berfungsi menerima laporan. Kades memainkan peran yang besar untuk mengatur kehidupan warganya sekaligus mempertangungjawabkan melalui BPD (pasal 99-103) Desa ditempatkan sebagai domain politik dan kekuasaan kabupaten. Kewenangan desa masih abstrak, memberikan cek kosong kepada kabupaten untuk mengatur desa sesukanya.
10 Hubungan dengan Supradesa Seragam-sentralisasi. Pemerintahan kabupaten memiliki kekuasaan yang besar untuk mendelegasikan apa saja ke desa tanpa berunding dengan orang desa. Pengaturan hubungan desa-supradesa memberikan kekuasaan tertinggi kepada kabupaten. Kabupaten sebagai lembaga yang menerima laporan kepala desa. Kabupaten memainkan peran yang menguat terhadap pemerintahan desa
11 Kerjasama Desa Desa tidak dapat memutuskan dengan siapa akan membangun kerjasama Kerjasama dibangun dengan fleksibel tanpa harus melalui kabupaten. Prakarsa dalam kerjasama dengan pihak ketiga mendapat control (dikendalikan) oleh supralokal (pasal 214)
12 Penghargaan terhadap Otonomi Desa Otonomi desa hampir tidak ada. Peran kades sangat dominan dan berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintahan supradesa Pertumbuhan demokrasi dan penghargaan terhadap otonomi desa mulai diakui (pengakuan hak asal-usul desa, BPD, terpisahnya legislative-eksekutif, desa berhak menolak intervensi supradesa) Desa menjadi subordinate dari kabupaten. Tidak ada kejelasan pembagian dan pemisahan kekuasaan di desa, kekuasaan eksekutif untuk memerintah dan kekuasaan legislative untuk mengontrol.
13 Civil Society Kesadaran politik masyarakat desa ditekan. Desa menjadi arena deideologisasi melalui kooptasi partai Golkar. Secara umum substansi UU ini memberikan penghargaan terhadap berkembangnya civil society di desa UU ini tidak membahas secara spesifik civil society di desa, selain lembaga-lembaga yang berhubungan dengan negara.
14 Pembangunan dan Investasi Pembangunan ekonomi dirumuskan para teknokrat dan birokrat pusat. Keputusan pembangunan dan investasi ada ditangan Kades sebagai legislative sekaligus eksekutif. Pembangunan dan investasi ke desa ditentukan oleh kabupaten Kebijakan pembangunan bersifat state oriented dibandingkan dengan society oriented (pasal 215)
Struktur Pemerintahan dari Masa ke Masa
Awal
Abad 1500 – 1800 1800 – 1900 1945 – 1960 UU No.5/ UU No.22/ UU No.32/
14-14/15 1979 1999 2004
Lembaga Sosial Pedesaan
Keagrariaan dan Petani Pedesaan
Sistem Pemilikan Tanah (Jawa)
• Milik umum/komunal dengan pemakaian beralih-alih
• Milik komunal dengan pemakaian bergilir
• Milik komunal dengan pemakaian tetap
• Milik pribadi
(Koentjaraningrat, 1977:62)
Permasalahan atas Tanah
• Masalah penggarapan
• Masalah berkenaan dengan pelanggaran landreform
• Ekses-ekses dalam penyediaan tanah itu untuk pembangunan
• Sengketa perdata berkenaan dengan masalah tanah
(Sumardjono, 1995: 4)
Ekologi Pedesaan
Golongan masyarakat dalam kacamata ekologi sosial
• Masayarakat yang memberikan jasa (pertanian, perikanan, pertambangan)
• Masyarakat yang berfungsi sebagai distribusi ( perdagangan, pemasaran)
• Masyarakat yang menjalankan industri
• Masyarakat yang menjadi pusat pendidikan, politik dan pertahanan
(Kartodirdjo, 1977: 8)
Teori filsafat lingkungan (Skolimowski, 2004)
• Lingkungan berorientasi kehidupan
• Lingkungan berkomitmen pada nilai-nilai manusia alam dan kehidupan itu sendiri
• Lingkungan hidup secara spiritual
• Lingkungan bersifat komprehensif dan global
• Lingkungan berkenaan dengan kebijaksanaan
• Lingkungan sadar secara lingkungan dan ekologis
• Lingkungan bersekutu dengan ekonomi kualitas kehidupan
• Lingkungan sadar secara politis
• Lingkungan sangat memperhatikan kesejahteraan masyarakat
• Lingkungan lantang menyuarakan tanggung jawab individual
• Lingkungan toleransi dengan fenomena trasfisik
• Lingkungan sadar akan kesehatan
Perekonomian Pedesaan
Desa dalam Perspektif Durkheimian
Solidaritas
• Mekanik
• Organik KEKUATAN SOSIAL
Transformasi Masyarakat
Memasuki Masyarakat Industrial
Dualisme-difusionis
(tertib masyarakat dikuasai “kebudayaan”,
norma-norma dan nilai-nilai yang dianut warga desa)
• Semua parameter masyarakat ditentukan oleh kesadaran kolektif (collective conciousness)
• “kelas” adalah suatu sistem pemberian ganjaran untuk memelihara dan mengintegrasikan pembagian kerja masyarakat
• “kekuasaan” dikonsepkan sebagai suatu wahana untuk mencapai tujuan-tujuan masyarakat.
Dualisme-difusionis: Teori ini melihat proses integrasi nasional terutama sebagai proses
terbentuknya suatu sistem nilai nasional modern dan suatu budaya politik nasional yang sekuler.
Proses kumulatif terjadi dalam 3 tahap perkembangan:
1/ Tahap pra-industrial
2/ Periode industrialisasi dan elaborasi ketergantungan timbal-balik antara kota-desa
3/ Tahap perkembangan final dimana perbedaan di dalam peranan-peranan, norma-norma dan struktur-struktur kelembagaan masyarakat kota-desa secara bertahap makin menghilang
Prosesnya terjadinya:
• Ditandai oleh isolasi fungsional “pusat” yakni yang memiliki sektor-sektor ekonomi modern dan/atau perangkat kenegaraan yang paling dinamik dari daerah pinggiran.
Teori ini melihat pusat dan pinggiran sebagai dua kelompok budaya dan ekonomi (sering kali bersifat rasional, kesukuan atau keagamaan) yang sangat berbeda. Hubungan-hubungan sosial yang berkembang pada umumnya hanya terjadi di dalam masing-masing kelompok, dan jarang terjadi diantara keduanya.
• Melalui dan sebagai akibat proses industrialisasi, yang berpengaruh terhadap lembaga-lembaga kebudayaan, ekonomi dan politik di kawasan pusat maupun pinggiran. Terjadi “perembesan” struktur dan budaya modern sehingga memperluas modernisasi ke seluruh masyarakat. Sehingga struktur-struktur dan kebudayaan tradisional yang menguasai pinggiran mulai mengalami transformasi mengantar ke tahap ke 3 proses integrasi nasional
• Ketika perbedaan-perbedaan struktur dan kebudayaan antara pusat dan daerah makin menyempit dan masyarakat berhasil mengembangkan kehidupan ekonomi, politik, budaya yang rasional menuju titik “ekuilibrium”. Akhirnya, kebudayaan memunculkan fatalism, partikularism dan budaya kemiskinan.
Desa dalam Perspektif Weberian
Terdapat dua ikatan
1. Ikatan Desa
Asumsi:
- kehidupan ekonomi sederhana sendiri. Ingat “subsisten” cukup/cukupan
- lalu-lintas uang sedikit dan mobilitas sosial rendah
- kebutuhan cara produksi (mode of production) ditentukan oleh tradisi/norma
- bersifat turun-temurun
- ekonomi (dasar) = kenyataan (ketergantungan hidup manusia pada alam dan
lingkungan sosialnya (sesamanya) yang bersifat
tukar-menukar (materialnya) tertanam
- ekonomi (formal) = logika (kaitan antara alat dan tujuan. Ditunjukkan dengan
kata ‘hemat’ atau ‘berhemat’. Berisi “pilihan” atas
ketidak-cukupan secara ‘logika’/perilaku rasional
dia atas dalil kelangkaan (scarcity)
Ekonomi tertanam (melekat) Ekonomi terdiferensiasi
@ tolong menolong (lebih individual) dulu gotong royong (siskamling)
Perilaku timbal-balik (reciprocity) : antara titik hubungan yang sejajar dlm
kelompok
@ perilaku berbagi (redistribution) : gerakan pemilikan ke arah suatu pusat dan
kemudian keluar dari sana
@ perilaku tukar menukar (exchange) : gerakan balas membalas antara “tangan-
tangan” dalam suatu sistem pasar
- bukan sewa menyewa yang ada bagi hasil
- alat organisasinya adalah ikatan-ikatan komunal yaitu rasa persaudaraan antara
penduduk desa dan rasa tunduk pada lurah desa.
Dikembangkan oleh masyarakat secara turun temurun
Mendatar dan Vertikal (ikatan desa)
- ekonomi desa terbatas organisasi desa
hubungan-hubungan kekuasaan dan ketaatan dari raja,
dan bupati dll
2. Ikatan Feodal
Ikatan vertical semata. Tidak dalam persaudaraan
Ikatan adat dari masyarakat : ikatan langsung tanpa perjan-
jian atau ikatan kontrak
Ikatan Adat
Ekonomi Sosial
Raja
• pembagian pekerjaan (diferensiasi) + spesialisasi
• keluarga + desa dibebani pajak
Spesialisasi digaji apanagstelsel (sistem gaduh, lungguh, tjatu, perwatasan)
Pemegangnya (patuh atau juragan)
(raja dibantu untuk menarik penghasilan dari suatu daerah tertentu)
Upahnya tanah atau uang
Contoh:
Desa Perdikan
Desa Pakuncen/penjaga kuburan
Desa Pesantren/sekolah
Desa Kepatihan/desa para alim
Ekonomi terbuka
Organisasi kehidupan ekonomi “persewaan desa” (sistem perskot/pan-
jar/uang muka) biasanya “Tionghoa” menyewa untuk men-
dapatkan perdagangan beras
Bergantung pada * meski tamak desa lebih baik = untuk dagang
waktu (lamanya) * pribumi memeras untuk pribadi
Sentralisitik korupsi
Memerosotkan peran
Tolong menolong orang miskin ber tenaga tidak menerima
Konsep bertamu tuan rumah majikan bersifat
Tamu buruh ekonomi
diganti dengan makan + uang
Desa dalam Perspektif Marxian
Kekuatan Sosial
Transformasi Masyarakat
Memasuki Industrial Kapital
Pembangunan Tidak Seimbang
(watak dan dinamika masyarakat secara historis sangat dikuasai
oleh “struktur kelas” yang dimilikinya)
• “kelas” sebagai sumber di dalam hubungan-hubungan produksi
• “kekuasaan dan ideologi” yang berkuasa dikonsepkan sebagai derivasi dari organisasi kelas yang berkuasa untuk mereproduksi struktur kelas
Menurut teori ini, ciri yang mendasar dari cara produksi kapitalis terletak di dalam struktur kelas yang dimilikinya (kapitalis-proletar).
Di dalam teori ini produksi “nilai lebih” (surplus value) dan akumulasi kapital dilihat sebagai kekuatan pendorong utama dalam cara produksi kapitalis, sementara perkembangan kapitalis dipandang sebagai suatu proses yang bersifat ekspansif.
Ekspansi terjadi karena persaingan parakapitalis menuntut ekspansi akumulasi nilai dan produksi digerakkan oleh hasil kolektif dari perjuangan individual para kapitalis agar tidak tergusur menjadi kelas proletar.
Ekspansi dalam teori ini, sebagai kekuatan yang menciptakan disparitas antarkelas dan pada saat yang bersamaan menggerakkan perkembangan masyarakat.
Hukum perkembangan yang tidak seimbang bukan hanya menghasilkan kesenjangan distribusi kekayaan antarkelas, akan tetapi menyemaikan ketimpangan spasial antarwilayah.
Di dalam struktur pusat-pinggiran (kota-desa) ekonomi daerah pinggiran merupakan ekonomi tergantung. Ekonomi ekspor yang melayani permintaan bahan-bahan mentah parakapitalis metropolitan
“Perembesan” ke daerah sebagai industri yang kurang kompetitif. Terjadi penyedotan finansial ke pusat, sementara di daerah pinggiran terdapat tenaga buruh murah.
Desa dalam Perspektif Pembangunan
Gender di Pedesaan
Hak-hak Asasi Manusia yang dideklarasikan PBB tanggal 10 desember 1948
bahwa, hak-hak laki-laki dan perempuan doakui sebagai manusia yang merdeka
sehingga keduanya diperlakan adil dan beradab.
Gender Teori Nurture
(Perbedaan perempuan dan laki-laki adalah akibat dari hasil kon-
struksi sosial-budaya sehingga menghasilkan fungsi dan peran
yang berbeda. Maka perempuan selalu tertinggal, terabaikan dan
terlupakan).
Implikasi: - berkembangnya konsep kesamaan antara laki-laki dan
perempuan.
Teori Nature
(antara perempuan dan laki-laki adalah berbeda secara kodrati/
anugrah Tuhan. Perbedaan tersebut berimplikasi pada perbedaan
peran dan tugas yang berbeda. Terdapat peran yang dapat dipertu-
karkan dan yang tidak dapat dipertukarkan).
Implikasi: - perlu kerjasama baik structural maupun fungsional
Teori Keseimbangan
(setiap kebijakan dan strategi pembangunan perlu memperhitung-
kan kebutuhan peran laki-laki dan perempuan secara seimbang)
Kemeneg Pemberdayaan Perempuan, 2005
Teori Struktural
(ketertinggalan dan subordinasi perempuan merupakan aspek bu-
daya dan struktur sosial)
Teori Adaptasi Awal dan Konflik
Cenderung menyoroti perbedaan antara perempuan dan laki-laki
dari segi kepentingan dan kekuasaan.
(mengaitkan relasi perempuan dan laki-laki dihubungkan dengan
perkembangan peradaban manusia di mana kaun perempuan ter-
libat dalam aspek reprooduksi dan laki-laki pada aspek produktif)
Teori Struktural fungsional
(melihat relasi gender berdasarkan kondisi situasi budaya dan ke-
duanya dapat berbagi peran melalui pelembagaan norma-norma
yang sudah dikenal luas)
• Permasalahan gender dilihat dari 4 aspek:
- aspek sosial budaya
- aspek agama
- aspek ekonomi
- aspek hukum dan peraturan perundangan
Strategi Pembangunan Pedesaan
(policy intervention)
1. Community Development
Tahun 1950-an di India
- membangun masyarakat desa melalui kekuatan yang berasal dari desa itu sendiri (self rebalance development)
- UU No.85/1958 (Pembangunan Lima Tahun 1956-1960, ada 19 bidang. Salah satunya Pembangunan Pedesaan)
Ciri-ciri : * Pembangunan Integral
* Azas Kekuatan Sendiri
* Azas Permufakatan Bersama
* Strategi olie vlek or “oli sport” (go centre)
2. Growth Oriented/Rural Development
Tahun 1960-an. Pembangunan Pedesaan yang Berorientasi Pertumbuhan
Ciri-ciri : * Peningkatan Produksi
* Pembangunan Desa identik dengan Pembangunan eko-
nomi
* Intervensi Pemerintah ditekankan pada Pembangunan In-
frastruktur Pembangunan Desa
* Pembangunan Kemiskinan dilakukan melalui “tricle
down effect”
3. Basic Needs Strategy
Tahun 1970-an. Strategi Pemenuhan Kebutuhan Dasar
- Pengaruh ILO-PBB
- Charity Strategy diutamakan adalah pemenuhan pokok petani
- Capacity Building gagal dilihat dari Cina
- Upaya memperkuat delivery mechamism (siapa yang menerima service, dibuktikan adanya ketimpangan)
- PRA (Participatory Rural Appraisal) “Penilaian Pedesaan yang Partisipatoris”
- RRA (Rapid Rural Appraisal) “Penilaian Pedesaan yang Cepat)
4. Integrated Rural Development/IRD
Tahun 1980-an
Isinya : mengalami perkembangan; karena kegagalan dari konsep IRD pada masa
Lalu
Menurut Micheal Cennea ada 3 kelemahan:
(1) in-efisiensi (IRD telah gagal dalam memberantas kemiskinan)
(2) tidak sustainable (tidak berlanjut terus). Proyek saling berkompetisi sesama mereka sehingga menjadi berhenti sama sekali
(3) tidak replicable (proyek yang tidak sesuai dengan kondisi daerah). Karena ditopang oleh sumber-sumber yang tidak dapat diadakan pada kondisi normal
Sebab-sebab kegagalan IRD
a. tidak ada kemampuan menejerial untuk menjamin replicability
b. pelaksana IRD seringkali merupakan adverb policy (proyek-proyek IRD itu adalah proyek-proyek khusus dengan mem-by pass- melampaui struktur birokrasi formal
Berdasarkan atas kelemahan-kelemahan tadi IRD mengembang asumsi baru
a. tujuannya memberantas kemiskinan
b. kemiskinan dipandang sebagai multidimensional
c. konsekuensinya pendekatan multisektor
d. pembangunan pedesaan harus self realiance dev.
e. IRD diharapkan sustainable dan replicable
Dimensi-dimensi baru dalam IRD
1. konsep kemiskinan itu sendiri
- karena sistem IRD akan sangat tergantung kepada definisi seseorang menganai konsep kemiskinan
- kemiskinan diinterpretasikan sebagai the state of luck of resources (keadaan orang yang mempunyai sumber)
Pemecahannya IRD: menciptakan delivery mechanisme of resources
2. kemiskinan dipandang sebagai produk dari proses sosial dan hubungan sosial yang ada yang terbentuk oleh struktur sosial yang mengakibatkan distribusi sumber-sumber yang menguntungkan kaum kaya.
Di dalam keadaan demikian pemberantasan kemiskinan melalui IRD hanya dapat dilaksanakan dengan merubah hubungan-hubungan sosial dan struktur sosial
Bonded labor:
Petani petani kaya sampai hutang itu lunas
anak
Terbentuk ketergantungan harus diputus dengan delinking the poor
Caranya:
(a) menggantikan hubungan depensia (kaya + miskin) dengan dependensi terhadap proyek/LSM.
(b) “learning process”, men-delink rakyat dari orang-orang kaya dan menumbuhkan solidaritas diantara orang-orang miskin sehingga fungsi IRD akan juga menyangkut/membantu orang-orang miskin mengorganisasikan diri mereka sehingga dapat mempengaruhi proses sosial dan hubugan sosial.
Proses men-delink dapat dilakukan melalui beberapa cara:
i. emansipasi
ii. demarginalisasi
iii. empowerment
5. Pembangunan Berdimensi Kerakyatan
6. Pembangunan Berdimensi Kerakyatan
Dinamika dan Perubahan Sosial Pedesaan
Diferensiasi
Struktural Fungsional
Struktural 1 2
Fungsional 3 4
• Tipe desa yang berorientasi ke dalam: berekonomi moral, bersolidaritas komunal, patron-klien bersifat tertutup, bersifat kekeluargaan
• Tipe desa yang berorientasi ke luar : political economy, bersolidaritas rasional, renggang, bersifat kontrak, individualisasi (diperkuat oleh komersialisasi dan monetisasi hingga memunculkan mobilisasi)
1. Teori Sosial Darwinis (Herbert Spencer)
“Perkembangan evolusi masyarakat menunjuk pada pola pertumbuhan dari bentuk sederhana ke yang kompleks/coumpond, dari suatu yang homogenitas ke heterogenitas”
2. Teori Struktural-fungsional
Pada unit (1) ada integrasi struktural dan pada unit (2) ada integrasi fungsional
3. Digabung dengan Teori Durkheim
(1) solidaritas mekanik dan
(2) solidaritas organik
Sederhana Komplek
Terbuka Solidaritas
Mekanik Solidaritas
Disharmonis
Umum Solidaritas
Organik
Sederhana Solidaritas
Organis
Industrial
Tipe 1 : diwakili oleh organisasi desa tradisional, seperti: bersih desa, gotong royong, gugur-gunung. Sifatnya komunal
Tipe 2 : meskipun deferensi sudah dilakukan menurut fungsi tetapi masih terintegrasi secara structural. Contoh: KUD, PKK dll
Tipe 3 : contoh, arisan-trah, aliran kebatinan
Tipe 4 : contoh, organisasi politik, buruh, profesi dsb
A t a u
Sel 1 : menunjukkan keadaan desa berorientasi ke dalam dan berekonomi moral; solidariras komunal, peranan individu kabur, tak terinci secara mendetail
Sel 2 dan 3: bentuk transisional, deferensiasi tak tajam, masih kabur satu sama lain. Lingkungan desa membuat garis-garis pemisah, fungsi menjadi kabur karena ada kerangkapan.
Sel 4: diferensiasi menurut fungsi dan terinci secara tajam, pembedaan dan pemisahan tajam, sifat hubungan yang rasional-asosiasional.
Kartodirdjo, S (1993: 129-143)
Faktor penentu perkembangan desa kaitan dengan orientasi desa ke luar?
1. Sentralitas. Menunjuk kepada lokasi desa dalam jaringan komunikasi dimana fasilitas pelayanan dari kota (diraih) masuk ke desa.
Subfaktor desa yang tinggi orientasi ke luarnya:
(a) Transportasi memudahkan mobilitas, pemasaran, komunikasi-informasi;
(b) Mendekatkan Pelayanan, seperti: pendidikan, kesehatan, administrasi
(c) Untuk manfaat kemudahan rekreasi, komoditas dsb
(d) Pengadaan Peluang kerja
2. Kapasitas. Menunjuk kepada kemampuan menggunakan sumberdaya untuk meningkatkan produksi, mobilitas dan kualitas hidup.
Subfaktornya :(a) Kolektivitas baru meningkatkan kapasitas yaitu berupa lembaga-lembaga desa;
(b) Jaringan komunikasi yang meluas;
(c) Keterbukaan meningkatkan individualisasi berserta kreativitasnya.
3. Solidaritas. Menunjuk kepada koherensi baru yang terbentuk setelah komunitas desa mengalami diferensiasi.
• Lemahnya komunalisme & terbentuknya lembaga-lembaga asosiasi baru (integrasi dan diferensiasi membentuk solidaritas yang tidak saja di dalam desa tetapi mencakup daerah yang lebih luas).
• Dalam bidang politik, solidaritas desa sebagai unit koherensi untuk:
(a) menjaga otonomi
(b) tidak dapat dipecah oleh unit-unit solidaritas (partai) yang mengintegrasikan penduduk melalui garis golongan (partai) ke dalam tubuh unit nasionalnya. Peristiwa G30S menunjuk bahwa solidaritas desa dalam kondisi disintegratif.
Paradigma Tipe Perubahan Sosial
Sumber Kebutuhan terhadap Perubahan Sumber/asal ide baru
dari dalam dari luar
dari dalam Kebutuhan dirasakan oleh anggota sistem sosial 1.
PERUBAHAN IMANEN 2.
PERUBAHAN KONTAK SELEKTIF
dari luar Kebutuhan diamati oleh agen pembaru atau orang luar sistem 3.
PERUBAHAN IMANEN YANG DIINDUKSI 4.
PERUBAHAN KONTAK TERARAH
Perubahan sosial : proses dimana terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu
sistem sosial (suatu kumpulan unit yang berbeda secara
fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecah-
kan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama)
Proses 3 tahap berurutan:
(1) Invensi yaitu proses dimana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan
(2) Difusi yaitu proses dimana ide-ide baru dikomunikasikan ke dalam sistem sosial
(3) Konsekuensi yaitu perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai aibat pengadopsian atau penolakan inovasi
Keterangan:
a. Perubahan imanen terjadi jika anggota sistem sosial menciptakan dan mengembangkan ide baru dengan sedikit atau tanpa pengaruh sama sekali dari pihak luar dan kemudian mmenyebar ke dalam sel sistem sosial.
Contoh:
Penemu pengumpil jagung
Perontok padi dll
b. Perubahan kontak terjadi jika sumber dari luar sistem sosial memperkenalkan ide baryu. Perubahan kontak adalah gejala “antar sistem”.
Ada dua macam perubahan kontak yaitu: perubahan selektif dan perubahan kontak terarah.
(3) Perubahan kontak selektif terjadi jika anggota sistem sosial terbuka pada pengaruh dari luar dan menerima/menolak ide baru itu berdasarkan kebutuhan yang mereka rasakan sendiri.
Contoh:
Karya siswa ke institusi lain dan mendapatkan hal-hal baru kemudian diterapkan.
(4) Perubahan kontak terarah atau perubahan terencana adalah perubahan yang disengaja dengan adanya orang luar atau sebagian anggota sistem yang bertindak sebagai agen pembaru yang secara intensif berusaha memperkenalkan ide-ide baru untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan oleh lembaga dari luar.
Contoh:
Kampanye air
(3) Perubahan imanen yang diinduksi, bisa/mungkin terjadi tetapi mustahil ada
Contoh:
Misionaris masalah desa, tetapi tidak menawarkan perubahan sosial, penduduk sendiri yang merubahnya.
Rogers dan Shoemaker, 1987: 16-20
Perbandingan Pedesaan Indonesia dengan Pedesaan di Negara-negara Lain
BAHAN BACAAN
Agusta, Ivanovich (2007), “Desa Tertinggal di Indonesia, Jurnal, Solidarity, volume 1 Nomor 02, KPM, FEMA-IPB, Bogor
Ali, Medekhan (2006), Orang Desa: Anak Tiri Perubahan, Averroes Press, Malang
Boeke, J.H (1983), Prakapitalisme di Asia, Terjemahan, Sinar Harapan, Jakarta
Budiman, Arief (199 ), Pembagian Kerja secara Seksual, Gramedia, Jakarta
Burger, DH dan Prajudi (1962), Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Djilid 1 dan 2, Pradnjaparamita, Jakarta
Clements, Kevin, P (1999) Teori Pembangunan; Dari Kiri ke Kanan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Dharmawan, A.H (2006) Pembaharuan Tata Pemerintahan Desa Berbasis Lokalitas dan Kemitraan, LPPM-IPB, Bogor
Dodik Ridho Nurrochmat (2006), “Desentralisasi Pemerintahan Desa: Menakar Idealitas dan Realitas Politik Lokal”, dalam, Pembaruan Tata Pemerintahan Desa Berbasis Lokalitas dan Kemitraan, Arya Hadi Dharmawan, Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan LPPM-IPB
Evers, Hans-Dieter (1988), Teori Masyarakat: Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern, Terjemahan, Obor, Jakarta
Fukutake, Tadashi (1989), Masyarakat Pedesaan di Jepang, PT Gramedia, Jakarta
Hayami, Yujiro dan Masao Kikuchi (1987), Dilema Perekonomian Desa, Obor, Jakarta
Hoogvelt, Ankie MM (1985), Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang, Terjemahan, CV Rajawali, Jakarta
Johnson, Doyle Paul (1994), Teori Sosiologi, Klasik dan Modern, Terjemahan, PT Gramedia, Jakarta
Kartodirjo, Sartono (1993), Pembangunan Bangsa, Aditya Media, Yogyakarta
Kartohadikoesoemo, Soetardjo (1965), Desa, Sumur Bandung, Bandung
Kasryno, Faisal (1984), Prospek Pembangunan Ekonomi Pedesaan, Obor, Jakarta
Korten, DC dan Sjahrir (1988), Pembangunan Berdimensi Kerakyatan, Terjemahan, Obor, Jakarta
Long, Norman (1987), Sosiologi Pembangunan Pedesaan, Terjemahan, Bina Aksara, Jakarta
Mubyarto (1987), Politik Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Sinar Harapan, Jakarta
Nasikun (1998), “Teori dan Konsep Studi Pedesaan”, Kursus Singkat, PAU-SS-UGM, tanggal 12-31 Agustus,Yogyakarta
Rogers, Everett M dan F Floyd Shoemaker (1987), Masyarakatkan ide-ide Baru, Terjemahan, Usaha Nasional, Surabaya
Sanderson, Stepehen, K (1993), Sosiologi Makro, Terjemahan, CV Rajawali, Jakarta
Sayogyo dan Pujiwati Sayogyo (1989), Sosiologi Pedesaan, jilid I dan Jilid II, Obor, Jakarta
---------------- (1982), Perekonomian Desa, Obor, Jakarta
---------------- (1988), Ekologi Pedesaan, CV Rajawali, Jakarta
Slamet, Ina. E (1965), Pembangunan Masyarakat Desa, Bhratara, Jakarta
Soetomo, Greg (1997), Kekalahan Manusia Petani, Kanisius, Yogyakarta
Suhendar, Endang dan Yohana Budi Winarni (1998), Petani dan konflik Agraria, Akatiga, Bandung
Suryo, Djoko (1989), Desa dalam Perspektif Sejarah, PAU-SS-UGM
Sztompka, Piotr (2004), Sosiologi Perubahan Sosial, Terjemahan, Prenada, Jakarta
Tjondronegoro, SMP (1999), Sosiologi Agraria, Penyunting MT Felix Sitorus dan Gunawan Wiradi, Akatiga, Bandung
------------------ (1999), Keping-keping Sosiologi dari Pedesaan, Dirjen Dikti, DPK, Jakarta
Wertheim, WF (1999), Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Terjemahan, Tiara Wacana, Yogyakarta
sos.kependudukan
HAND OUT
SOSIOLOGI KEPENDUDUKAN
Oleh :
DJAJA HENDRA
JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS WIDYA MATARAM
YOGYAKARTA
2011
Konsep dan Definisi Demografi
Demography is the scientific study of human populations in primarily with the respect to their size, their structure (compotition) and their development (change).
Demografi mempelajari penduduk (suatu wilayah) terutama mengenai jumlah, struktur (komposisi penduduk) dan perkembangannya (perubahannya).
Philip M Hauser dan Dudley Duncan (1959) menyebut definisi demografi.
Demography is the study of the size, territorial distribution and compotition of population, changes there in and the components of such changes which maybe identified as natality, territorial movement (migration) and social mobility (change of states).
Demografi mempelajari jumlah, persebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebab perubahan itu, yang biasanya timbul karena natalitas (fertilitas), mortalitas, gerak teritorial (migrasi) dan mobilitas sosial (perubahan status)
Menyangkut :
Struktur (jumlah, persebaran dan komposisi penduduk) selalu berubah, karena:
Terjadi proses demografi kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas)
dan migrasi.
Proses penduduk
Struktur penduduk bersifat statis (ia merupakan gambaran/potret penduduk dari sensus)
Unsur dinamis penduduk terdiri dari: kelahiran, kematian dan migrasi proses ini disebut
dinamis.
Keduanya dipelajari dalam demografi.
Contoh:
tingkat kelahiran suatu daerah berpengaruh pada struktur penduduk di daerah itu yaitu besarnya persentase penduduk usia muda.
Konsep Penduduk dalam artian kolektif yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah.
bersifat kuantitatif maka sering disebut statistik kependudukan. lazim ada prediktif.
Studi kependuduk beda dengan demografi
Studi kependudukan (population studies) lebih luas dari demografi murni. Dalam hal ini masuk hal-hal yang bersifat non-demografis.
Misal:
Untuk mengetahui trend fertilitas suatu daerah tidak cukup mengetahui PUS tetapi juga faktor sos-bud. Katakanlah pada keluarga patrilinial anak laki-laki lebih berharga (sebagai pelanjut keturunan)
Tipe Studi Variable Pengaruh Variable Terpengaruh
Demografi
Formal Variable demografi
- komposisi umur
- tingkat kelahiran Variable demografi
- tingkat kelahiran
- komposisi penduduk
Studi Kependudukan (contoh 1) Variable non-demografi
- faktor sosiologi. Misal: kelas sosial
- faktor ekonomi. Misal:
- kesempatan ekonomi Variable demografi
- migrasi keluar
Studi Kependudukan (contoh 2) Variable demografi
- tingkat kelahiran
- migrasi masuk
- tingkat kematian Variable non-demografi
- kebutuhan pangan
- kemiskinan
- pertumbuhan ekonomi
Sumber: Kemmeyer, Kenneth CW, 1971 dalam Ida Bagus Mantra, Demografi Umum, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000
Sumber data demografi:
1. sensus penduduk (cacah jiwa)
2. registrasi penduduk
3. survai
1. Sensus Penduduk
Setua sejarah peradaban manusia. mulai di Babilonia 4000 tahun sebelum Kristus.
Mesir 2500 BC
Cina 3000 BC
Abad ke-16 dan 17 dilakukan di Itaia, Sisilia dan Spanyol.
Bertujuan untuk kepentingan militer, pemungutan pajak dan perluasan kerajaan.
Sensus modern di Quebec tahun 1966
Di Swedia tahun 1949
Di AS tahun 1790
Di Inggris tahun 1801
Di Indonesia (Raffles) tahun 1815 dan India tahun 1881
Hingga awal abad ke-20 sekitar 20 % penduduk dunia telah terhitung
lewat sensus penduduk.
Apa yang disensus (PBB) menetapkan minimal:
a. geografi dan migrasi penduduk
b. rumah tangga
c. karateristik sosial dan demografi
d. kelahiran dan kematian
e. karakter pendidikan
f. karakter ekonomi
Topik-topik minimal yang harus ditanyakan pada sensus penduduk
Epistemologi
Demografi : demos = rakyat/penduduk
: graferin = tulisan/karangan
: tulisan/karangan tentang rakyat/penduduk
Aehille Guillard “Elements de statistique humaine on Demographic Compares (1885)”
Ilmu Kependudukan ilmu pengetahuan tentang pertumbuhan penduduk
K o n s e p
Donald J Bogue (1969). Demografi : ilmu yg mempelajari secara statistic dan matema
tika tentang jumlah, komposisi dan distribusi pen –
duduk dan perubahan-perubahannya sepanjang ma
sa melalui bekerjanya lima komponen demografi:
- fertilitas (kelahiran)
- mortalitas (kematian)
- perkawinan
- migrasi
- mobilitas social
Yang banyak digunakan :
Philip M Klauser & Dudley Ducan : mempelajari tentang jumlah, persebaran teritorial
dan komposisi penduduk serta perubahan-perubah-
annya dan sebab-sebab dari perubahan tersebut.
Kamus pendidikan : penduduk didefinisikan sebagai jumlah total indi-
(Carter v Good) vidual yang membentuk suatu keluarga tertentu
seperti jumlah orang yang mendiami suatu negara/
wilayah.
Ilmu Kependudukan : berusaha menjawab “mengapa” terjadi perubahan-
perubahan variabel demografis.
Ilmu Kependudukan lebih luas daripada demografi (yang hanya menyangkut kualitatif)
Secara kualitaif Ilmu Kependudukan menghubungkan antara penduduk dengan sistem
Sosial
Pentingnya Ilmu Kependudukan
Contoh: * Berapa penduduk Yogya saat ini?
* Bagaimana dengan tahun 2012?
- hubungannya dng beras yang dikonsumsi. Mis. 10 kg/bln
- berapa untuk satu keluarga
- berapa tambahan rumah (kebutuhan)
- berapa usia harapan hidup warga Yogya sekarang? ttt
- bagaimana dengan tahun 2010 nanti
- bagaimana dgn usia pendidikan 7-15 tahun di tahun 2012
Tujuan : + mempelajari jumlah/kuantitas serta distribusi penduduk dlm daerah ttt
+ menjelaskan pertumbuhan masa lalu, kecenderungan serta distribusi
berdasarkan data yang tersedia
+ mengambangkan hubungan sebab akibat antara perubahan penduduk
dengan bermacam aspek organisasi social
+ mencoba meramalkan pertumbuhan penduduk masa depan dan kemung
kinan konsekuensinya
Masalah Kependudukan
1. Komposisi umur penduduk berusia muda dan tua
> 15 – 64 <
beban dependency ratio
100 orang produktif menanggung …?
2. Distribusi penduduk
• tidak seimbang : Jawa/Luar Jawa
• angka kelahiran kasar CBR (crude birth rate) tinggi
20-38/1000 penduduk
• angka kematian kasar (crude death rate) rendah
10-20 /1000 penduduk
* makin banyak penduduk
3. Migrasi
penduduk kota besar bahaya lingkungan
MEMPERKIRAKAN JUMLAH PENDUDUK (DEPAN)
MATHEMATICAL METHOD
1. Tingkat pertumbuhan aritmatika
Pt = Po + bn
Pt : jumlah penduduk t tahun (atau akhir tahun)
Po : jumlah penduduk pada awal tahun
b : jumlah pertumbuhan penduduk tiap tahun
n : periode waktu dari Pt – Po
Contoh : Pada tahun 1985 jumlah penduduk = 1.000.000 jiwa
Tiap tahun bertambah = 100.000 jiwa
Maka pada tahun 1986 = 1.100.000 jiwa
= 1.200.000 jiwa
= 1.300.000 jiwa
d s t ….
2. Tingkat pertumbuhan geometrika
Prinsip bunga berbunga
n
Pt = Po (1 + r )
Contoh : Pada tahun 1985 jumlah penduduk = 1.000.000 jiwa
Angka pertumbuhan 2 % per tahun
Tahun 1986 = 1.000.000 + (2 % x 1.000.000)
Maka penduduk tahun 1986 = 1.020.000 jiwa
2
P 1988 = 1.020.000 (1 + 2 %)
P 1988 = 1.061.208 jiwa
3. Tingkat pertumbuhan eksponensial
Naik secara konstan
rt
Pt = Po ( e bilangan pokok dari system logaritma natural sebesar
2,7182818)
Contoh : 1961 jumlah penduduk = 97.000.000 jiwa
1971 jumlah penduduk = 119.000.000 jiwa
Jawab
rt
Pt = Po e
rt
119 juta = 97 juta e
119 rt
----- juta = 2,7182818
97
log 1,228955153 = rt log 2,7182818
t = waktu yg diperlukan shg penddk 2 x lipat
r = angka pertumbuhan
0,089536035 = r (10) x 0,43429448
r = angka pertumbuhan penduduk per tahun
0,089536035
adalah = --------------------- = 2,1 %
4,3429448
Pertumbuhan 2 x lipat dengan rumus
70
t = ---- tahun
r
Jadi = suatu daerah 2 % dalam 35 tahun
Penduduk 2 x lipat
Bukti jadi 2 x lipat
rt
Pt = Po e
Untuk 2 x lipat Pt = 2 Po
rt
2 Po = Po e
2 Po rt
----- = e
Po
rt
2 = e
ln 2 = rn ln e
(2)
ln2 = rt
0,693147 = rt
0,693147 0,70
t = ---------- = -----
r r
Jadi r dalam persentase maka
70 70
n = ---- = ----
r (%) r
TEORI-TEORI
a. Teori Alamiah (fisiologis)
Tokoh (Sadler, Doubleday, Spencer Cary, Pearl, Gini)
Sadler : Jika penduduk bertambah daya reproduksi manusia akan berku-
rang dan sebaliknya.
Pekerjaan berat dan makanan sederhana sebagai faktor-faktor
yang menaikkan reproduksi
Sebaliknya banyak waktu luang, makanan berat akan menekan
daya reproduksi manusia.
Doubleday : Kenaikan kemakmuran akan mengakibatkan turunnya daya
reproduksi manusia.
: Kekurangan makanan akan merangsang daya reproduksi, sedang
kelebihan pangan justru akan merupakan faktor pengekang
an pertambahan penduduk.
Spencer : Makin banyak manusia mengembangkan dirinya makin banyak e-
nergi yang diperlukan untuk kemajuan & makanan kurang
energi yang tersedia bagi daya reproduksi atau sebaliknya.
Raymond Pearl: Over population/kelebihan penduduk tidak akan mungkin timbul
& Corrado Gini sebab perkembangan jumlah manusia akan mengikuti suatu
pola tertentu yang mirip dengan kurva logistic, yang pada
permulaan melengkung naik hingga mencapai titik tingkat
puncak untuk kemudian melengkung turun lagi.
Terjadinya pola ini karena terbatasnya ruang yang tersedia. Jadi
ruang dan persediaan pangan bukan merupakan batas yang
mengekang perkembangan penduduk.
b. Teori Ekonomi
Nassau William Senior : bukannya keadaan kekurangan pangan yang merupakan
cek utama terhadap perkembangan penduduk, akan tetapi
ketakutan akan timbulnya keadaan kekurangan pangan.
A Allison :selama masih banyak tanah kosong tidak berarti bahwa
penduduk akan kekurangan pangan. Juga kemajuan-kema
juan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi menja-
min barang konsumsi lebih besar daripada bertambahnya
penduduk.
Arsene Dumont : teori kapilaritas sosial, hasrat manusia untuk memper-
baiki kedudukan sosial ekonominya adalah bersifat turun-
temurun.
Teori Transisi Demografi : proses perubahan penduduk dengan angka kelahiran dan
dan kematian yang tinggi ke arah kelahiran dan kematian
yang rendah sejalan dengan proses kemajuan tahapan
pembangunan.
Angka Kelahiran/kematian
I. Kelahiran dan kematian keduanya pada tingkat yang tinggi sekitar 40-50. reproduksi/kelahiran tidak terkendali, kematian bervariasi setiap tahunnya. Panen yang gagal, harga yang tinggi menyebabkan kelaparan dan daya tahan tubuh terhadap penyakit sangat lemah. Ditambah dengan penyakit menular meluas menyebabkan angka kematian tinggi. Tahap tradisional.
II. Angka kematian menurun akibat diperbesarnya anggaran kesehatan dan juga mulai adanya penemuan obat-obatan. Sementara itu angka kelahiran tetap pada tingkat yang tinggi sehingga mengakibatkan pertumbuhan penduduk meningkat dengan pesat.
III. Angka kematian turun tetapi tidak secepat pada kategori II. Angka kelahiran mulai menurun seiring dengan meningkatnya urbanisasi, pendidikan dan peralatan kontrasepsi
IV. Pada tahap ini kelahiran dan kematian mencapai tingkat yang rendah dan pertumbuhan kembali lagi seperti kategori I yaitu mendekati nol.
SOSIOLOGI KEPENDUDUKAN
Oleh :
DJAJA HENDRA
JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS WIDYA MATARAM
YOGYAKARTA
2011
Konsep dan Definisi Demografi
Demography is the scientific study of human populations in primarily with the respect to their size, their structure (compotition) and their development (change).
Demografi mempelajari penduduk (suatu wilayah) terutama mengenai jumlah, struktur (komposisi penduduk) dan perkembangannya (perubahannya).
Philip M Hauser dan Dudley Duncan (1959) menyebut definisi demografi.
Demography is the study of the size, territorial distribution and compotition of population, changes there in and the components of such changes which maybe identified as natality, territorial movement (migration) and social mobility (change of states).
Demografi mempelajari jumlah, persebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebab perubahan itu, yang biasanya timbul karena natalitas (fertilitas), mortalitas, gerak teritorial (migrasi) dan mobilitas sosial (perubahan status)
Menyangkut :
Struktur (jumlah, persebaran dan komposisi penduduk) selalu berubah, karena:
Terjadi proses demografi kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas)
dan migrasi.
Proses penduduk
Struktur penduduk bersifat statis (ia merupakan gambaran/potret penduduk dari sensus)
Unsur dinamis penduduk terdiri dari: kelahiran, kematian dan migrasi proses ini disebut
dinamis.
Keduanya dipelajari dalam demografi.
Contoh:
tingkat kelahiran suatu daerah berpengaruh pada struktur penduduk di daerah itu yaitu besarnya persentase penduduk usia muda.
Konsep Penduduk dalam artian kolektif yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah.
bersifat kuantitatif maka sering disebut statistik kependudukan. lazim ada prediktif.
Studi kependuduk beda dengan demografi
Studi kependudukan (population studies) lebih luas dari demografi murni. Dalam hal ini masuk hal-hal yang bersifat non-demografis.
Misal:
Untuk mengetahui trend fertilitas suatu daerah tidak cukup mengetahui PUS tetapi juga faktor sos-bud. Katakanlah pada keluarga patrilinial anak laki-laki lebih berharga (sebagai pelanjut keturunan)
Tipe Studi Variable Pengaruh Variable Terpengaruh
Demografi
Formal Variable demografi
- komposisi umur
- tingkat kelahiran Variable demografi
- tingkat kelahiran
- komposisi penduduk
Studi Kependudukan (contoh 1) Variable non-demografi
- faktor sosiologi. Misal: kelas sosial
- faktor ekonomi. Misal:
- kesempatan ekonomi Variable demografi
- migrasi keluar
Studi Kependudukan (contoh 2) Variable demografi
- tingkat kelahiran
- migrasi masuk
- tingkat kematian Variable non-demografi
- kebutuhan pangan
- kemiskinan
- pertumbuhan ekonomi
Sumber: Kemmeyer, Kenneth CW, 1971 dalam Ida Bagus Mantra, Demografi Umum, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000
Sumber data demografi:
1. sensus penduduk (cacah jiwa)
2. registrasi penduduk
3. survai
1. Sensus Penduduk
Setua sejarah peradaban manusia. mulai di Babilonia 4000 tahun sebelum Kristus.
Mesir 2500 BC
Cina 3000 BC
Abad ke-16 dan 17 dilakukan di Itaia, Sisilia dan Spanyol.
Bertujuan untuk kepentingan militer, pemungutan pajak dan perluasan kerajaan.
Sensus modern di Quebec tahun 1966
Di Swedia tahun 1949
Di AS tahun 1790
Di Inggris tahun 1801
Di Indonesia (Raffles) tahun 1815 dan India tahun 1881
Hingga awal abad ke-20 sekitar 20 % penduduk dunia telah terhitung
lewat sensus penduduk.
Apa yang disensus (PBB) menetapkan minimal:
a. geografi dan migrasi penduduk
b. rumah tangga
c. karateristik sosial dan demografi
d. kelahiran dan kematian
e. karakter pendidikan
f. karakter ekonomi
Topik-topik minimal yang harus ditanyakan pada sensus penduduk
Epistemologi
Demografi : demos = rakyat/penduduk
: graferin = tulisan/karangan
: tulisan/karangan tentang rakyat/penduduk
Aehille Guillard “Elements de statistique humaine on Demographic Compares (1885)”
Ilmu Kependudukan ilmu pengetahuan tentang pertumbuhan penduduk
K o n s e p
Donald J Bogue (1969). Demografi : ilmu yg mempelajari secara statistic dan matema
tika tentang jumlah, komposisi dan distribusi pen –
duduk dan perubahan-perubahannya sepanjang ma
sa melalui bekerjanya lima komponen demografi:
- fertilitas (kelahiran)
- mortalitas (kematian)
- perkawinan
- migrasi
- mobilitas social
Yang banyak digunakan :
Philip M Klauser & Dudley Ducan : mempelajari tentang jumlah, persebaran teritorial
dan komposisi penduduk serta perubahan-perubah-
annya dan sebab-sebab dari perubahan tersebut.
Kamus pendidikan : penduduk didefinisikan sebagai jumlah total indi-
(Carter v Good) vidual yang membentuk suatu keluarga tertentu
seperti jumlah orang yang mendiami suatu negara/
wilayah.
Ilmu Kependudukan : berusaha menjawab “mengapa” terjadi perubahan-
perubahan variabel demografis.
Ilmu Kependudukan lebih luas daripada demografi (yang hanya menyangkut kualitatif)
Secara kualitaif Ilmu Kependudukan menghubungkan antara penduduk dengan sistem
Sosial
Pentingnya Ilmu Kependudukan
Contoh: * Berapa penduduk Yogya saat ini?
* Bagaimana dengan tahun 2012?
- hubungannya dng beras yang dikonsumsi. Mis. 10 kg/bln
- berapa untuk satu keluarga
- berapa tambahan rumah (kebutuhan)
- berapa usia harapan hidup warga Yogya sekarang? ttt
- bagaimana dengan tahun 2010 nanti
- bagaimana dgn usia pendidikan 7-15 tahun di tahun 2012
Tujuan : + mempelajari jumlah/kuantitas serta distribusi penduduk dlm daerah ttt
+ menjelaskan pertumbuhan masa lalu, kecenderungan serta distribusi
berdasarkan data yang tersedia
+ mengambangkan hubungan sebab akibat antara perubahan penduduk
dengan bermacam aspek organisasi social
+ mencoba meramalkan pertumbuhan penduduk masa depan dan kemung
kinan konsekuensinya
Masalah Kependudukan
1. Komposisi umur penduduk berusia muda dan tua
> 15 – 64 <
beban dependency ratio
100 orang produktif menanggung …?
2. Distribusi penduduk
• tidak seimbang : Jawa/Luar Jawa
• angka kelahiran kasar CBR (crude birth rate) tinggi
20-38/1000 penduduk
• angka kematian kasar (crude death rate) rendah
10-20 /1000 penduduk
* makin banyak penduduk
3. Migrasi
penduduk kota besar bahaya lingkungan
MEMPERKIRAKAN JUMLAH PENDUDUK (DEPAN)
MATHEMATICAL METHOD
1. Tingkat pertumbuhan aritmatika
Pt = Po + bn
Pt : jumlah penduduk t tahun (atau akhir tahun)
Po : jumlah penduduk pada awal tahun
b : jumlah pertumbuhan penduduk tiap tahun
n : periode waktu dari Pt – Po
Contoh : Pada tahun 1985 jumlah penduduk = 1.000.000 jiwa
Tiap tahun bertambah = 100.000 jiwa
Maka pada tahun 1986 = 1.100.000 jiwa
= 1.200.000 jiwa
= 1.300.000 jiwa
d s t ….
2. Tingkat pertumbuhan geometrika
Prinsip bunga berbunga
n
Pt = Po (1 + r )
Contoh : Pada tahun 1985 jumlah penduduk = 1.000.000 jiwa
Angka pertumbuhan 2 % per tahun
Tahun 1986 = 1.000.000 + (2 % x 1.000.000)
Maka penduduk tahun 1986 = 1.020.000 jiwa
2
P 1988 = 1.020.000 (1 + 2 %)
P 1988 = 1.061.208 jiwa
3. Tingkat pertumbuhan eksponensial
Naik secara konstan
rt
Pt = Po ( e bilangan pokok dari system logaritma natural sebesar
2,7182818)
Contoh : 1961 jumlah penduduk = 97.000.000 jiwa
1971 jumlah penduduk = 119.000.000 jiwa
Jawab
rt
Pt = Po e
rt
119 juta = 97 juta e
119 rt
----- juta = 2,7182818
97
log 1,228955153 = rt log 2,7182818
t = waktu yg diperlukan shg penddk 2 x lipat
r = angka pertumbuhan
0,089536035 = r (10) x 0,43429448
r = angka pertumbuhan penduduk per tahun
0,089536035
adalah = --------------------- = 2,1 %
4,3429448
Pertumbuhan 2 x lipat dengan rumus
70
t = ---- tahun
r
Jadi = suatu daerah 2 % dalam 35 tahun
Penduduk 2 x lipat
Bukti jadi 2 x lipat
rt
Pt = Po e
Untuk 2 x lipat Pt = 2 Po
rt
2 Po = Po e
2 Po rt
----- = e
Po
rt
2 = e
ln 2 = rn ln e
(2)
ln2 = rt
0,693147 = rt
0,693147 0,70
t = ---------- = -----
r r
Jadi r dalam persentase maka
70 70
n = ---- = ----
r (%) r
TEORI-TEORI
a. Teori Alamiah (fisiologis)
Tokoh (Sadler, Doubleday, Spencer Cary, Pearl, Gini)
Sadler : Jika penduduk bertambah daya reproduksi manusia akan berku-
rang dan sebaliknya.
Pekerjaan berat dan makanan sederhana sebagai faktor-faktor
yang menaikkan reproduksi
Sebaliknya banyak waktu luang, makanan berat akan menekan
daya reproduksi manusia.
Doubleday : Kenaikan kemakmuran akan mengakibatkan turunnya daya
reproduksi manusia.
: Kekurangan makanan akan merangsang daya reproduksi, sedang
kelebihan pangan justru akan merupakan faktor pengekang
an pertambahan penduduk.
Spencer : Makin banyak manusia mengembangkan dirinya makin banyak e-
nergi yang diperlukan untuk kemajuan & makanan kurang
energi yang tersedia bagi daya reproduksi atau sebaliknya.
Raymond Pearl: Over population/kelebihan penduduk tidak akan mungkin timbul
& Corrado Gini sebab perkembangan jumlah manusia akan mengikuti suatu
pola tertentu yang mirip dengan kurva logistic, yang pada
permulaan melengkung naik hingga mencapai titik tingkat
puncak untuk kemudian melengkung turun lagi.
Terjadinya pola ini karena terbatasnya ruang yang tersedia. Jadi
ruang dan persediaan pangan bukan merupakan batas yang
mengekang perkembangan penduduk.
b. Teori Ekonomi
Nassau William Senior : bukannya keadaan kekurangan pangan yang merupakan
cek utama terhadap perkembangan penduduk, akan tetapi
ketakutan akan timbulnya keadaan kekurangan pangan.
A Allison :selama masih banyak tanah kosong tidak berarti bahwa
penduduk akan kekurangan pangan. Juga kemajuan-kema
juan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi menja-
min barang konsumsi lebih besar daripada bertambahnya
penduduk.
Arsene Dumont : teori kapilaritas sosial, hasrat manusia untuk memper-
baiki kedudukan sosial ekonominya adalah bersifat turun-
temurun.
Teori Transisi Demografi : proses perubahan penduduk dengan angka kelahiran dan
dan kematian yang tinggi ke arah kelahiran dan kematian
yang rendah sejalan dengan proses kemajuan tahapan
pembangunan.
Angka Kelahiran/kematian
I. Kelahiran dan kematian keduanya pada tingkat yang tinggi sekitar 40-50. reproduksi/kelahiran tidak terkendali, kematian bervariasi setiap tahunnya. Panen yang gagal, harga yang tinggi menyebabkan kelaparan dan daya tahan tubuh terhadap penyakit sangat lemah. Ditambah dengan penyakit menular meluas menyebabkan angka kematian tinggi. Tahap tradisional.
II. Angka kematian menurun akibat diperbesarnya anggaran kesehatan dan juga mulai adanya penemuan obat-obatan. Sementara itu angka kelahiran tetap pada tingkat yang tinggi sehingga mengakibatkan pertumbuhan penduduk meningkat dengan pesat.
III. Angka kematian turun tetapi tidak secepat pada kategori II. Angka kelahiran mulai menurun seiring dengan meningkatnya urbanisasi, pendidikan dan peralatan kontrasepsi
IV. Pada tahap ini kelahiran dan kematian mencapai tingkat yang rendah dan pertumbuhan kembali lagi seperti kategori I yaitu mendekati nol.
ABS
Handout
ANTROPOLOGI SOSIAL
Disusun oleh:
Drs Djaja Hendra M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Program Studi Sosiologi
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS WIDYA MATARAM
YOGYAKARTA
2011
ANTROPOLOGI SOSIAL
Oleh : Djaja Hendra
A. Posisi Antropologi Sosial dalam Ranah Antropologi
Paleo-antropologi
Antropologi Biologi
Antropologi-fisik
Antropologi
Prehistori
Descriptive integration
Etnolinguistik (Ethology)
Antropologi Budaya Etnologi Generalizing approach
(Social Antropology)
Etnopsikologi
Antropologi Spesialisasi Antropologi ekonomi
Antropologi politik
Antropologi Terapan Antropologi kependudukn
Antropologi kesehatan
Antropologi ksehatn jiwa
Antropologi pendidikan
Antropologi perkotaan
Dll
B. Definisi-definisi dan Batasan-batasan
Antropologi anthropos = manusia (baik individu maupun aktivitasnya)
logos = ilmu (pemahaman)
* homo sapiens = manusia yang berpikir
+ sifat-sifat semua jenis manusia, manusia yang telah sirna, tinggal di pedalaman
spesialisasi makin bertambah
+ antropologi budaya/sosial = ilmu yang membahas tentang manusia dan budayanya
+ antropologi sosial dulu digunakan istilah etnologi (ilmu bangsa-bangsa) XIX
• menekan budaya (bukan Eropa, primitive) kemudian
• berkembang ke aneka ragaman budaya dan umum
• menjadi ilmu kebudayaan bagi etnologi
Jadi etnologi X antropologi (lebih luas)
Budaya/sosial antar bangsa beda : - cara makan
- cara mandi (waktu-waktunya)
Antropologi sosial : ia mengkaji tingkah laku sosial umumnya dalam bentuk yang telah dilem –
bagakan seperti:
- persaudaraan
- sistem kekeluargaan
- organisasi politik
- tatacara undang-undang
- keagamaan
- serta hubungan antara semua lembaga tersebut dll
Batasan-batasan
a. Ruang lingkup : segala jenis manusia dan segala jaman serta sejuta tahun lalu hingga kini.
b. Pendekatan : menyeluruh (jenis, pengalaman: sejarah, lingkungan hidup, pola pemukim-
an, sistem religi, politik, ekonomi, kesenian dll) spesialisasi antropologi
c. Pusat perhatian: penduduk yang merupakan masyarakat tunggal (satu daerah dengan bahasa yang sama)
C. Metode dan Teknik Penelitian Antropologi Sosial
1. Merumuskan masalah yang akan diteliti
2. Merumuskan hipotesis
a. teknik observasi elementer
b. memeriksa hasil penelitian terdahulu
c. sumber-smber lain: informasi museum, sensus
3. Rancangan penelitian
4. Langkah pengumpulan data
Pengumpulan Data : a. penelitian kepustakaan
b. penelitian lapangan
c. penelitian laboratorium
Jenis Penelitian : a. deskriptif (memberikan gambaran yang luas tanpa memberikan
penafsiran terhadap penggambaran itu)
b. terangan (berusaha memberikan keterangan tentang saling hu –
bungan antarvariabel yang diteliti)
c. menguji (menguji kebenaran teori/kesimpulan penelitian terda –
hulu dalam bidang yang sama)
Pendekatan : a. historis
b. studi kasus
c. studi lapangan
D. Aliran-aliran dalam Antropologi Sosial
1. Aliran Evolusi
a. Lewis Henry Morgan (1818-1889)
i. Tahap Keliaran
tahap keliaran terendah yaitu dari masa kanak-kanak umat manusia
sampai tingkat berikutnya. Orang hanya makan buah-buahan dll
tahap keliaran menengah yaitu orang berhasil menangkap ikan dan
mengenal api
tahap keliaran tertinggi yaitu manusia telah menemukan anak panah
dan busur untuk berburu
ii. tahap Kebiadaban
• tahap kebiadaban terendah, manusia tela membuat tembikar
• tahap kebiadaban menengah, manusia telah belajar menjinakan binatang, bertani dan membangun rumah
• tahap kebiadaban tertinggi, manusia belajar menempa besi dan semacamnya.
iii tahap Peradaban
Pada tahap ini, orang telah dapat menulis. Mencakup manusia masa
kini yang diikuti dengan bibit-bibit pemikiran.
Perkawinan misalnya, melalui tahap sebagai berikut:
* promiscuitet (campur aduk). Tidak ada aturan, belum ada aturan
tentang seks. Struktur keluarga belum jelas
* perkawinan kelompok. Sekelompok laki-laki beesaudara berhu-
hubungan seks dengan waniya yang masih saudara
* perkawinan kelompok. Tetapi sesame saudara sudah tidak boleh
* masa kebiadaban. Hubungan laaki-laki dengan pasangannya tidak
terlalu ketat dan si wanita tetap bermukim dengan orang lain.
* perkembangan keluarga. Peran suami menonjol dan boleh memili-
ki lebih dari satu istri.
* masa peradaban. Keluarga perkawinan monogamy. Dan keduduk-
an wanita dan pria sama.
b. Edward B.Taylor (1832-1917)
Berpendapat bahwa kebudayaan manusia berkembang dari yang sederhana
menjadi kompleks.
Juga manusia melalui tiga tahap dalam evolusi:
- keliaran
- biadab
- peradaban
Ada persamaan di antara bangsa-bangsa yang berbeda. Dengan demikian
kesatuan jiwa di antara umat manusia yang memungkinkan adanya pene-
muan-penemuan yang parallel hingga menghasilkan sejarah evolusi yang
sama.
Dalam religi: setiap manusia memikirkan ermasuk manusia primitive.
Juga yang meninggal (mati) hanya fisik tetapi rohnya
akan tetap hidup.
Di sini, muncul kepercayaan terhadap roh orang mati.
Muncul agama dan terjadi monoteisme hingga politeisme.
3 kemungkinan muncul monoteisme
a. salah satu dewa menjadi dewa tertinggi
b. sama dengan situasi masyarakat ada dewa tertinggi dan lainnya ada dewa
bangsawan
c. jika manusia telah percaya kepada roh maka sampia kepada makhluk
yang menjiwai di bumi dan langit
Kritik terhadap Tylor tentang agama dating dari RR Marett.
Dikatakan. Terjadinya agama karena rasa takut, cemas atau kagum yang
Dirasakan orang dalam situasi tertentu. Tahap pertama disebut sebagai
tahap pra-animisme.
2. Aliran Determinisme Geografis
“bahwa lingkungan tempat tinggal bukan hanya menentukan kebudayaan materi
tetapi juga menentukan kebudayaan rohani”
meski masuk dalam aliran etnologi tetapi lebih popular dipandang sebagai aliran
sosiologi
Adolf Bastian (1826-1905) “nama Indonesia” bahwa pikiran manusia ditentukan
pula oleh pengaruh lingkungan alam maka timbulah pikiran bangsa. Ini
merupakan keanekaragaman kebudayaan manusia.
Jadi lingkungan geografis mementukan.
3. Aliran Difusionisme
mendasarkan pada aspek penyebaran (difusi) yang berkembang di Jerman dan
Austria.
a. Aliran Jerman=Austria
Pendirinya Leo Frabenius dan F Ratzel.
“pada umumnya gejala kebudayaan itu menyebar dari tempat asalnya ke
berbagai jurusan.
Kemudian dikembangkan oleh Fritz Graebner dan Pater Wilhelm Schmidt
“di dalam kebudayaan itu tidak perlu ada evolusi karena faktor difusi me –
mainkan perananan besar dalam kebudayaan”
Jadi bukan kesamaan proses evolusi melainkan adanya akibat adanya pro-
ses difusi.
Ada unsur linier. Contoh: sampan dari kulit kayu (di oceania) sebagai ke
budayaan yang lebih tua. Kemudian menyebar
ke wilayah lainnya.
memunculkan lapisan-lapisan kebudayaan
4. Aliran Fungsionalisme
Tokohnya: G Elliot Smith, William J Perry dan WHR Rivers.
“bahwa kebudayaan/peradaban tertinggi ada di Mesir kemudian menyebar ke wi-
layah lain setelah ada kontak dengan mereka”.
Ini makin terjadi/berkembang karena pada dasarnya manusia tidak menciptakan
hal-hal baru (malas) dan lebi suka meminjam penemuan dari kebudayaan lain.
5. Aliran Strukturalisme Perancis
Tokoh: Bronislaw Malinowski (orang Polandia, ahli matematika dan mempela-
jari antropologi di Inggris)
Dimulai dari. Ia tinggal dengan penduduk asli pulai Trobriand sambil mengamati
cara hidup mereka.
Mengamati, menguraikan motif-motif tingkah laku mereka. Memunculkan kebu-
tuhan primer dan sekunder.
Tokoh lain: Reginald Radeliffe Brown (1881-1955).
Ia melihat kebudayaan sebagai kebulatan yang mempunyai fungsi.
“ilmu kebudayaan adalah mempelajari fungsi kebudayaan itu dan hukum-hukum yg
berlaku umum sekaligus melaluinya dapat menjelaskan pengertian kebudayaan itu
pada umumnya”.
“selanjutnya satu diantara hukum-hukum itu adalah benda-benda yang berguna bagi
masyarakat dengan sendirinya menjadi suatu pokok dalam upacara ritual”.
Masyarakat disatukan oleh suatu sistem perasaan/sentiment dan sentiment ini tidak
Dibawa sejak lahir melainkan diajarkan kepadanya melalui perbuatan masyarakat.
6. Aliran Ekologi Kebudayaan
Tokoh: Claude Levi-Strauss
“Kebudayaan manusia seperti kesenian, pola hidup sehari-hari, upacara agama dll
adalah sebagai perwakilan lahiriah (surface representation) dari struktur pemikiran
manusia yang mendasarinya”
“gejala kebudayaan terkonsentrasi pada proses kognitif di mana manusia meman-
dang dunis sekitarnya dengan cara mengolong-golongkan (misalnya tumbuhan dan
binatang) bukan semata dengan maksud praktis melainkan juga karena kebutuhan
akan aktivitas intelektual”
Tentang ‘kekerabatan’ dibedakan antara manusia dengan bukan manusia terletak
Pada pantangan incest. Mirip perkawinan eksogami (larangan kawin di dalam ke-
lompok sendiri).
Padahal, perkawinan itu semacam pertukaran diantara dua kelompok (yang dalam
Suatu wadah = masyarakat).
Durkheim, “tanpa masyarakat, manusia tidak ada artinya”. Kesadaran yang tercipta
dalam masyarakat bukan jumlah kesadaran-kesadaran individu melainkan suatu ha-
kekat tersendiri.
7 Aliran Leiden
Dipengaruhi oleh aliran Durhkiem (Perancis) sampai kepada JPB de Jos
selin de Jong di Leiden 1965.
“menekankan organisasi masyarakat erat hubungannya dengan sistem
kekerabatan dan perkawinan. Masyarakat sering terbagi dalam bagian yg
berlawanan tetapi saling melengkapi”
Sifat dualistis digunakan Rassers dalam mitos Jawa “Panji”: menggambar
kan kelahiran, remaja, dewasa dan perkawinan kedua nenek moyang di-
anggap sebagai dewa.
Dalam cerita wayangpun dimana kosmologi orang Jawa bersifat dualistic:
Langit-bumi, dunia atas-bawah, baik dan buruk.
Keseluruan kosmos dikembalikan kepada makhluk asal tertinggi (seorang
tokoh hayal). Ia dianggap sebagai pencipta daripada pemelihara (dalam
upacara-upacara makhluk asal tertinggi kurang ditampilkan).
8. Aliran Psikologi dalam Antropologi
Dipengaruhi Freud dan ahli pendidikan John Dewey (1920).
“hubungan antara kebudayaan dan kepribadian”
Asumsinya: “pengalaman masa kanak-kanak mempengaruhi baik lang-
sung atau tidak terhadap kepribadian masa dewasa”.
Skope diperluas (dunia): perbedaan ciri kepribadian bangsa-bangsa
di dunia adalah cara mengasuh anak yang berbeda.
Contoh:
Latihan buang air besar yang ketat bagi anak-anak Jepang menga-
kibatkan orang Jelang suka memaksa kehendak kepada pihak lain.
Dalam masyarakat beternak dan bertani anak dilatih dalam hal
tanggung jawab.
Ketersediaan bahan pangan tergantung pada usaha mereka
sendiri berpegang teguh pada tatakelakuan rutin.
Ketidaktaatan bisa mengancam ketersediaan bahan makan
an untuk setahun.
Dalam masyarakat berburu dan nelayan kesalahan mungkin ha-
nya membawa akibat pada bahan makanan untuk sehari.
Dalam masyarakat ini, anak-anak dilatih untuk menjadi
merdeka menentukan diri sendiri dan ketergantungan pula
pada diri sendiri.
Prinsip: Antropologi beda dengan Sosiologi.
Sosiologi melibatkan kelompok hubungan sosial.
hubungan antara anggota dalam sebuah masyarakat dengan kelompok
kelompok sosial.
Antropologi sangat beda
Contoh: jika anda masuk sebuah gereja di Inggris, anda melihat orang-orang menanggalkan
topi tetapi tetap memakai alas kaki.
Jika anda masuk sebuah mesjid anda memperhatikan orang-orang menanggalkan
alas kaki tetapi tetap mengenakan topi/kupiah.
Tujuan dan fungsi : sama (menunjuk rasa hormat hanya beda caranya)
Contoh lain:
Kaum Arab Badwi Nilotik Afrika
* pengembara * pengembara
* struktur masyarakat beda * struktur masyarakat
* tinggal di kemah * gubuk
* pelihara unta * pelihara sapi
* beragama Islam * berbagai jenis agama
Jadi sangat kompleks bila melihat adat-istiadat.
ANTROPOLOGI SOSIAL
Disusun oleh:
Drs Djaja Hendra M.Si
Untuk Kalangan Sendiri
Program Studi Sosiologi
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS WIDYA MATARAM
YOGYAKARTA
2011
ANTROPOLOGI SOSIAL
Oleh : Djaja Hendra
A. Posisi Antropologi Sosial dalam Ranah Antropologi
Paleo-antropologi
Antropologi Biologi
Antropologi-fisik
Antropologi
Prehistori
Descriptive integration
Etnolinguistik (Ethology)
Antropologi Budaya Etnologi Generalizing approach
(Social Antropology)
Etnopsikologi
Antropologi Spesialisasi Antropologi ekonomi
Antropologi politik
Antropologi Terapan Antropologi kependudukn
Antropologi kesehatan
Antropologi ksehatn jiwa
Antropologi pendidikan
Antropologi perkotaan
Dll
B. Definisi-definisi dan Batasan-batasan
Antropologi anthropos = manusia (baik individu maupun aktivitasnya)
logos = ilmu (pemahaman)
* homo sapiens = manusia yang berpikir
+ sifat-sifat semua jenis manusia, manusia yang telah sirna, tinggal di pedalaman
spesialisasi makin bertambah
+ antropologi budaya/sosial = ilmu yang membahas tentang manusia dan budayanya
+ antropologi sosial dulu digunakan istilah etnologi (ilmu bangsa-bangsa) XIX
• menekan budaya (bukan Eropa, primitive) kemudian
• berkembang ke aneka ragaman budaya dan umum
• menjadi ilmu kebudayaan bagi etnologi
Jadi etnologi X antropologi (lebih luas)
Budaya/sosial antar bangsa beda : - cara makan
- cara mandi (waktu-waktunya)
Antropologi sosial : ia mengkaji tingkah laku sosial umumnya dalam bentuk yang telah dilem –
bagakan seperti:
- persaudaraan
- sistem kekeluargaan
- organisasi politik
- tatacara undang-undang
- keagamaan
- serta hubungan antara semua lembaga tersebut dll
Batasan-batasan
a. Ruang lingkup : segala jenis manusia dan segala jaman serta sejuta tahun lalu hingga kini.
b. Pendekatan : menyeluruh (jenis, pengalaman: sejarah, lingkungan hidup, pola pemukim-
an, sistem religi, politik, ekonomi, kesenian dll) spesialisasi antropologi
c. Pusat perhatian: penduduk yang merupakan masyarakat tunggal (satu daerah dengan bahasa yang sama)
C. Metode dan Teknik Penelitian Antropologi Sosial
1. Merumuskan masalah yang akan diteliti
2. Merumuskan hipotesis
a. teknik observasi elementer
b. memeriksa hasil penelitian terdahulu
c. sumber-smber lain: informasi museum, sensus
3. Rancangan penelitian
4. Langkah pengumpulan data
Pengumpulan Data : a. penelitian kepustakaan
b. penelitian lapangan
c. penelitian laboratorium
Jenis Penelitian : a. deskriptif (memberikan gambaran yang luas tanpa memberikan
penafsiran terhadap penggambaran itu)
b. terangan (berusaha memberikan keterangan tentang saling hu –
bungan antarvariabel yang diteliti)
c. menguji (menguji kebenaran teori/kesimpulan penelitian terda –
hulu dalam bidang yang sama)
Pendekatan : a. historis
b. studi kasus
c. studi lapangan
D. Aliran-aliran dalam Antropologi Sosial
1. Aliran Evolusi
a. Lewis Henry Morgan (1818-1889)
i. Tahap Keliaran
tahap keliaran terendah yaitu dari masa kanak-kanak umat manusia
sampai tingkat berikutnya. Orang hanya makan buah-buahan dll
tahap keliaran menengah yaitu orang berhasil menangkap ikan dan
mengenal api
tahap keliaran tertinggi yaitu manusia telah menemukan anak panah
dan busur untuk berburu
ii. tahap Kebiadaban
• tahap kebiadaban terendah, manusia tela membuat tembikar
• tahap kebiadaban menengah, manusia telah belajar menjinakan binatang, bertani dan membangun rumah
• tahap kebiadaban tertinggi, manusia belajar menempa besi dan semacamnya.
iii tahap Peradaban
Pada tahap ini, orang telah dapat menulis. Mencakup manusia masa
kini yang diikuti dengan bibit-bibit pemikiran.
Perkawinan misalnya, melalui tahap sebagai berikut:
* promiscuitet (campur aduk). Tidak ada aturan, belum ada aturan
tentang seks. Struktur keluarga belum jelas
* perkawinan kelompok. Sekelompok laki-laki beesaudara berhu-
hubungan seks dengan waniya yang masih saudara
* perkawinan kelompok. Tetapi sesame saudara sudah tidak boleh
* masa kebiadaban. Hubungan laaki-laki dengan pasangannya tidak
terlalu ketat dan si wanita tetap bermukim dengan orang lain.
* perkembangan keluarga. Peran suami menonjol dan boleh memili-
ki lebih dari satu istri.
* masa peradaban. Keluarga perkawinan monogamy. Dan keduduk-
an wanita dan pria sama.
b. Edward B.Taylor (1832-1917)
Berpendapat bahwa kebudayaan manusia berkembang dari yang sederhana
menjadi kompleks.
Juga manusia melalui tiga tahap dalam evolusi:
- keliaran
- biadab
- peradaban
Ada persamaan di antara bangsa-bangsa yang berbeda. Dengan demikian
kesatuan jiwa di antara umat manusia yang memungkinkan adanya pene-
muan-penemuan yang parallel hingga menghasilkan sejarah evolusi yang
sama.
Dalam religi: setiap manusia memikirkan ermasuk manusia primitive.
Juga yang meninggal (mati) hanya fisik tetapi rohnya
akan tetap hidup.
Di sini, muncul kepercayaan terhadap roh orang mati.
Muncul agama dan terjadi monoteisme hingga politeisme.
3 kemungkinan muncul monoteisme
a. salah satu dewa menjadi dewa tertinggi
b. sama dengan situasi masyarakat ada dewa tertinggi dan lainnya ada dewa
bangsawan
c. jika manusia telah percaya kepada roh maka sampia kepada makhluk
yang menjiwai di bumi dan langit
Kritik terhadap Tylor tentang agama dating dari RR Marett.
Dikatakan. Terjadinya agama karena rasa takut, cemas atau kagum yang
Dirasakan orang dalam situasi tertentu. Tahap pertama disebut sebagai
tahap pra-animisme.
2. Aliran Determinisme Geografis
“bahwa lingkungan tempat tinggal bukan hanya menentukan kebudayaan materi
tetapi juga menentukan kebudayaan rohani”
meski masuk dalam aliran etnologi tetapi lebih popular dipandang sebagai aliran
sosiologi
Adolf Bastian (1826-1905) “nama Indonesia” bahwa pikiran manusia ditentukan
pula oleh pengaruh lingkungan alam maka timbulah pikiran bangsa. Ini
merupakan keanekaragaman kebudayaan manusia.
Jadi lingkungan geografis mementukan.
3. Aliran Difusionisme
mendasarkan pada aspek penyebaran (difusi) yang berkembang di Jerman dan
Austria.
a. Aliran Jerman=Austria
Pendirinya Leo Frabenius dan F Ratzel.
“pada umumnya gejala kebudayaan itu menyebar dari tempat asalnya ke
berbagai jurusan.
Kemudian dikembangkan oleh Fritz Graebner dan Pater Wilhelm Schmidt
“di dalam kebudayaan itu tidak perlu ada evolusi karena faktor difusi me –
mainkan perananan besar dalam kebudayaan”
Jadi bukan kesamaan proses evolusi melainkan adanya akibat adanya pro-
ses difusi.
Ada unsur linier. Contoh: sampan dari kulit kayu (di oceania) sebagai ke
budayaan yang lebih tua. Kemudian menyebar
ke wilayah lainnya.
memunculkan lapisan-lapisan kebudayaan
4. Aliran Fungsionalisme
Tokohnya: G Elliot Smith, William J Perry dan WHR Rivers.
“bahwa kebudayaan/peradaban tertinggi ada di Mesir kemudian menyebar ke wi-
layah lain setelah ada kontak dengan mereka”.
Ini makin terjadi/berkembang karena pada dasarnya manusia tidak menciptakan
hal-hal baru (malas) dan lebi suka meminjam penemuan dari kebudayaan lain.
5. Aliran Strukturalisme Perancis
Tokoh: Bronislaw Malinowski (orang Polandia, ahli matematika dan mempela-
jari antropologi di Inggris)
Dimulai dari. Ia tinggal dengan penduduk asli pulai Trobriand sambil mengamati
cara hidup mereka.
Mengamati, menguraikan motif-motif tingkah laku mereka. Memunculkan kebu-
tuhan primer dan sekunder.
Tokoh lain: Reginald Radeliffe Brown (1881-1955).
Ia melihat kebudayaan sebagai kebulatan yang mempunyai fungsi.
“ilmu kebudayaan adalah mempelajari fungsi kebudayaan itu dan hukum-hukum yg
berlaku umum sekaligus melaluinya dapat menjelaskan pengertian kebudayaan itu
pada umumnya”.
“selanjutnya satu diantara hukum-hukum itu adalah benda-benda yang berguna bagi
masyarakat dengan sendirinya menjadi suatu pokok dalam upacara ritual”.
Masyarakat disatukan oleh suatu sistem perasaan/sentiment dan sentiment ini tidak
Dibawa sejak lahir melainkan diajarkan kepadanya melalui perbuatan masyarakat.
6. Aliran Ekologi Kebudayaan
Tokoh: Claude Levi-Strauss
“Kebudayaan manusia seperti kesenian, pola hidup sehari-hari, upacara agama dll
adalah sebagai perwakilan lahiriah (surface representation) dari struktur pemikiran
manusia yang mendasarinya”
“gejala kebudayaan terkonsentrasi pada proses kognitif di mana manusia meman-
dang dunis sekitarnya dengan cara mengolong-golongkan (misalnya tumbuhan dan
binatang) bukan semata dengan maksud praktis melainkan juga karena kebutuhan
akan aktivitas intelektual”
Tentang ‘kekerabatan’ dibedakan antara manusia dengan bukan manusia terletak
Pada pantangan incest. Mirip perkawinan eksogami (larangan kawin di dalam ke-
lompok sendiri).
Padahal, perkawinan itu semacam pertukaran diantara dua kelompok (yang dalam
Suatu wadah = masyarakat).
Durkheim, “tanpa masyarakat, manusia tidak ada artinya”. Kesadaran yang tercipta
dalam masyarakat bukan jumlah kesadaran-kesadaran individu melainkan suatu ha-
kekat tersendiri.
7 Aliran Leiden
Dipengaruhi oleh aliran Durhkiem (Perancis) sampai kepada JPB de Jos
selin de Jong di Leiden 1965.
“menekankan organisasi masyarakat erat hubungannya dengan sistem
kekerabatan dan perkawinan. Masyarakat sering terbagi dalam bagian yg
berlawanan tetapi saling melengkapi”
Sifat dualistis digunakan Rassers dalam mitos Jawa “Panji”: menggambar
kan kelahiran, remaja, dewasa dan perkawinan kedua nenek moyang di-
anggap sebagai dewa.
Dalam cerita wayangpun dimana kosmologi orang Jawa bersifat dualistic:
Langit-bumi, dunia atas-bawah, baik dan buruk.
Keseluruan kosmos dikembalikan kepada makhluk asal tertinggi (seorang
tokoh hayal). Ia dianggap sebagai pencipta daripada pemelihara (dalam
upacara-upacara makhluk asal tertinggi kurang ditampilkan).
8. Aliran Psikologi dalam Antropologi
Dipengaruhi Freud dan ahli pendidikan John Dewey (1920).
“hubungan antara kebudayaan dan kepribadian”
Asumsinya: “pengalaman masa kanak-kanak mempengaruhi baik lang-
sung atau tidak terhadap kepribadian masa dewasa”.
Skope diperluas (dunia): perbedaan ciri kepribadian bangsa-bangsa
di dunia adalah cara mengasuh anak yang berbeda.
Contoh:
Latihan buang air besar yang ketat bagi anak-anak Jepang menga-
kibatkan orang Jelang suka memaksa kehendak kepada pihak lain.
Dalam masyarakat beternak dan bertani anak dilatih dalam hal
tanggung jawab.
Ketersediaan bahan pangan tergantung pada usaha mereka
sendiri berpegang teguh pada tatakelakuan rutin.
Ketidaktaatan bisa mengancam ketersediaan bahan makan
an untuk setahun.
Dalam masyarakat berburu dan nelayan kesalahan mungkin ha-
nya membawa akibat pada bahan makanan untuk sehari.
Dalam masyarakat ini, anak-anak dilatih untuk menjadi
merdeka menentukan diri sendiri dan ketergantungan pula
pada diri sendiri.
Prinsip: Antropologi beda dengan Sosiologi.
Sosiologi melibatkan kelompok hubungan sosial.
hubungan antara anggota dalam sebuah masyarakat dengan kelompok
kelompok sosial.
Antropologi sangat beda
Contoh: jika anda masuk sebuah gereja di Inggris, anda melihat orang-orang menanggalkan
topi tetapi tetap memakai alas kaki.
Jika anda masuk sebuah mesjid anda memperhatikan orang-orang menanggalkan
alas kaki tetapi tetap mengenakan topi/kupiah.
Tujuan dan fungsi : sama (menunjuk rasa hormat hanya beda caranya)
Contoh lain:
Kaum Arab Badwi Nilotik Afrika
* pengembara * pengembara
* struktur masyarakat beda * struktur masyarakat
* tinggal di kemah * gubuk
* pelihara unta * pelihara sapi
* beragama Islam * berbagai jenis agama
Jadi sangat kompleks bila melihat adat-istiadat.
Langganan:
Postingan (Atom)